Abu Abdurrahman

Arsip untuk Mei, 2007

Bencana Lidah

In nasehat on Mei 8, 2007 at 12:31 pm

Bencana lidah amat banyak ragamnya, bisa terasa manis dihati dan banyak pemicunya, yang berasal dari tabiat. Tidak ada cara yang bisa menyelamatkan dari bencana ini kecuali diam. Diam bisa menghimpun hasrat dan mengkonsentrasikan pikiran. Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang dagunya (lidah) dan apa yang ada diantara dua kakinya (kemaluan), maka aku menjamin baginya surga.” (diriwayatkan oleh Al-Bukhary, At-Tirmidzy, dan Ahmad)

Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada sesuatu yang membuat seseorang lebih lama mendekam didalam penjara selain dari lidahnya.”

Adapun bencana-bencana perkataan adalah:

Pertama

Perkataan yang tidak dibutuhkan. Ketahuilah bahwa siapa yang mengetahui waktunya, yang merupakan modal pokoknya, tidak akan membelanjakannya kecuali untuk hal-hal berfaidah. Pengetahuan seperti ini mengharuskannya untuk menahan lidahnya dari perkataan yang tidak dibutuhkan. Sebab siapa yang meninggalkan dzikir kepada Allah dan sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan, maka dia seperti orang yang mampu mengambil mutiara, tetapi justru dia mengambil sekepal tanah sebagai gantinya.

Kedua

Melibatkan diri dalam kebatilan, yaitu ikut dalam pembicaraan tentang kedurhakaan, seperti ikut serta ditempat kumpul untuk minum khamr dan tempat berhimpunya orang-orang fasik. Macam-macam kebatilan ini banyak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamm beliau bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang menjerumuskannya kedalam neraka, yang jaraknya lebih dari jarak antara timur dan barat” (Diriwayatkan Al-Bukhary, Muslim, dan Ahmad)

Yang mirip dengan itu adalah perdebatan dan adu mulut, banyak menyerang orang lain untuk membuka kesalahan dan keburukan-keburukannya. Yang mendorong seseorang berbuat seperti itu adalah merasa dirinya hebat.

Dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Orang yang paling dibenci Allah ialah orang yang keras lagi suka bertengkar.” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).

Maksud bertengkar disini ialah bertengkar secara batil atau tanpa dilandasi pengetahuan. Sedangkan orang yang mempunya hak untuk bertengkar, maka sebaiknya ia berusaha untuk menghindari pertengkaran. Sebab pertengkaran bisa membuat dada terasa panas, amarah mendidih, dan menimbulkan kedengkian dan bisa melanggar kehormatan.

Ketiga

Banyak bicara memaksakan diri dengan kata-kata bersajak. Dari Abu Tsa’labah, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang yang paling kubenci dan yang paling jauh jaraknya diantara kalian dan aku pada Hari Kiamat ialah orang yang akhlaknya buruk diantara kalian, banyak bicara dan banyak berkata-kata”

Memaksakan perkataan dengan kalimat bersajak dan dibuat-buat, tidak terhitung dalam perkataan juru pidato. Pemberian peringatan tentang perlu kata-kata yang banyak dan penggunaan kata-kata yang aneh. Sebab yang dimaksudkan dari peringatan itu adalah usaha menggugah hati dan bagaimana agar kata-kata itu bisa merasuk ke hati.

Keempat

Bicara keji, suka mencela dan mengumpat. Semua ini tercela dan dilarang, karena merupakan sumber keburukan dan kehinaan. Dalam hadits disebutkan,

“Jauhilah perkataan keji, karena Allah tidak menyukai perkataan keji dan mengata-ngatai dengan perkataan keji” (Diriwayatkan Ibnu Hibban, Ahmad dan Al-Bukhary dalam Adabul-Mufrad)

Kelima

Bercanda. Adapun bercanda yang ringan-ringan diperbolehkan dan tidak dilarang selagi benar dan jujur. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga suka bercanda dan tidak mengatakan kecuali yang benar. Beliau pernah bersabda kepada seorang laki-laki, “Wahai orang yang berkuping dua.” Beliau juga pernah bersabda kepada laki-laki lain, “Aku akan membawamu diatas punggung anak onta”. Beliau pernah bersabda kepada seorang wanita tua yang meminta agar beliau mendoakan dirinya masuk surga,”Sesungguhnya tidak ada yang masuk surga dalam keadaan tua renta.”Kemudian beliau membaca ayat,

“Dan, Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya” (Al-Waqi-ah: 36-37)

Dalam canda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ini telah disepakati tiga hal:

1. Tidak berbicara kecuali yang benar

2. Sering dilakukan terhadap wanita dan anak-anak serta orang laki-laki lemah yang membutuhkan bimbingan

3. Dilakukan jarang-jarang.

Keenam

Mengejek dan mengolok-olok, Maksud mengejek disini ialah menghina dan mengolok-olok, menyebut aib dan kekurangan seseorang agar ditertawai. Hal ini bisa dilakukan dengan menuturkannya lewat kata-kata atau menggambarkannya lewat perbuatan atau cukup dengan isyarat dan kedipan mata. Semua ini dilarang dalam syari’at, dan larangan ini telah disebutkan didalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Ketujuh

Membocorkan rahasia, melanggar janji, berdusta dalam perkataan dan sumpah. Semua ini dilarang, kecuali yang memang ada keringanan untuk berdusta, seperti dusta dihadapan istri untuk menyenangkannya dan untuk siasat perang.

Kedelapan

Ghibah (menggunjing). al-Quran’an telah menyebutkan larangan ghibah ini dan menyerupakan pelakunya dengan pemakan bangkai. Dalam hadits disebutkan,

“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah haram atas diri kalian” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim) .

Dalam hadits lain disebutkan,

“Jauhilah Ghibah, karena ghibah itu lebih keras daripada zina. Sesungguhnya seseorang telah berzina dan minum (khamr), kemudian bertaubat dan Allah pun mengampuni dosanya. Sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni oleh Allah, hingga orang yang dighibahnya mengampuninya.”

Makna ghibah disini ialah, engkau menyebut-nyebut orang lain yang tidak ada disisimu dengan suatu perkataan yang membuatnya tidak suka jika mendengarnya, baik menyangkut kekurangan pada badannya, seperti penglihatan yang kabur, buta sebelah matanya, kepalanya botak dan lain-lain. atau yang menyangkut nasabnya seperti perkataan “Ayahnya berasal dari rakyat jelata, ayahnya orang india, orang fasik”, atau yang menyangkut pakaiannya seperti perkataan “Pakaiannya longgar, lengan bajunya terlalu lebar”, dan lain-lain

Dalil yang menguatkan hal ini, yaitu saat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya tentang ghibah, maka Beliau menjawab, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya”

Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana pendapat engkau jika pada diri saudarakau itu memang ada yang seperti kataku wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Jika pada diri saudaramu itu ada yang seperti katamu, berarti engkau telah menghibahnya, dan jika dirinya tidak ada yang seperti katamu, berarti engkau telah mendustakannya” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzy)

Ketahuilah bahwa orang yang mendengarkan ghibah juga terlibat dalam perkara ghibah ini, dan dia tidak terlepas dari dosa seperti dosa orang yang mengghibah, kecuali jika dia mengingkari dengan lidahnya, atau minimal dengan hatinya. Jika memungkinkan memotong ghibah itu dengan mengalihkan ke pembicaraan masalah lain, maka hendaklah dia melakukannya.

Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,


“Barangsiapa ada orang Mukmin yang dihinakan di sisinya dan dia sanggup membelanya (namun tidak melakukannya), maka Allah Azza wa Jalla menghinakannya dihadapan banyak orang” (Diriwayatkan Ahmad)

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

“Barangsiapa membela seorang mukmin dari orang munafik yang menggunjingnya, Maka Allah mengutus seorang malaikat yang menjaga dagingnya dari sengatan Neraka Jahannam pada hari Kiamat” (Diriwayatkan Abu Daud, Ahmad, Al-Baghawy, dan Ibnul Mubarak)

[sumber: Mukhtashar Minhajul Qashidin, karangan Abu Qudama]

In Tauhid on Mei 8, 2007 at 11:55 am

Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta

Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah Nabi Khidir (masih hidup) sebagai penjaga di sungai-sungai dan lembah-lembah ; dan apakah ia mampu menolong orang-orang yang tersesat jalan jika memanggilnya ?

Jawaban.
Yang benar menurut para ulama adalah bahwa Nabi Khidir telah wafat sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana tersebut dalam firmanNya Subhanahu wa Ta’ala.

Artinya : Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal ? [Al-Anbiya : 34]

Dan diperkirakan Nabi Khidir masih hidup sampai bertemu dengan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun sesudah itu, maka ada hadits yang menunjukkan bahwa dia meninggal setelah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dengan jarak waktu yang telah ditentukan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang hal ini dengan bersabda.

Artinya : Tidaklah kalian melihat pada malam kalian ini, bahwa sesungguhnya siapa yang umurnya (berkepala) seratus tahun tidak (tersisa) pada hari ini di atas permukaan bumi seorang pun[1]

Atas dasar ini, maka keadaan Nabi Khidir adalah sebagai orang mati yang tidak dapat mendengar panggilan siapa yang memanggilnya, dan tidak mampu menjawab siapa yang menyerunya, dan tidak mampu menunjukkan jalan kepada siapa yang tersesat jalan ketika meminta petunjuknya.

