Abu Abdurrahman

Arsip untuk Mei 7th, 2007

Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Tauhid (2)

In Aqidah Imam Abu Hanifah on Mei 7, 2007 at 8:11 pm

Kedua

Pendapat Imam Abu Hanifah tentang penetapan sifat-sifat Allah dan bantahan terhadap golongan Jahmiyah.

1. Imam Abu Hanifah berkata: “Allah tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk. Murka dan Ridha Allah adalah dua dari sifat Allah yang tidak dapat diketahui keadaannya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allah murka dan ridha. Namun tidak dapat dikatakan bahwa muka Allah adalah siksa-Nya dan ridha Allah adalah pahalanya-Nya.

Kita mensifati Allah sebagaimana Allah mensifati diri-Nya sendiri. Allah adalah Esa, Dzat yang pada-Nya para hamba memohon, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada satupun yang menyamai-Nya. Allah juga hidup, berkuasa, melihat dan mengetahui. “Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka yang menyatakan janji setia kepada Rasul. Tangan Allah tidak seperti tangan makhluk-Nya. Wajah Allah tidk seperti wajah-wajah makhluk-Nya.

2. Imam Abu Hanifah berkata: “Allah juga memiliki tangan, wajah, dan diri seperti disebutkan sendiri oleh Allah dalam al-Qur’an. Maka apa yang disebutkan oleh Allah tentang tangan, wajah dan diri menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat yang tidak boleh direka-reka bentuknya. Dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu artinya kekuasannya-Nya atau Nikmat-Nya, karena hal itu berarti meniadakah sifat-sifat Allah, sebagaimana pendapat yang dipegang ahli qadar dan golongan Mu’tazilah

3. Imam Abu Hanifah juga berkata: “Tidaklah pantas bagi seseorang untuk berbicara tentang Dzat Allah. Tetapi hendaknya iya mensifati Allah dengan sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah sendiri. Ia tidak boleh berbicara tentang Allah dengan pendapatnya sendiri. Maha Suci Allah Rabbu Alamin.

4. Ketika ditanya tentang turunnya Allah, Imam Abu Hanifah menjawab: “Allah itu turun tanpa cara-cara seperti halnya turunnya makhluk.

5. Beliau juga berkata: “Dalam berdo’a kepada Allah, kita memanjatkan doa ke atas, bukan kebawah, karena bawah tidak mengandung sifat Rububiyah dan Uluhiyah sedikitpun.

6. Beliau juga berkata: “Allah itu murka dan ridha. Namun tidak dapat disebutkan bahwa Murka itu siksa-Nya, dan ridha Allah itu pahala-Nya.

7. Beliau juga berkata: “Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya, dan makhluk-Nya juga tidak serupa dengan Allah. Allah itu tetap akan selalu memiliki nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

8. Beliau juga berkata: “Sifat-sifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat makhluk. Allah itu mengetahui tetapi tidak seperti mengetahuinya makhluk. Allah itu mampu (berkuasa) tetapi tidak seperti berkuasanya makhluk. Allah itu melihat tetapi tidak seperti melihatnya makhluk. Allah itu mendengar tetapi tidak seperti mendengarnya makhluk. Dan Allah itu berbicara tetapi tidak seperti berbicaranya makhluk.

9. Beliau juga berkata: “Allah itu tidak boleh disifati dengan sifat-sifat makhluk.

10. Beliau berkata: “Siapa yang mensifati Allah dengan sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir.

11. Beliau juga berkata: “Allah memiliki sifat-sifat dzatiyah dan fi’liyah. Sifat dzatiyah Allah adalah hayah (hidup), qudrah (mampu), ‘ilm (mengetahui), sama’ (mendengar), bashar(melihat), dan iradah (kehendak). Sedangkan sifat-sifat fi’liyah Allah adalah menciptakan, memberi rezki, membuat, dan lain-lain yang berkaitan dengan sifat-sifat perbuatan. Allah tetap dan selalu memiliki asma’-asma’ dan sifat-sifat-Nya.