Adapun perkiraan bahwa ia masih hidup sampai saat ini, maka ini adalah masalah ghaib. Keadaannya seperti masalah-masalah ghaib yang lainnya ; tidak boleh kita berdo’a kepadanya dan meminta kebaikan kepadanya dalam keadaan susah maupun senang.

Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan sahabat-shabatnya.

[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da'imah Fatwa I/170 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 08/I/ 1424H]
_________
Foote Note
[1]. Bukhari I/37, 141, 149. Muslim dengan Syarah Nawawi XVI/89, Abu Dawud IV/516, Tirmidzi IV/520

Definisi Sihir : Sihir Menurut Bahasa, Sihir Menurut Syari’at

In sihir on Mei 8, 2007 at 11:53 am

Oleh

Wahid bin Abdissalam Baali

Disalin dari Almanhaj.or.id

[A]. Sihir Menurut Bahasa.

Al-Laits mengatakan, Sihir adalah suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada syaitan dengan bantuannya.Al-Azhari mengemukakan, Dasar pokok sihir adalah memalingkan sesuatu dari hakikat yang sebenarnya kepada yang lainnya [1]. Ibnu Manzur berkata : Seakan-akan tukang sihir memperlihatkan kebathilan dalam wujud kebenaran dan menggambarkan sesuatu tidak seperti hakikat yang sebenarnya. Dengan demikian, dia telah menyihir sesuatu dari hakikat yang sebenarnya atau memalingkannya.[2]

Syamir meriwayatkan dari Ibnu ‘Aisyah, dia mengatakan : Orang Arab menyebut sihir itu dengan kata as-Sihr karena ia menghilangkan kesehatan menjadi sakit. [3]

Ibnu Faris[4] mengemukakan, Sihir berarti menampakkan kebathilan dalam wujud kebenaran. [5] Di dalam kitab Al Mu’jamul Wasiith disebutkan : Sihir adalah sesuatu yang dilakukan secara lembut dan sangat terselubung.[6] Sedangkan didalam kitab Muhiithul Muhiith disebutkan, Sihir adalah tindakan memperlihatkan sesuatu dengan penampilan yang paling bagus, sehingga bisa menipu manusia.[7]

[B]. Sihir Dalam Istilah Syari’at.

Fakhruddin ar-Razi mengemukakan, Menurut istilah Syari’at, sihir hanya khusus berkenaan dengan segala sesuatu yang sebabnya tidak terlihat dan digambarkan tidak seperti hakikat yang sebenarnya, serta berlangsung melalui tipu daya.[8]

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan, Sihir adalah ikatan-ikatan, jampi-jampi, perkataan yang dilontarkan secara lisan maupun tulisan, atau melakukan sesuatu yang mempengaruhi badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa berinteraksi langsung dengannya. Sihir ini mempunyai hakikat, diantaranya ada yang bisa mematikan, membuat sakit, membuat seorang suami tidak dapat mencampuri istrinya atau memisahkan pasangan suami istri, atau membuat salah satu pihak membenci lainnya atau membuat kedua belah pihak saling mencintainya.[9]

Ibnul Qayyim mengungkapkan, Sihir adalah gabungan dari berbagai pengaruh ruh-ruh jahat, serta interaksi berbagai kekuatan alam dengannya.[10]

Kesimpulan.

Sihir adalah kesepakatan antara tukang sihir dan syaitan dengan ketentuan bahwa tukang sihir akan melakukan berbagai keharaman atau kesyirikan dengan imbalan pemberian pertolongan syaitan kepadanya dan ketaatan untuk melakukan apa saja yang dimintanya.

[C]. Beberapa Sarana Tukang Sihir Untuk Mendekati Syaitan.

Diantara tukang sihir itu ada yang menempelkan mushhaf dikedua kakinya, kemudian ia memasuki WC. Ada yang menulis ayat-ayat al-Qur’an dengan kotoran. Ada juga yang menulis ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan darah haid. Juga ada yang menulis ayat-ayat al-Qur’an di kedua telapak kakinya. Ada juga yang menulis Surat al-Faatihah terbalik. Juga ada yang mengerjakan sholat tanpa berwudhu’. Ada yang tetap dalam keadaan junub terus-menerus. Serta ada yang menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada syaitan dengan dengan tidak menyebut nama Allah pada saat menyembelih, lalu membuang sembelihan itu ke suatu tempat yang telah ditentukan syaitan.[11] Dan ada juga yang berbicara dengan binatang-binatang dan bersujud kepadanya. Serta ada juga yang menulis mantra dengan lafazh-lafazh yang mengandung berbagai makna kekufuran.

Dari sini, tampak jelas oleh kita bahwa jin itu tidak akan membantu dan tidak juga mengabdi kepada seorang penyihir kecuali dengan memberikan imbalan. Setiap kali seorang penyihir meningkatkan kekufuran, maka syaitan akan lebih taat kepadanya dan lebih cepat melaksanakan perintahnya. Dan jika tukan sihir tidak sungguh-sungguh melaksanakan berbagai hal yang bersifat kufur yang diperintahkan syaitan, maka syaitan akan menolak mengabdi kepadanya serta menentang perintahnya. Dengan demikian, tukang sihir dan syaitan merupakan teman setia yang bertemu dalam rangka perbuatan kemaksitan kepada Allah.

Jika anda perhatikan wajah tukang sihir, maka dengan jelas anda akan melihat kebenaran apa yang telah saya sampaikan, dimana anda akan mendapatkan gelapnya kekufuran yang memenuhi wajahnya, seakan-akan ia merupakan awan hitam yang pekat.

Jika anda mengenali tukang sihir dari dekat, maka anda akan mendapatkannya hidup dalam kesengsaraan jiwa bersama istri dan anak-anaknya, bahkan dengan dirinya sendri sekalipun. Dia tidak bisa tidur nyenyak dan terus merasa gelisah, bahkan dia akan senantiasa merasa cemas dalam tidur. Selain itu seringkali syaitan-syaitan itu akan menyakiti anak-anaknya atau istrinya serta menimbulkan perpecahan dan perselisihan di antara mereka. Mahabesar Allah Yang Mahaagung yang telah berfirman:

Artinya : Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit [Thaahaa : 124]

[Disalin dari kitab Ash-Shaarimul Battaar Fit Tashaddi Lis Saharatil Asyraar edisi Indonesia Sihir & Guna-Guna Serta Tata Cara Mengobatinya Menurut Al-Qur'an Dan Sunnah, Penulis Wahid bin Abdissalam Baali, Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i]

_________

Foote Note

[1] Tahziibul Lughah (IV/290)

[2] Lisaanul ‘Arab (IV/290).

[3] Ibid

[4]Beliau berkata dalam Maaqayisul Lughah (507), suatu kaum berkata:Sihir adalah mengeluarkan kebathilan dalam bentuk yang haq, dan dikatakan, sihir adalah tipuan. Mereka berdalil dengan perkataan seseorang: Sesungguhnya jika anda menanyakan keberadaan kami, maka kami bagaikan burung dari golongan manusia yang tersihir. Seolah-olah yang dimaksud adalah orang yang tertipu.

[5] Al-Mishbaahul Muniir (267), penerbit al-Maktabah al-Ilmiyyah, Beirut.

[6] Al-Mu’jamul Wasiith (I/419), Darul Fikr.

[7] Muhiithul Muhiith (399), Beirut

[8] Al-Mishbaahul Muniir (268), Beirut

[9] Al-Mughni, (X/104).

[10] Zaadul Ma’aad, (IV/126)

[11] Baca kembali kitab : Wiqaayatul Insaan, (hal. 45).

Pendapat Imam Malik Tentang Tauhid

In Aqidah Imam Malik on Mei 8, 2007 at 11:45 am

1. al-Harawi meriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa Imam Malik pernah ditanya tentang Ilmu Tauhid. Jawab beliau: “Sangat tidak mungkin bila ada orang yang menduga bahwa Nabi mengajari umatnya tentang cara-cara bersuci tetapi tidak mengajari masalah tauhid. Tauhid adalah apa yang disabdakan nabi :”Saya diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan La ilaha illallah (tidak ada ilah selain Allah)”

Maka sesuatu yang dapat menyelamatkan harta dan nyawa (Darah) maka hal itu adalah tauhid yang sebenarnya.

2. Imam ad-Daruquthnu meriwayatkan dari al-Wahid bin Muslim, katanya “Saya bertanya kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, dan al-Laits bin Sa’ad tentang hadits-hadits mengenai sifat-sifat Allah. Mereka menjawab: “Jalankanlah (baca dan pahami) seperti apa adanya.”

3. Imam Ibn ‘Abdil Bar juga menuturkan bahwa Imam Malik pernah ditanya: “Apakah Allah dapat dilihat pada hari kiamat?” Beliau menjawab: “Ya, dapat dilihat. Karena Allah berfirman:

“Wajah-wajah orang mukmin itu pada hari kiamat berseri-seri, kepada Tuhannya wajah-wajah itu melihat” (al-Qiamah, 22-23)

Dan Allah berfirman tentang golongan lain :

Tidak demikian. Mereka (orang-orang kafir) itu pada hari kiamat benar-benar terhalang hijab (tabir), tak dapat melihat Tuhan mereka” (al-muthaffifin : 15)

Qadhi ‘Iyadh juga menuturkan dalam kitab Tartib al-Madarik. II/42, dari Ibn Nafi’ dan Asyhab, keduanya berkata: “Wahai Abu Abdillah -panggilan akrab Imam Malik-, apakah benar orang-orang yang mukmin dapat melihat Allah?. “Ya, dengan kedua mata ini”, jawab Imam Malik. Kemudian salah seorang dari kedua orang itu berkata: “Ada sementara orang yang berkata bahwa Allah itu tidak dapat dilihat. Kata melihat dalam ayat itu maksudnya adalah menunggu pahala.

Imam Malik menjawab: “Tidak benar benar mereka”. Yang benar adalah Allah dapat dilihat. Apakah kamu tidak membaca firman Allah tentang Nabi Musa:

“Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku, agar dapat melihat-Mu” al-A’raf : 143)

Apakah kamu kira Nabi Musa itu memohon sesuatu yang mustahil dari Tuhannya? Allah kemudian menjawab:

“Kamu tidak akan dapat melihat aku” (al-A’raf : 143)

Maksudnya, Nabi Musa tidak dapat melihat Allah didunia, karena dunia ini tempat kehancuran, dan tidak mungkin sesuatu yang kekal dapat dilihat dengan sesuatu yang dapat hancur. Apabila manusia sudah sampai ke Akhirat (tempat yang kekal), maka mereka dapat melihat sesuatu yang kekal (Allah) dengan sesuatu yang dikekalkan (tubuh manusia di Akhirat).

4. Abu Nu’aim juga menuturkan dari Ja’far bin Abdillah, katanya: ” Kami berada dirumah Malik bin Anas. Kemudian ada orang datang dan bertanya kepadanya, “Wahai Abu Abdillah -panggilan akrab Imam Malik- Allah ar-Rahman bersemayam (istawa) di atas ‘Arsy. Bagaimana Allah bersemayam?”

Mendengar pertanyaan itu, Imam Malik marah. Beliau tidak pernah marah seperti itu. Kemudian beliau melihat tanah sambil memegang-megang kayu ditangannya, lalu beliau mengangkat kepala beliau dan melempar kayu tersebut, lalu berkata: “Cara Allah beristiwa’ tidaklah dapat dicerna oleh akal, sedangkan istiwa’ (bersemayam) itu sendiri dapat dimaklumi mananya. Sedangkan kita wajib mengimaninya, dan menanyakan hal itu adalah bid’ah. Dan saya kira kamulah pelaku bid’ah itu. Kemudian Imam Malik menyuruh orang itu agar dikeluarkan dari rumah beliau.

5. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Yahya bin ar-Rabi, katanya: “Saya berada dirumah Malik, kemudian ada seseorang datang dan bertanya, “Wahai Abu Abdillah -panggilan akrab Imam Malik- apa pendapat anda tentang orang yang menyatakan bahwa al-Quran itu makhluk?

Imam Malik menjawab: “Dia itu kafir zindiq, bunuhlah dia. “Orang tadi bertanya lagi, “Wahai Abu Abdillah, saya hanya sekedar menceritakan pendapat yang pernah saya dengar. “Imam Malik menjawab: “Saya tidak pernah mendengar pendapat itu dari siapapun. Saya hanya mendengar hal itu dari kamu.

6. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Nafi’; katanya: “Imam Malik bin Anas mengatakan, siapa yang berpendapat bahwa al-Qur’an itu makhluk dia harus dihukum cambuk dan di penjara sampai dia bertaubat.

7. Imam Abu Daud juga meriwayatkan dari Abdullah bin Nafi’, katanya: “Imam Malik berkata “Allah dilangit, dan ilmu (pengetahuan) Allah meliputi setiap tempat.

Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Tauhid (2)

In Aqidah Imam Abu Hanifah on Mei 7, 2007 at 8:11 pm

Kedua

Pendapat Imam Abu Hanifah tentang penetapan sifat-sifat Allah dan bantahan terhadap golongan Jahmiyah.

1. Imam Abu Hanifah berkata: “Allah tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk. Murka dan Ridha Allah adalah dua dari sifat Allah yang tidak dapat diketahui keadaannya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allah murka dan ridha. Namun tidak dapat dikatakan bahwa muka Allah adalah siksa-Nya dan ridha Allah adalah pahalanya-Nya.

Kita mensifati Allah sebagaimana Allah mensifati diri-Nya sendiri. Allah adalah Esa, Dzat yang pada-Nya para hamba memohon, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada satupun yang menyamai-Nya. Allah juga hidup, berkuasa, melihat dan mengetahui. “Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka yang menyatakan janji setia kepada Rasul. Tangan Allah tidak seperti tangan makhluk-Nya. Wajah Allah tidk seperti wajah-wajah makhluk-Nya.

2. Imam Abu Hanifah berkata: “Allah juga memiliki tangan, wajah, dan diri seperti disebutkan sendiri oleh Allah dalam al-Qur’an. Maka apa yang disebutkan oleh Allah tentang tangan, wajah dan diri menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat yang tidak boleh direka-reka bentuknya. Dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu artinya kekuasannya-Nya atau Nikmat-Nya, karena hal itu berarti meniadakah sifat-sifat Allah, sebagaimana pendapat yang dipegang ahli qadar dan golongan Mu’tazilah

3. Imam Abu Hanifah juga berkata: “Tidaklah pantas bagi seseorang untuk berbicara tentang Dzat Allah. Tetapi hendaknya iya mensifati Allah dengan sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah sendiri. Ia tidak boleh berbicara tentang Allah dengan pendapatnya sendiri. Maha Suci Allah Rabbu Alamin.

4. Ketika ditanya tentang turunnya Allah, Imam Abu Hanifah menjawab: “Allah itu turun tanpa cara-cara seperti halnya turunnya makhluk.

5. Beliau juga berkata: “Dalam berdo’a kepada Allah, kita memanjatkan doa ke atas, bukan kebawah, karena bawah tidak mengandung sifat Rububiyah dan Uluhiyah sedikitpun.

6. Beliau juga berkata: “Allah itu murka dan ridha. Namun tidak dapat disebutkan bahwa Murka itu siksa-Nya, dan ridha Allah itu pahala-Nya.

7. Beliau juga berkata: “Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya, dan makhluk-Nya juga tidak serupa dengan Allah. Allah itu tetap akan selalu memiliki nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

8. Beliau juga berkata: “Sifat-sifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat makhluk. Allah itu mengetahui tetapi tidak seperti mengetahuinya makhluk. Allah itu mampu (berkuasa) tetapi tidak seperti berkuasanya makhluk. Allah itu melihat tetapi tidak seperti melihatnya makhluk. Allah itu mendengar tetapi tidak seperti mendengarnya makhluk. Dan Allah itu berbicara tetapi tidak seperti berbicaranya makhluk.

9. Beliau juga berkata: “Allah itu tidak boleh disifati dengan sifat-sifat makhluk.

10. Beliau berkata: “Siapa yang mensifati Allah dengan sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir.

11. Beliau juga berkata: “Allah memiliki sifat-sifat dzatiyah dan fi’liyah. Sifat dzatiyah Allah adalah hayah (hidup), qudrah (mampu), ‘ilm (mengetahui), sama’ (mendengar), bashar(melihat), dan iradah (kehendak). Sedangkan sifat-sifat fi’liyah Allah adalah menciptakan, memberi rezki, membuat, dan lain-lain yang berkaitan dengan sifat-sifat perbuatan. Allah tetap dan selalu memiliki asma’-asma’ dan sifat-sifat-Nya.

12. Beliau juga berkata: “Allah tetap melakukan (berbuat) sesuatu. Dan melakukan (berbuat) itu merupakan sifat azali. Yang melakukan (berbuat) adalah Allah, yang dilakukan (objeknya) adalah makhluk dan perbuatan Allah bukanlah makhluk.

13. Beliau juga berkata: “Siapa yang berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku itu dimana, dilangit atau dibumi”, maka orang tersebut telah menjadi kafir. Demikian pula orang yang berkata: “Tuhanku itu diatas ‘arsy. Tetapi saya tidak tau ‘arsy itu dilangit atau dibumi.

14. Ketika ada seorang wanita yang bertanya kepada beliau: Dimana Tuhan Anda yang Anda sembah itu?. Beliau menjawab: “Allah ada dilangit, tidak dibumi”. Kemudian ada seorang bertanya: “Tahukan Anda bahwa Allah berfirman “Allah itu bersama kamu (Surat al hadid : 44)?”

Beliau menjawab: “Ungkapan itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang, “Saya akan selalu bersama-mu”, padahal kamu jauh darinya.