12. Beliau juga berkata: “Allah tetap melakukan (berbuat) sesuatu. Dan melakukan (berbuat) itu merupakan sifat azali. Yang melakukan (berbuat) adalah Allah, yang dilakukan (objeknya) adalah makhluk dan perbuatan Allah bukanlah makhluk.

13. Beliau juga berkata: “Siapa yang berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku itu dimana, dilangit atau dibumi”, maka orang tersebut telah menjadi kafir. Demikian pula orang yang berkata: “Tuhanku itu diatas ‘arsy. Tetapi saya tidak tau ‘arsy itu dilangit atau dibumi.

14. Ketika ada seorang wanita yang bertanya kepada beliau: Dimana Tuhan Anda yang Anda sembah itu?. Beliau menjawab: “Allah ada dilangit, tidak dibumi”. Kemudian ada seorang bertanya: “Tahukan Anda bahwa Allah berfirman “Allah itu bersama kamu (Surat al hadid : 44)?”

Beliau menjawab: “Ungkapan itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang, “Saya akan selalu bersama-mu”, padahal kamu jauh darinya.

15. Beliau juga berkata: : bahwa Allah itu mempunyai sifat kalam (berfirman) sebelum Allah berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam

16. Kata beliau: “Allah berfirman dengan kalam-Nya, dan kalam adalah sifat azali.

17.Beliau berkata: “al-Qur’an itu kalam Allah tertulis didalam Mushhaf dan tersimpan (terjaga) didalam hati, terbaca oleh lisan, dan diturunkan kepada Nabi Muhammad

18. Kata beliau lagi, “Alqur’an itu bukan makhluk.

Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Tauhid (1)

In Aqidah Imam Abu Hanifah on Mei 7, 2007 at 5:40 pm

Pertama

Aqidah beliau tentang tauhid (Pengesaan Allah) dan tentang tawassul syar’i serta kebatilan tawassul bid’i

1. Imam Abu Hanifah berkata:” Tidakpantas bagi seorang untuk berdia kepada Allah kecuali dengan asma’ Allah. adapun doa yang diizinkan dan diperintahkan adalah keterangan yang terambil dari firman Allah:

“Bagi Allah ada nama-nama yang bagus (al-asm’ al-husna), maka berdo’alah kamu dengan menyebut asma’-asma’ itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang ilhad (tidak percaya) kepada asma’-asma’. Mereka akan diberi balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (al-A’raf: 180)

2. Imam Abu Hanifah berkata: “Makruh hukumnya seseorang berdoa dengan mengatakan; Saya mohon kepadamu berdasarkan hak si Fulan, atau berdasarkan hak para Nabi-mu, atau berdasarkan hal al-Bait al-Haram dan al-Masy’ar al-Haram

3. Imam Abu hanifah berkata: “Tidak pantas seseorang berdoa kepada Allah kecuali dengan menyebut asma’ Allah. Dan saya tidak suka bila ada orang berdoa seraya menyebutkan “dengan sifat-sifat kemuliaan pada ‘arsy-Mu[1], atau dengan menyebutkan “dengan hak makhluk-Mu”

_________
Foote Note.

[1]. Imam Abu hanifah dan Imam Muhammad bin Hasan tidak suka apabila seseorang berdoa dengan menyebutkan, “Wahai Allah, saya mohon kepada-Mu dengan tempat kemuliaan dari ‘arsy-Mu” karena doa seperti ini tidak ada petunjuk tekstual (nash) yang membolehkan.