15. Beliau juga berkata: : bahwa Allah itu mempunyai sifat kalam (berfirman) sebelum Allah berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam

16. Kata beliau: “Allah berfirman dengan kalam-Nya, dan kalam adalah sifat azali.

17.Beliau berkata: “al-Qur’an itu kalam Allah tertulis didalam Mushhaf dan tersimpan (terjaga) didalam hati, terbaca oleh lisan, dan diturunkan kepada Nabi Muhammad

18. Kata beliau lagi, “Alqur’an itu bukan makhluk.

Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Tauhid (1)

In Aqidah Imam Abu Hanifah on Mei 7, 2007 at 5:40 pm

Pertama

Aqidah beliau tentang tauhid (Pengesaan Allah) dan tentang tawassul syar’i serta kebatilan tawassul bid’i

1. Imam Abu Hanifah berkata:” Tidakpantas bagi seorang untuk berdia kepada Allah kecuali dengan asma’ Allah. adapun doa yang diizinkan dan diperintahkan adalah keterangan yang terambil dari firman Allah:

“Bagi Allah ada nama-nama yang bagus (al-asm’ al-husna), maka berdo’alah kamu dengan menyebut asma’-asma’ itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang ilhad (tidak percaya) kepada asma’-asma’. Mereka akan diberi balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (al-A’raf: 180)

2. Imam Abu Hanifah berkata: “Makruh hukumnya seseorang berdoa dengan mengatakan; Saya mohon kepadamu berdasarkan hak si Fulan, atau berdasarkan hak para Nabi-mu, atau berdasarkan hal al-Bait al-Haram dan al-Masy’ar al-Haram

3. Imam Abu hanifah berkata: “Tidak pantas seseorang berdoa kepada Allah kecuali dengan menyebut asma’ Allah. Dan saya tidak suka bila ada orang berdoa seraya menyebutkan “dengan sifat-sifat kemuliaan pada ‘arsy-Mu[1], atau dengan menyebutkan “dengan hak makhluk-Mu”

_________
Foote Note.

[1]. Imam Abu hanifah dan Imam Muhammad bin Hasan tidak suka apabila seseorang berdoa dengan menyebutkan, “Wahai Allah, saya mohon kepada-Mu dengan tempat kemuliaan dari ‘arsy-Mu” karena doa seperti ini tidak ada petunjuk tekstual (nash) yang membolehkan.

Sementara Imam Abu Yusuf membolehkan doa seperti itu, karena menurut beliau ada nash dari hadits untuk hal itu, yaitu sebuah hadits dimana Nabi berdoa, “Wahai Allah, saya mohon kepada-Mu dengan tempat-tempat kemuliaan di ‘arsy-Mu dan puncak rahmat dari Kitab-Mu”

Hadits ini ditulis oleh Imam al-Baihaqi dalam kitabnya, Ad-Da’awat al-kabirah, ditulis dalam kitab al-Binayah, IX/382, dan kitab Nasb ar-Rayah, IV/7272. Disanadnya terdapat tiga hal yang dapat menyacatkan hadits; 1) Daud bin Abu ‘Ashim tidak pernah mendengar hadits dari Ibnu Mas’ud. 2)Abdul Malik bin Juraij adalah seorang mudallis (menyembunyikan kecacatan hadits) dan mursil (menyebutkan hadits dengan sanad tidak bersambung). 3) Umar bin Harun dituduh sebagai pendusta.

Oleh karena itu, Ibnu al-Jauzi berkata sebagaimana terdapat dalam kitab, al-Binayah, IX/382, bahwa hadits ini adalah palsu tanpa diragukan lagi dan sanadnya sangat parah seperti anda lihat. Lihat, Tahdzib at-Tahdzib, III/189, VI/405, VII/501, Taqrib at-Tahdzib I/520

[Sumber: Aqidah Imam empat karangan Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais]

Kesepakatan Antara Penyihir Dan Syaitan.

In sihir on Mei 7, 2007 at 5:14 pm

Oleh
Wahid bin Abdissalam Baali

Seringkali terjadi kesepakatan antara tukang sihir dengan syaitan, bahwa pihak pertama, yaitu tukang sihir, akan mengerjakan beberapa kesyirikan, atau kekufuran yang nyata baik secara terselubung maupun terang-terangan sedangkan pihak syaitan akan melayani tukang sihir atau menundukkan orang yang akan melayani si tukang sihir.

Karena kesepakatan itu seringkali terjadi antara tukang sihir dan syaitan dari para pemuka kabilah jin dan syaitan, sehingga sang pemuka ini akan mengeluarkan perintah kepada anggota kabilah yang paling bodoh untuk melayani si tukang sihir ini serta mentaatinya dalam menjalankan semua perintahnya, yaitu memberitahukan berbagai hal yang telah terjadi atau melakukan upaya memisahkan dua belah pihak atau menyatukan cinta dua orang, atau menghalangi seorang suami agar tidak dapat mencampuri istrinya dan sebagainya. Perkara-perkara ini akan kita bahas dengan rinci, (pada pembahasan berikutnya), insya Allah Ta’ala.

Selanjutnya si tukang sihir mengerahkan jin ini untuk mengerjakan perbuatan jahat yang dia inginkan. Jika si jin tidak mentaatinya, maka dia akan mendekati pemuka kabilah jin itu dengan menggunakan berbagai macam jimat yang isinya berupa pengagungan pemuka kabilah ini seraya meminta pertolongan kepadanya dengan menyisihkan Allah Ta’ala. Maka, si pemuka jin inipun segera memberikan hukuman kepada jin tersebut dan menyuruhnya agar mentaati si tukang sihir atau dia akan menggantikan dengan jin yang lain untuk melayani tukang sihir yang musyrik itu.

Oleh karena itu kita bisa mendapatkan hubungan antara tukang sihir dengan jin yang ditugaskan untuk melayaninya sebagai hubungan kebencian dan permusuhan. Dan dari sini kita akan dapatkan bahwa jin tersebut seringkali menyakiti istri dan anak-anak tukang sihir itu atau mengganggu harta bendanya atau yang lainnya. Bahkan, terkadang jin itu menyakiti tukang sihir itu sendiri tanpa disadarinya, misalnya pusing yang terus-menerus, gangguan yang sering muncul pada saat tidur, atau kecemasan pada malam hari dan lain sebagainya. Bahkan seringkali tukang sihir yang hina tersebut tidak punya anak, karena jin yang melayaninya telah membunuh janin yang masih ada di dalam rahim sebelum penciptaannya sempurna. Yang demikian itu sudah sangat populer di kalangan para tukang sihir, bahkan sebagian mereka ada yang meninggalkan profesi tukang sihir ini agar mereka bisa mendapatkan keturunan.

Perlu saya ceritakan, saya pernah mengobati seorang wanita yang sedang sakit karena tersihir. Pada saat saya bacakan al-Qur’an di dekatnya, maka jin yang di tugaskan tukang sihir itu berbicara melalui lidah wanita tersebut., Aku tidak bisa keluar dari tubuh wanita ini.Mengapa? tanyaku. Dia pun menjawab, Karena aku takut akan dibunuh oleh si tukang sihir. Selanjutnya, aku tanyakan, Pergilah dari tempat ini ke tempat lain yang tidak diketahui oleh si tukang sihir yang menyuruhmu.âDia pasti akan mengirim jin lain untuk mencariku, sahut jin tersebut.

Kemudian kukatakan kepadanya, Jika kamu mau masuk Islam dan mengumumkan taubatmu dengan penuh kejujuran dan tulus ikhlas, maka kami dengan pertolongan Allah akan mengajarimu beberapa ayat al-Qur’an yang dapat menjaga dan melindungimu dari kejahatan jin-jin kafir. Maka dia pun menjawab, Tidak, aku tidak akan pernah masuk Islam, dan aku akan tetap menjadi pemeluk Nasrani Tidak ada paksaan dalam memeluk agama, tetapi yang paling penting kamu harus keluar dari tubuh wanita ini, pintaku kepadanya. Aku tidak akan keluar dari tubuhnya jawabnya pasti. Kemudian aku katakan, Kalau begitu, dengan pertolongan Allah, sekarang kami bisa membacakan al-Qur’an kepadamu sehingga kamu akan terbakar. Lalu aku memukulnya dengan keras sehingga jin itu menangis. Maka jin itu berkata, Aku akan keluar, aku akan keluar. Selanjutnya, segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, dan segala karunia itu hanya milik-Nya semata, jin itu pun keluar dari tubuhnya.

Sebagaimana diketahui bersama, jika tukang sihir itu semakin kufur dan bertambah jahat, maka jin akan lebih mentaatinya dan akan segera malaksanakan tugas yang diperintahkan kepadanya. Begitu juga sebaliknya.