Sementara Imam Abu Yusuf membolehkan doa seperti itu, karena menurut beliau ada nash dari hadits untuk hal itu, yaitu sebuah hadits dimana Nabi berdoa, “Wahai Allah, saya mohon kepada-Mu dengan tempat-tempat kemuliaan di ‘arsy-Mu dan puncak rahmat dari Kitab-Mu”

Hadits ini ditulis oleh Imam al-Baihaqi dalam kitabnya, Ad-Da’awat al-kabirah, ditulis dalam kitab al-Binayah, IX/382, dan kitab Nasb ar-Rayah, IV/7272. Disanadnya terdapat tiga hal yang dapat menyacatkan hadits; 1) Daud bin Abu ‘Ashim tidak pernah mendengar hadits dari Ibnu Mas’ud. 2)Abdul Malik bin Juraij adalah seorang mudallis (menyembunyikan kecacatan hadits) dan mursil (menyebutkan hadits dengan sanad tidak bersambung). 3) Umar bin Harun dituduh sebagai pendusta.

Oleh karena itu, Ibnu al-Jauzi berkata sebagaimana terdapat dalam kitab, al-Binayah, IX/382, bahwa hadits ini adalah palsu tanpa diragukan lagi dan sanadnya sangat parah seperti anda lihat. Lihat, Tahdzib at-Tahdzib, III/189, VI/405, VII/501, Taqrib at-Tahdzib I/520

[Sumber: Aqidah Imam empat karangan Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais]

Kesepakatan Antara Penyihir Dan Syaitan.

In sihir on Mei 7, 2007 at 5:14 pm

Oleh
Wahid bin Abdissalam Baali

Seringkali terjadi kesepakatan antara tukang sihir dengan syaitan, bahwa pihak pertama, yaitu tukang sihir, akan mengerjakan beberapa kesyirikan, atau kekufuran yang nyata baik secara terselubung maupun terang-terangan sedangkan pihak syaitan akan melayani tukang sihir atau menundukkan orang yang akan melayani si tukang sihir.

Karena kesepakatan itu seringkali terjadi antara tukang sihir dan syaitan dari para pemuka kabilah jin dan syaitan, sehingga sang pemuka ini akan mengeluarkan perintah kepada anggota kabilah yang paling bodoh untuk melayani si tukang sihir ini serta mentaatinya dalam menjalankan semua perintahnya, yaitu memberitahukan berbagai hal yang telah terjadi atau melakukan upaya memisahkan dua belah pihak atau menyatukan cinta dua orang, atau menghalangi seorang suami agar tidak dapat mencampuri istrinya dan sebagainya. Perkara-perkara ini akan kita bahas dengan rinci, (pada pembahasan berikutnya), insya Allah Ta’ala.

Selanjutnya si tukang sihir mengerahkan jin ini untuk mengerjakan perbuatan jahat yang dia inginkan. Jika si jin tidak mentaatinya, maka dia akan mendekati pemuka kabilah jin itu dengan menggunakan berbagai macam jimat yang isinya berupa pengagungan pemuka kabilah ini seraya meminta pertolongan kepadanya dengan menyisihkan Allah Ta’ala. Maka, si pemuka jin inipun segera memberikan hukuman kepada jin tersebut dan menyuruhnya agar mentaati si tukang sihir atau dia akan menggantikan dengan jin yang lain untuk melayani tukang sihir yang musyrik itu.

Oleh karena itu kita bisa mendapatkan hubungan antara tukang sihir dengan jin yang ditugaskan untuk melayaninya sebagai hubungan kebencian dan permusuhan. Dan dari sini kita akan dapatkan bahwa jin tersebut seringkali menyakiti istri dan anak-anak tukang sihir itu atau mengganggu harta bendanya atau yang lainnya. Bahkan, terkadang jin itu menyakiti tukang sihir itu sendiri tanpa disadarinya, misalnya pusing yang terus-menerus, gangguan yang sering muncul pada saat tidur, atau kecemasan pada malam hari dan lain sebagainya. Bahkan seringkali tukang sihir yang hina tersebut tidak punya anak, karena jin yang melayaninya telah membunuh janin yang masih ada di dalam rahim sebelum penciptaannya sempurna. Yang demikian itu sudah sangat populer di kalangan para tukang sihir, bahkan sebagian mereka ada yang meninggalkan profesi tukang sihir ini agar mereka bisa mendapatkan keturunan.

Perlu saya ceritakan, saya pernah mengobati seorang wanita yang sedang sakit karena tersihir. Pada saat saya bacakan al-Qur’an di dekatnya, maka jin yang di tugaskan tukang sihir itu berbicara melalui lidah wanita tersebut., Aku tidak bisa keluar dari tubuh wanita ini.Mengapa? tanyaku. Dia pun menjawab, Karena aku takut akan dibunuh oleh si tukang sihir. Selanjutnya, aku tanyakan, Pergilah dari tempat ini ke tempat lain yang tidak diketahui oleh si tukang sihir yang menyuruhmu.âDia pasti akan mengirim jin lain untuk mencariku, sahut jin tersebut.

Kemudian kukatakan kepadanya, Jika kamu mau masuk Islam dan mengumumkan taubatmu dengan penuh kejujuran dan tulus ikhlas, maka kami dengan pertolongan Allah akan mengajarimu beberapa ayat al-Qur’an yang dapat menjaga dan melindungimu dari kejahatan jin-jin kafir. Maka dia pun menjawab, Tidak, aku tidak akan pernah masuk Islam, dan aku akan tetap menjadi pemeluk Nasrani Tidak ada paksaan dalam memeluk agama, tetapi yang paling penting kamu harus keluar dari tubuh wanita ini, pintaku kepadanya. Aku tidak akan keluar dari tubuhnya jawabnya pasti. Kemudian aku katakan, Kalau begitu, dengan pertolongan Allah, sekarang kami bisa membacakan al-Qur’an kepadamu sehingga kamu akan terbakar. Lalu aku memukulnya dengan keras sehingga jin itu menangis. Maka jin itu berkata, Aku akan keluar, aku akan keluar. Selanjutnya, segala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam, dan segala karunia itu hanya milik-Nya semata, jin itu pun keluar dari tubuhnya.

Sebagaimana diketahui bersama, jika tukang sihir itu semakin kufur dan bertambah jahat, maka jin akan lebih mentaatinya dan akan segera malaksanakan tugas yang diperintahkan kepadanya. Begitu juga sebaliknya.