Pembagian Sihir Menurut Ar-Razi

In sihir on Mei 7, 2007 at 5:11 pm

Oleh Wahid bin Abdissalam Baali

Abu Abdillah Ar-Razi mengungkapkan bahwa macam-macam sihir itu ada delapan, yaitu: [1]. Sihir Orang-Orang Kildan Dan Kisydan Yang Mereka Adalah Penyembah Tujuh Bintang. Mereka meyakini bahwa ketujuh bintang itulah yang mengatur dan mengendalikan alam ini. Menurut mereka, bintang-bintang itu yang membawa kebaikan dan keburukan. Itulah orang-orang yang kepada mereka diutus Nabi Ibrahim Alaihis Salam [2]. Sihir Orang-Orang Yang Suka Berilusi Dan Mempunyai Jiwa Yang Kuat. Mereka berpendapat bahwa wahm (ilusi) itu mempunyai pengaruh, yaitu bahwa manusia dapat berjalan diatas pelepah yang diletakkan diatas permukaan tanah, tetapi dia tidak bisa berjalan diatasnya jika dibentangkan diatas sungai atau semisalnya. Lebih lanjut, Abu Abdillah Ar-Razi mengemukakan bahwa sebagaimana para dokter telah sepakat untuk melarang orang yang suka mimisan (mengeluarkan darah dari hidung) melihat objek yang berwarna merah dan orang yang kesurupan untuk melihat berbagai benda yang mempunyai kilatan sangat kuat untuk yang berputar-putar. Yang demikian itu tidak lain karena jiwa itu diciptakan untuk selalu taat kepada ilusi-ilusi. [3]. Meminta Bantuan Kepada Para Arwah Yang Bersemayam Di Bumi, Yaitu Bangsa Jin. Mereka Ini Terbagi Menjadi Dua Bagian : Jin Mukmin Dan Jin Kafir, Yang Tidak Lain Mereka (Jin Kafir Tersebut) Adalah Syaitan. Selanjutnya, orang-orang yang memproduksi sesuatu dan orang-orang yang suka melakukan eksperimen telah menyaksikan bahwa berhubungan dengan ruh-ruh bumi ini berlangsung melalui amalan-amalan yang cukup mudah dan dengan mantra yang tidak banyak [1], serta kepulan asap. Jenis ini disebut dengan jimat dan usaha melakukan penundukan. [4]. Ilusi, Hipnotis Dan Sulap Dasar pijakan praktek ini adalah bahwa manusia sering kali melakukan kesalahan dan hanya terfokus pada suatu hal saja dan tidak pada yang lainnya. Tidakkah anda memperhatikan pesulap ulung yang memperlihatkan sesuatu yang bisa membuat para penontonnya tercengang serta menarik perhatian mata mereka kepadanya, sehingga apabila pandangan mereka sudah sibuk dan terfokus pada sesuatu itu, maka si pesulap tersebut akan melakukan hal lain dengan cepat, dan pada saat itu akan telihat oleh mereka sesuatu yang blain selain apa yang mereka tunggu-tunggu, sehingga mereka benar-benar sangat heran. Jika si pesulap itu diam dan tidak berbicara untuk mengalihkan pikiran kepada kebalikan dari apa yang ingin ia kerjakan, sedang jiwa dan ilusi terfokus kepada apa yang hendak dikeluarkannya, niscaya para penonton akan mengerti setiap apa yang dikerjakanya. [5]. Berbagai Tindakan Menakjubkan Yang Muncul Dari Hasil Penyusunan Alat-Alat Secara Seimbang Dan Sesuai Dengan Ilmu Rancang Bangun, Misalnya, Seorang (Patung) Penunggang Kuda Yang Memegang Terompet, Setiap Berlalu Satu Jam, Maka Terompet Itu Akan Berbunyi Tanpa Ada Yang Menyentuhnya. Abu Abdillah Ar-Razi mengungkapkan bahwa diantara penyusunan alat-alat ini adalah penyusunan otak jam. Pada hakikatnya, hal tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai sihir, karena ia memiliki sebab musabab yang pasti dan meyakinkan, orang yang benar-benar memperhatikan pasti akan mampu melakukannya juga. Berkenaan dengan hal tersebut, perlu saya (penulis) katakan,Sekarang ini, hal-hal tersebut sudah sangat biasa, apalagi setelah terjadi kemajuan ilmu pengetahuan yang menjadi sebab ditemukannya berbagai hal yang menakjubkan. [6]. Memakai Bantuan Dengan Obat-Obatan Khusus, Yakni Apa Yang Terdapat Pada Makanan Dan Minyak. Abu Abdillah Ar-Razi mengungkapkan: Ketahuilah, tidak ada alasan untuk mengingkari berbagai hal khusus tersebut karena pengaruh magnet itu sudah sangat jelas.” [7]. Ketergantungan Hati. Dalam hal ini, tukang sihir mengaku bahwa dia mengetahui nama yang Maha Agung dan bahwasannya jin mentaati dan tunduk patuh kepada-Nya dalam banyak hal, dan seterusnya. Jika orang yang mendengar itu mempunyai kemampuan akal yang lemah dan mempunyai insting pembeda yang minim, maka dia akan meyakini bahwa yang demikian itu benar, lalu hatinya bergantung kepadanya sehingga muncul dalam dirinya kecemasan dan rasa takut. Dan jika muncul rasa takut, maka akan melemah pula berbagai kekuatan inderawinya. Pada saat itu, akan sangat mungkin bagi tukang sihir untuk mengerjakan apa yang dikehendakinya. [8]. Usaha Melakukan Pergunjingan Dan Pendekatan Diri [2] Dengan Cara Terselubung Dan Nyaris Tidak Terlihat. Dan Hal Itu Sudah Tersebar Luas Di Kalangan Masyarakat. [3] Dan Ibnu Katsir mengatakan:  Ar-Razi telah memasukan banyak macam dari berbagai hal yang telah disebutkan berkenaan dengan seni sihir karena terlalu halus untuk dilihat oleh padangan mata, sebab menurut bahasa, sihir berarti sesuatu yang halus dan sebabnya sangat tersembunyi” [4] [Disalin dari kitab Ash-Shaarimul Battaar Fit Tashaddi Lis Saharatil Asyraar edisi Indonesia Sihir & Guna-Guna Serta Tata Cara Mengobatinya Menurut Al-Qur'an Dan Sunnah, Penulis Wahid bin Abdissalam Baali, Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i] _________ Foote Note. [1]. Tetapi, praktek ini mengandung kekufuran, kemusrikan dan kerugian yang benar-benar nyata [2]. Tafsiir ar-Raazi. (II/231). [3]. Tafsiir Ibnu Katsir (I/147). [4]. Ibid.

Memperindah Masjid Dan Bermegah-Megahan Dengannya

In Hadits on Mei 6, 2007 at 4:02 pm

Oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya. Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang nampak. ________________________________ Diantara tanda-tanda lainnya yang menunjukkan dekatnya kiamat ialah orang-orang memperindah, menghias, bermegah-megahan dalam membangun masjid serta membangga-banggakannya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berasabda. Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga manusia bermegah-megahan dalam membangun masjid. [Musnad Ahmad 3 : 134 dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul Ummal. Al-Albani berkata Shahih. Lihat : Shahih Al-Jami'ush Shagir 6 : 174, hadits nomor 7298] Dan dalam riwayat Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Artinya : Diantara tanda-tanda telah dekatnya kiamat ialah orang-orang bermegah-megahan dalam membangun masjid. [Sunan Nasa'i 2 : 32 dengan syarah As-Suyuti. Al-Albani mengesahkannya dalam Shahih Al-Jami'ush Shaghir 5 : 213, nomor 5771, Shahih Ibnu Khuzaimah 2 : 282, hadits nomor 1322-1323 dengan tahqiq Dr Muhammad Musthafa Al-A'zhami. Beliau berkata =Isnadnya shahih=] Al-Bukhari berkata : Anas berkata, =Orang-orang bermegah-megahan dalam membangun masjid, kemudian mereka tidak memakmurkannya kecuali hanya sedikit. Maka yang dimaksud dengan At-Tabaahii (bermegah-megahan) ialah bersungguh-sungguh dalam memperindah dan menghiasinya. Ibnu Abbas berkata , Sungguh kalian akan memperindah dan menghiasinya sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani memperindah dan menghiasi tempat ibadah mereka [Shahih Bukhari, Kitab Ash-Shalah, Bab Bunyanil Masajid 1 : 539] Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu melarang menghiasi masjid dan memperindahnya, karena yang demikian itu dapat mengganggu shalat seseorang. Dan ketika beliau memerintahkan merehab Masjid Nabawi, beliau berkata, Lindungilah manusia dari hujan, dan janganlah engkau beri warna merah atau kuning karena akan memfitnah (mengganggu) manusia [Shahih Bukhari 1 : 539] Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada Umar, karena orang-orang tidak mau menerapkan wasiatnya, bahkan mereka tidak hanya memberi warna merah atau kuning, tapi sudah lebih dari itu hingga mengukir dan melukis masjid seperti melukis pakaian. Dan para Raja dan Khalifah sudah bermegah-megahan dalam membangun masjid sehingga sangat mengagumkan. Masjid-masjid yang dibangun dengan kemegahan semacam itu sebagaimana yang ada di Syam, Mesir, Maroko, Andalus dan sebagainya. Dan sampai sekarang kaum muslimin senatiasa berlomba-lomba dan bermegah-megahan dalam memperindah dan menghiasi masjid. Tidak disangsikan lagi bahwa memperindah, menghiasi dan bermegah-megahan dalam membangun masjid termasuk perbuatan berlebih-lebihan dan mubadzir. Padahal, memakmurkan masjid itu adalah dengan melaksanakan ketaatan dan berdzikir di dalamnya, dan cukuplah bagi manusia sekiranya mereka sudah terlindung dari panas dan hujan di dalam masjid. Sungguh diancam dengan kehancuran apabila masjid-masjid sudah diperindah dan mushaf-mushaf sudah dihiasi sedemikian rupa. Al-Hakim At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata. “Artinya : Apalagi kamu sudah menghiasi (memperindah) masjid-masjidmu dan mushaf-mushafmu, maka kehancuran akan menimpamu [1] Al-Munawi [2] berkata , =Maka memperindah masjid dan menghiasi mushaf itu terlarang, sebab dapat menggoda hati dan menghilangkan kekhusyu’an, perenungan, dan perasaan hadir di hadapan Allah Ta’ala. Menurut golongan Syafi’iyah, menghiasi masjid atau Ka’bah dengan emas atau perak adalah haram secara mutlak, dan dengan selain emas dan perak hukumnya makruh [Faidhul Qadir 1 : 367]

Kelemahan Hadits-Hadits Tentang Fadhilah Surat Yasin

In Hadits on Mei 6, 2007 at 3:58 pm

Oleh
Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Muqaddimah

Kebanyakan kaum muslimin membiasakan membaca surat Yasin, baik pada malam Jum’at (hari Jum’at menjelang khatib naik mimbar, tambahan-peny), ketika mengawali atau menutup majlis ta’lim, ketika ada atau setelah kematian dan pada acara-acara lain yang mereka anggap penting.

Saking seringnya surat Yasin dijadikan bacaan di berbagai pertemuan dan kesempatan, sehingga mengesankan, Al-Qur’an itu hanyalah berisi surat Yasin saja. Dan kebanyakan orang membacanya memang karena tergiur oleh fadhilah atau keutamaan surat Yasin dari hadits-hadits yang banyak mereka dengar, atau menurut keterangan dari guru mereka.

Al-Qur’an yang di wahyukan Allah adalah terdiri dari 30 juz. Semua surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas, jelas memiliki keutamaan yang setiap umat Islam wajib mengamalkannya. Oleh karena itu sangat dianjurkan agar umat Islam senantiasa membaca Al-Qur’an. Dan kalau sanggup hendaknya menghatamkan Al-Qur’an setiap pekan sekali, atau sepuluh hari sekali, atau dua puluh hari sekali atau khatam setiap bulan sekali. [Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya]

Sebelum melanjutkan pembahasan, yang perlu dicamkan dan diingat dari tulisan ini, adalah dengan membahas masalah ini bukan berarti penulis melarang atau mengharamkan membaca surat Yasin.

Sebagaimana surat-surat Al-Qur’an yang lain, surat Yasin juga harus kita baca. Akan tetapi di sini penulis hanya ingin menjelaskan kesalahan mereka yang menyandarkan tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, untuk menegaskan bahwa tidak ada tauladan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat Yasin setiap malam Jum’at, setiap memulai atau menutup majlis ilmu, ketika dan setelah kematian dan lain-lain.

Mudah-mudahan keterangan berikut ini tidak membuat patah semangat, tetapi malah memotivasi untuk membaca dan menghafalkan seluruh isi Al-Qur’an serta mengamalkannya.

KELEMAHAN HADITS-HADITS TENTANG FADHILAH SURAT YASIN.

Kebanyakan umat Islam membaca surat Yasin karena -sebagaimana dikemukakan di atas- fadhilah dan ganjaran yang disediakan bagi orang yang membacanya. Tetapi, setelah penulis melakukan kajian dan penelitian tentang hadits-hadits yang menerangkan fadhilah surat Yasin, penulis dapati Semuanya Adalah Lemah.

Perlu ditegaskan di sini, jika telah tegak hujjah dan dalil maka kita tidak boleh berdusta atas nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebab ancamannya adalah Neraka. [Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad dan lainnya]

Hadits Dha’if dan Maudhu’

Adapun hadits-hadits yang semuanya dha’if (lemah) dan atau maudhu’ (palsu) yang dijadikan dasar tentang fadhilah surat Yasin diantaranya adalah sebagai berikut :

[1]. “Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin dalam suatu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya dan siapa yang membaca surat Ad-Dukhan pada malam Jum’at maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya”. [Ibnul Jauzi Al-Maudhu'at 1/247]

Keterangan : Hadits ini Palsu

Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata : Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. [Periksa : Al-Maudhu'at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I'tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua'ah hal. 268 No. 944]

[2]. “Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari keridhaan Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya”.

Keterangan : Hadits ini Lemah.

Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). [Periksa : Mizanul I'tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465]

[3]. “Artinya : Siapa yang terus menerus membaca surat Yasin pada setiap malam, kemudian ia mati maka ia mati syahid”.

Keterangan : Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam Shaghir dari Anas, tetapi dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa Al-Azdy, ia seorang pendusta dan dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits. [Periksa : Tuhfatudz Dzakirin, hal. 340, Mizanul I'tidal II : 159-160, Lisanul Mizan III : 44-45].

[4]. “Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin pada permulaan siang (pagi hari) maka akan diluluskan semua hajatnya”.

Keterangan : Hadits ini Lemah.

Ia diriwayatkan oleh Ad-Darimi dari jalur Al-Walid bin Syuja’. Atha’ bin Abi Rabah, pembawa hadits ini tidak pernah bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab ia lahir sekitar tahun 24H dan wafat tahun 114H. [Periksa : Sunan Ad-Darimi 2:457, Misykatul Mashabih, takhrij No. 2177, Mizanul I'tidal III:70 dan Taqribut Tahdzib II:22]

[5]. “Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an dua kali”. [Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman].

Keterangan : Hadits ini Palsu.
[Lihat Dha'if Jamiush Shaghir, No. 5801 oleh Syaikh Al-Albani]

[6]. “Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin satu kali, seolah-olah ia membaca Al-Qur’an sepuluh kali”. [Hadits Riwayat Baihaqi dalam Syu'abul Iman]

Keterangan : Hadits ini Palsu.
[Lihat Dha'if Jami'ush Shagir, No. 5798 oleh Syaikh Al-Albani]

[7]. “Artinya : Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur’an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur’an sepuluh kali”.

Keterangan : Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 3048) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata : Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa : Silsilah Hadits Dha’if No. 169, hal. 202-203) Imam Waqi’ berkata : Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa’i : Muqatil bin Sulaiman sering dusta. [Periksa : Mizanul I'tidal IV:173]

[8]. “Artinya : Siapa yang membaca surat Yasin di pagi hari maka akan dimudahkan (untuknya) urusan hari itu sampai sore. Dan siapa yang membacanya di awal malam (sore hari) maka akan dimudahkan urusannya malam itu sampai pagi”.

Keterangan : Hadits ini Lemah.

Hadits ini diriwayatkan Ad-Darimi 2:457 dari jalur Amr bin Zararah. Dalam sanad hadits ini terdapat Syahr bin Hausyab. Kata Ibnu Hajar : Ia banyak memursalkan hadits dan banyak keliru. [Periksa : Taqrib I:355, Mizanul I'tidal II:283]

[9]. “Artinya : Bacakanlah surat Yasin kepada orang yang akan mati di antara kamu”.

Keterangan : Hadits ini Lemah.

Diantara yang meriwayatkan hadits ini adalah Ibnu Abi Syaibah (4:74 cet. India), Abu Daud No. 3121. Hadits ini lemah karena Abu Utsman, di antara perawi hadits ini adalah seorang yang majhul (tidak diketahui), demikian pula dengan ayahnya. Hadits ini juga mudtharib (goncang sanadnya/tidak jelas).

[10]. “Artinya : Tidak seorang pun akan mati, lalu dibacakan Yasin di sisinya (maksudnya sedang naza’) melainkan Allah akan memudahkan (kematian itu) atasnya”.

Keterangan : Hadits ini Palsu.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan I :188. Dalam sanad hadits ini terdapat Marwan bin Salim Al Jazari. Imam Ahmad dan Nasa’i berkata, ia tidak bisa dipercaya. Imam Bukhari, Muslim dan Abu Hatim berkata, ia munkarul hadits. Kata Abu ‘Arubah Al Harrani, ia sering memalsukan hadits. [Periksa : Mizanul I'tidal IV : 90-91]

Penjelasan.

Abdullah bin Mubarak berkata : Aku berat sangka bahwa orang-orang zindiq (yang pura-pura Islam) itulah yang telah membuat riwayat-riwayat itu (hadits-hadits tentang fadhilah surat-surat tertentu). Dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata : Semua hadits yang mengatakan, barangsiapa membaca surat ini akan diberikan ganjaran begini dan begitu SEMUA HADITS TENTANG ITU ADALAH PALSU. Sesungguhnya orang-orang yang memalsukan hadits-hadits itu telah mengakuinya sendiri. Mereka berkata, tujuan kami membuat hadits-hadits palsu adalah agar manusia sibuk dengan (membaca surat-surat tertentu dari Al-Qur’an) dan menjauhkan mereka dari isi Al-Qur’an yang lain, juga kitab-kitab selain Al-Qur’an. [Periksa : Al-Manarul Munffish Shahih Wadh-Dha'if, hal. 113-115]

Khatimah

Dengan demikian jelaslah bahwa hadit-hadits tentang fadhilah dan keutamaan surat Yasin, semuanya LEMAH dan PALSU. Oleh karena itu, hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk menyatakan keutamaan surat ini dan surat-surat yang lain, dan tidak bisa pula untuk menetapkan ganjaran atau penghapusan dosa bagi mereka yang membaca surat ini. Memang ada hadits-hadits shahih tentang keutamaan surat Al-Qur’an selain surat Yasin, tetapi tidak menyebut soal pahala.

Wallahu A’lam

Inilah Yang Terjadi Setelah Kematianmu.

In Hadits on Mei 6, 2007 at 3:48 pm

bin ‘Azib ra. berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk melakukan ta’ziah atas wafatnya seorang sahabat Anshar. Dan, ketika telah selesai pemakaman, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk menghadap kiblat dan kami duduk disekitarnya yang seakan-akan diatas kepala kami ada burung (ini adalah isyarat agar diam dan tidak membuat kegaduhan setelah pemakaman). Dan saat itu tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang kayu yang ditancapkan kebumi dan beliau memandang ke arah langit, lalu ke bumi. Dan, beliau mengangkat pandangannya dan menundukkannya tiga kali, kemudian Beliau bersabda: “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur, dua atau tiga kali”. Kemudian beliau berkata: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur” sebanyak tiga kali, lalu beliau berkata:

“Sesungguhnya seorang hamba Allah yang beriman jika telah daang kematian untuk meninggalkan dunia dan menuju ke akhirat, maka turun kepadanya para malaikat dari langit dengan muka bersinar bagaikan matahari dengan membara kafan yang halus yang penuh parfum yang harum baunya dari surga, lalu mereka duduk didekatnya. Kemudian datang malaikat yang bertugas mencabut nyawa dan duduk disamping kepalanya, lalu malaikat berkata: “Wahai jiwa yang baik (dalam satu riwayat: Wahai jiwa yang tenang), keluarlah kamu menuju ampunan Allah dan kerelaan-Nya”.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata: “Maka keluarlah ruhnya dengan berjalan pela-pelan seperti mengalirnya tetes air minum, lalu malaikat itu mengambil nyawanya”.

Dalam satu riwayat disebutkan: “Jika ruhnya telah keluar, maka malaikat yang diantara langit dan bumi melakukan shalat jenazah kepadanya, begitu juga malaikat yang dilangit. Dan semua pintu langit dibuka baginya, bahkan setiap penjaga pintu langitpun berdoa, agar ruh orang tersebut naik dari arah pintu mereka”.

Dan ketika malaikat telah mengambil nyawanya, maka nyawa itu langsung diletakkan dalam kafan tersebut. Dan, itulah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang diantara kamu, maka ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami; dan malaikat-malaikat itu tidak melalaikan kewajibannya (QS Al An’am 61)”

Kemudian ruh itu keluar dan diletakkan pada kafan tersebut dengan semerbak baunya seperti misik yang terdapat di bumi.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata: “Kemudian malaikat membawa naik ruh tersebut ke langit. Dan, setiap malaikat tersebut melintasi gerombolan malaikat, mereka pasti berkata: “Ruh siapakah yang baik ini? “Maka malaikat yang membawa ruh tersebut berkata: ” Si fulan bin fulan, dengan menyebutkan namanya yang terbaik ketika didunia.”Dan, ketika sampai kelangit dunia, maka malaikat pembawa ruh itu mohon dibukakan pintu langit, dan pintunya pun langsung dibuka. Dan setiap malaikat yang didekat pintu langit berikutnya selalu menyambutnya. Yang demikian ini hingga sampai kelangit ke tujuh.

Dan ketika telah sampai dilangit ke tuju, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada malaikat:” Tulislah hamb-Ku ini dalam ‘Illiyin.

“Dan tahukan kamu apakah ‘illiyin itu? Yaitu kitab yang bertulis(kan amal manusia) yang disaksikan oleh malaikat-malaikat muqarrabin (yang didekatkan kepada Allah) : QS. Al Muthaffifin : 19-21″

Lalu dia ditulis didalam ‘Illiyin. Kemudian Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kembalikanlah dia kebumni. Sebab Aku telah menjanjikan manusia, bahwa Aku menciptakan mereka dari bumi dan kepada bumi Aku akan mengembalikan mereka. Dan, dari bumi juga Aku akan mengeluarkan mereka untuk kedua kalinya.”

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata: “Kemudian nyawa orang tersebut dikembalikan kebumi dan ruhnya dikembalikan ke jasadnya”. Dan, beliau berkata: “Sungguh, dia mendengar suara gesekan sandal kawan-kawannya ketika mereka pulang dari kubur. Kemudian dia didatangi dua malaikat yang sangat keras suaranya. Lalu keduanya mendudukkan orang tersebut dan keduanya bertanya kepadanya dengan suara yang keras: “Siapa Tuhanmu..”? Maka dia menjawab: “Tuhanku adalah Allah”. Lalu keduanya bertanya:” Apa agamamu..?” Dia menjawab: “Agamaku Islam”. Lalu keduanya bertanya: “Siapakah seorang lelaki yang diutus kepadamu?” Dia menjawab: “Dia adalah Rasulullah, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam”. Lalu keduanya bertanya: “Apa ilmumu?” Dia menjawab: “Saya membaca kitabullah (Alquran), lalu saya beriman kepadanya dan membenarkannya.

Dan, dalam satu riwayat disebutkan: “Maka malaikat itu membentaknya dan bertanya: “Siapakah tuhanmu? Apakah agamamu? Dan siapakah nabimu? Dan, ini adalah akhir ujian bagi orang yang beriman. Yang demikian ini adalah yang dimaksud dengan firman Allah subhanahu wa Ta’ala: “Allah memberikan ketetapan kepada orang-orang yang beriman dengan ucapan yang tabah dalam kehidupan dunia dan akhirat” (QS. Ibrahim : 27)

Maka orang tersebut menjawab: “Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan Nabiku adalah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Kemudian terdapat suara yang memanggil dilangit: “Benar kata hamba-Ku itu. Maka berilah dia hamparan dan pakaian dari surga, dan bukalah pintu surga baginya”. Beliau berkata: “Kemudian ruhnya diberikan bau surga yang terbaik dan kuburnya diluaskan sejauh pandangan matanya”.

Dan, dalam satu riwayat dikatakan: “Setiap amalnya didatangkan kepadanya dengan bentuk seorang lelaki yang sangat tampan mukanya, bagus pakaiannya dan sangat harum baunya. Lalu dia berkata:” bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu. Bergembiralah dengan ridha Allah dn Surga-Nya yang penuh kenikmatan bagi yang menempatinya. Ini adalah harimu yang dijanjijan kepadamu”. Lalu orang yang meninggal itu berkata: “Dan Anda, orang yang serba diberi kebaikan oleh Allah dan diberi wajah yang tampan, Anda itu siapa?”. Maka dia menjawab:”Aku adalah amalmu yang saleh. Demi Allah. Saya tidak mengetahui kamu, melainkan orang yang giat dan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta sangat lambat dalam maksiat kepada Allah. Maka , semoga Allah membalasmu dengan segala kebaikan.

Kemudian dia dibukakan pintu neraka, dan dikatakan kepadanya: “Ini adalah tempatmu, jika kamu maksiat kepada Allah. Semoga Allah menggantikan tempat yang terbaik bagimu” Kemudian dia dibukakan pintu surga, dan dikatakan kepadanya: “Ini adalah tempatmu”. Maka ketika dia melihat apa yang disurga dia berkata:” Ya Rabb, cepatkanlah hari kiamat agar aku kembali membawa harta dan keluargaku”. Lalu dikatakan kepadanya: “Tenanglah, ini adalah tempatmu.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata:” Adapun orang yang kafir (dalam riwayat: orang yang lacur) ketika dia menghadapi kematian, maka dia didatangi oleh malaikat yang sangat keras dan hitam mukanya dengan membawa kain yang kasar dari neraka. Lalu malaikat tersebut duduk didepannya. Kemudian datang malaikat pencabut nyawa kepadanya dan malaikat itu duduk disamping kepalanya. lalu malaikat itu berkata: “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah kamu kepada murka Allah”.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata: Maka malaikat itu mencabik-cabik tubuhnya dan mencabut nyawanya seperti mencabut kain dari duri. Maka keluarlah keringat dinginnya dan uratnya. Dan, semua malaikat yang diantara bumi dan langit mengutuknya, begitu juga malaikat yang dilangit. Dan, semua pintu langit ditutup baginya, sedangkan setiap malaikat yang dipintu langit semuanya berdoa, agar ruhnya tidak melintas disamping mereka.

Kemudian malaikat pencabut nyawa itu mengambil nyawa orang tersebut; dan ketika nyawanya telah dicabut, maka nyawa itu dilemparkan kekain kasar yang dari neraka dan malaikat itu membawa keluar keluar nyawa tersebut dengan bau yang menjijikkan dan baunya sampai dimuka bumi. Lalu malaikat itu membawa naik nyawa tersebut ke langit. Dan, setiap malaikat itu melintasi segerombolan malaikat, maka malaikat-malaikat tersebut berkata: “Ruh siapakah yang buruk ini?” Malaikat yang membawa ruh itu menjawab: “Fulan bin fulan, dengan menyebut namanya yang buruk ketika didunia, maka pintu langit minta dibukakan, tapi pintu itu tidak dibukakan kepadanya. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca : “Tidak dibukakan kepada mereka pintu-pintu langit; dan mereka tidak masuk surga sehingga unta masuk lubang jarum (QS Al A’raf:40).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata:”Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Tulisalah dia didalam sijjin dibumi yang paling bawah. Lalu dikatakan: “Kembalikanlah hamba-Ku ini kebumi. Sebab aku telah menjanjikan mereka, bahwa Aku menciptakan mereka dari bumi dan kepada bumi mereka Aku kembalikan. Kemudian Aku akan keluarkan mereka dari bumi untuk yang kedua kalinya. Maka ruh itu dilemparkan dari langit sampai jatuh ke jasadnya:. Kemudian beliau membaca: “Dan, barangsiapa yang musyrik kepada Allah, maka sesungguhnya dia terlempar dari langit, lalu disambarlah dia oleh burung atau tertiup oleh angin dalam tempat yang jauh (QS. Al Hajj:37) lalu ruh itu dikembalikan ke jasadnya”.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata: “Sungguh, dia itu mendengar gesekan sandal kawan-kawannya ketika mereka meninggalkannya”. Lalu dia didatangi oleh malaikat dan keduanya membentak kepadanya sambil mendudukkannya. Kemudian kedua malaikat itu berkata kepadanya: “Siapa Tuhanmu?” Maka dia menjawab: “Ah.. ah.., saya tidak mengerti”. Lalu kedua malaikat itu berkata: “Apa agamamu?” Dia pun menjawab: “Ah.. ah.., aku tidak tahu?” Kemudian malaikat itu bertanya kepadanya lagi: “Apa yang kamu katakan kepada seorang lelaki yang diutus kepadamu?” Maka dia tidak mengetahui namanya. Dan, dia pun dikasih tahu: “Muhammad”. Maka diapun menjawab :”Ah…ah..saya tidak mengerti. Saya telah mendengar manusia mengatakan itu”. Lalu dikatakan kepadanya: “Kamu tidak mengerti dan kamu tidak membaca Al-Qur’an”. Kemudian datang seruan dari langit: Dia hamba yang pendusta. Maka hamparkan baginya hamparan dari api dan bukalah kepadanya pintu neraka”. Dan orang tersebut merasakan panas dan racun api neraka dan kuburnya menjadi sempit hingga memutuskan tulang-tulang iganya.

Kemudian datang kepadanya seorang lelaki yang sangat buruk wajah dan perangainya, buruk pakaiannya dan sangat busuk baunya. Lalu orang tersebut berkata: “Rasakanlah kejahatan yang kamu lakukan. Ini adalah harimu yang dulu dijanjikan kepadamu”. Maka orang kafir itu berkata: “Dan kamu, orang yang dijadikan Allah buruk dan wajahmu juga sangat buruk, siapakah kamu itu?” Lalu dia menjawab:”Aku adalah amalmu yang buruk. Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, saya tidak melihatmu melainkan sangat lambat untuk taat kepada Allah dan sangat cepat dalam melakukan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, semoga Allah membalasmu dengan keburukan.

Lalu orang tersebut dibentuk dalam rupa manusoia yang buta, tulis dan bisu; dan ditangannya terrdapat martil besar yang kalau digunakan untuk memukul gunung, maka gunung itu akan hancur menjadi debu, maka dia memukul orang kafir dengan martil tersebut sampai hancur menjadi debu. Kemudian Allah mengembalikan orang kafir tersebut menjadi utuh seperti semula, lalu dia dipukul lagi dengan martil tersebut dan dia menjerit keras sekali yang suaranya bisa didengar segala sesuatu kecuali jin dan manusia. kemudian pintu neraka dibuka untuknya dan dia diberi hamparan dari api neraka. Maka dia berkata :” Ya Rabb, janganlah sampai terjadi hari kiamat”

(Sumber : Ahwal AL Qubur Shuwaruha Asbabuha An Najatu Minja, karangan Syaikh Muhammad Majdi Asy-Syahawi – Edisi bahasa indonesia dengan judul “Prahara Alam kubur”)

Bumi Dan Langit Berlapis Tujuh

In Tauhid on Mei 6, 2007 at 11:11 am

Oleh

Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta

Pertanyaan.

Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah di dalam Al-Qur’an Al-Karim atau dalam hadits Nabi Shallallalhu ‘alaihi wa sallam terdapat (keterangan) bahwa bumi berlapis tujuh, karena selama ini kami berbeda pendapat dalam masalah tersebut. Kalau ada, tolong sebutkan dalam surat apa atau hadits Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam mana keterangan tersebut terdapat ! Atas jawabannya kami ucapkan Jazakumullah khairan katsira.

Jawaban

Di dalam Al-Qur’an Al-karim disebutkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan bumi berlapis tujuh, sebagaimana juga langit yang telah Ia ciptakan berlapis tujuh.

Berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Artinya : Allahlah yang menciptakan tujuh langit ; dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah maha berkuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu [Ath-Thalaq : 12]

Didalam hadits shahih disebutkan bahwa bumi berlapis tujuh, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari hadits no.2320 dan Muslim hadits no. 1610 dari Sa’id bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Artinya : Barangsiapa mengambil sejengkal tanah (orang lain) secara zhalim, maka kelak Allah himpitkan kepadanya pada hari kiamat (dengan) tujuh lapis bumi

Di dalam kitab Shahihain (Bukhari no.2321 dan Muslim no.1612) juga tercantum hadits serupa itu dari Aisyah secara marfu.

Semoha shalawat tercurah kepada Nabi, keluarganya dan sahabat-sahabatnya

Hukum Mengatakan Allah Ada Dimana-mana

In Tauhid on Mei 6, 2007 at 10:05 am

Oleh

Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Dalam sebuah siaran radio ditampilakan kisah dengan menggunakan kata-kata:Seorang anak bertanya tentang Allah kepada ayahnya, maka sang ayah menjawab: Allah itu ada dimana-mana. Bagaimana pandangan hukum agama yterhadap jawaban yang menggunakan kalimat semacam ini?

Jawaban.

Jawaban ini batil, merupakan perkataan golongan bid’ah dari aliran Jahmiyah dan Mu’tazilah serta aliran lain yang sejaan dengan mereka. Jawaban yang benar adalah yang di-ikuti oleh Ahli Sunnah wal Jama’ah, yaitu Allah itu ada di langit diatas Arsy, diatas semua mahlukNya. Akan tetapi ilmuNya ada dimana-mana (meliputi segala sesuatu).Hal ini sebagaimana disebutkan didalam beberapa ayat Al Qur’an,hadits-hadits Nabi Shalallahu alaihi wa sallam ,ijma’ dari pendahulu umat ini.Sebgaimana contoh adalah firman Allah:

“Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy [Surat Al A'raf:54]

Didalam Al Qur’an ayat ini tersebut pada 6 tempat. Yang dimaksud dengan ‘bersemayam” menurut Ahli Sunnah ialah pada ketinggian atau berada diatas Arsy sesuai dengan keagungan Allah.Tidak ada yang dapat mengetahui BAGAIMANA bersemayamnya itu,seperti dikatakan oleh Imam Malik ketika beliau ditanya orang tentang hal ini.Beliau menjawab:

“‘Kata bersemayam itu telah kita pahami.Akan tetapi ,bagaimana caranya tidak kita ketahui.Mengimani hal ini adalah wajib,tetapi mempersoalkannya adalah bid’ah.Yang beliau maksudkan dengan mempersoalkannya adalah bid’ah yakni mempersoalkan cara Allah bersemayam diatas Arsy. Pengertian ini beliau peroleh dari gurunya ,Syaikh Rabi’ah bin Abdurrahman yang bersumber dari riawayat Ummu Salamah radhiallahu anha .Hal ini merupakan pendapat semua Ahli Sunnah yang bersumber dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam dan para tokoh Islam sesudahnya.Allah telah menerangkan pada beberapa ayat lainnya bahwa Dia dilangit dan Dia berada diatas, seperti dalam firmanNya:

“Artinya : Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya” [Surat Faathir:10]

“Artinya : Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” [Al Baqarah:255]

“Artinya : Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?, Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku” [Surat Al Mulk:16-17]

Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang dengan jelas memuat penegasan bahwa Allah itu ada di langit, Dia berada diatas. Hal ini sejalan dengan apa yang dimaksud oleh ayat-ayat yang menggunakan kata-kata bersamayam. Dengan demikian dapatlah diketahui perkataan ahlu bid’ah : Allah itu berada dimana-mana, merupakan hal yang sangat batil.Perkataan ini merupakan pernyataan firqoh yang beranggapan bahwa alam ini penjelmaan Allah,suatu aliran bid’ah lagi sesat,bahkan aliran kafir lagi sesat serta mendustakan Allah dan RasulNya Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam . Dikatakan demikian karena dalam riwayat yang sah dari beliau Shalallahu alaihi wa sallam dinyatakan bahwa Allah ada dilangit, sebagaimana sabda beliau Shalallahu alaihi wa sallam :

Alaa ta’manuniy wa anaa amiinu man fis samaa

Artinya : Tidakkah kalian mau percaya kepadaku padahal aku adalah kepercayaan dari Tuhan yang ada di langit. [Bukhari no.4351 kitabul Maghazi ;Muslim no.1064 Kitabuz Zakat]

Hal ini juga disebutkan pada hadits-hadits (tentang) Isra’ Mi’raj, dan lain-lain.