Pembagian Sihir Menurut Ar-Razi

In sihir on Mei 7, 2007 at 5:11 pm

Oleh Wahid bin Abdissalam Baali

Abu Abdillah Ar-Razi mengungkapkan bahwa macam-macam sihir itu ada delapan, yaitu: [1]. Sihir Orang-Orang Kildan Dan Kisydan Yang Mereka Adalah Penyembah Tujuh Bintang. Mereka meyakini bahwa ketujuh bintang itulah yang mengatur dan mengendalikan alam ini. Menurut mereka, bintang-bintang itu yang membawa kebaikan dan keburukan. Itulah orang-orang yang kepada mereka diutus Nabi Ibrahim Alaihis Salam [2]. Sihir Orang-Orang Yang Suka Berilusi Dan Mempunyai Jiwa Yang Kuat. Mereka berpendapat bahwa wahm (ilusi) itu mempunyai pengaruh, yaitu bahwa manusia dapat berjalan diatas pelepah yang diletakkan diatas permukaan tanah, tetapi dia tidak bisa berjalan diatasnya jika dibentangkan diatas sungai atau semisalnya. Lebih lanjut, Abu Abdillah Ar-Razi mengemukakan bahwa sebagaimana para dokter telah sepakat untuk melarang orang yang suka mimisan (mengeluarkan darah dari hidung) melihat objek yang berwarna merah dan orang yang kesurupan untuk melihat berbagai benda yang mempunyai kilatan sangat kuat untuk yang berputar-putar. Yang demikian itu tidak lain karena jiwa itu diciptakan untuk selalu taat kepada ilusi-ilusi. [3]. Meminta Bantuan Kepada Para Arwah Yang Bersemayam Di Bumi, Yaitu Bangsa Jin. Mereka Ini Terbagi Menjadi Dua Bagian : Jin Mukmin Dan Jin Kafir, Yang Tidak Lain Mereka (Jin Kafir Tersebut) Adalah Syaitan. Selanjutnya, orang-orang yang memproduksi sesuatu dan orang-orang yang suka melakukan eksperimen telah menyaksikan bahwa berhubungan dengan ruh-ruh bumi ini berlangsung melalui amalan-amalan yang cukup mudah dan dengan mantra yang tidak banyak [1], serta kepulan asap. Jenis ini disebut dengan jimat dan usaha melakukan penundukan. [4]. Ilusi, Hipnotis Dan Sulap Dasar pijakan praktek ini adalah bahwa manusia sering kali melakukan kesalahan dan hanya terfokus pada suatu hal saja dan tidak pada yang lainnya. Tidakkah anda memperhatikan pesulap ulung yang memperlihatkan sesuatu yang bisa membuat para penontonnya tercengang serta menarik perhatian mata mereka kepadanya, sehingga apabila pandangan mereka sudah sibuk dan terfokus pada sesuatu itu, maka si pesulap tersebut akan melakukan hal lain dengan cepat, dan pada saat itu akan telihat oleh mereka sesuatu yang blain selain apa yang mereka tunggu-tunggu, sehingga mereka benar-benar sangat heran. Jika si pesulap itu diam dan tidak berbicara untuk mengalihkan pikiran kepada kebalikan dari apa yang ingin ia kerjakan, sedang jiwa dan ilusi terfokus kepada apa yang hendak dikeluarkannya, niscaya para penonton akan mengerti setiap apa yang dikerjakanya. [5]. Berbagai Tindakan Menakjubkan Yang Muncul Dari Hasil Penyusunan Alat-Alat Secara Seimbang Dan Sesuai Dengan Ilmu Rancang Bangun, Misalnya, Seorang (Patung) Penunggang Kuda Yang Memegang Terompet, Setiap Berlalu Satu Jam, Maka Terompet Itu Akan Berbunyi Tanpa Ada Yang Menyentuhnya. Abu Abdillah Ar-Razi mengungkapkan bahwa diantara penyusunan alat-alat ini adalah penyusunan otak jam. Pada hakikatnya, hal tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai sihir, karena ia memiliki sebab musabab yang pasti dan meyakinkan, orang yang benar-benar memperhatikan pasti akan mampu melakukannya juga. Berkenaan dengan hal tersebut, perlu saya (penulis) katakan,Sekarang ini, hal-hal tersebut sudah sangat biasa, apalagi setelah terjadi kemajuan ilmu pengetahuan yang menjadi sebab ditemukannya berbagai hal yang menakjubkan. [6]. Memakai Bantuan Dengan Obat-Obatan Khusus, Yakni Apa Yang Terdapat Pada Makanan Dan Minyak. Abu Abdillah Ar-Razi mengungkapkan: Ketahuilah, tidak ada alasan untuk mengingkari berbagai hal khusus tersebut karena pengaruh magnet itu sudah sangat jelas.” [7]. Ketergantungan Hati. Dalam hal ini, tukang sihir mengaku bahwa dia mengetahui nama yang Maha Agung dan bahwasannya jin mentaati dan tunduk patuh kepada-Nya dalam banyak hal, dan seterusnya. Jika orang yang mendengar itu mempunyai kemampuan akal yang lemah dan mempunyai insting pembeda yang minim, maka dia akan meyakini bahwa yang demikian itu benar, lalu hatinya bergantung kepadanya sehingga muncul dalam dirinya kecemasan dan rasa takut. Dan jika muncul rasa takut, maka akan melemah pula berbagai kekuatan inderawinya. Pada saat itu, akan sangat mungkin bagi tukang sihir untuk mengerjakan apa yang dikehendakinya. [8]. Usaha Melakukan Pergunjingan Dan Pendekatan Diri [2] Dengan Cara Terselubung Dan Nyaris Tidak Terlihat. Dan Hal Itu Sudah Tersebar Luas Di Kalangan Masyarakat. [3] Dan Ibnu Katsir mengatakan:  Ar-Razi telah memasukan banyak macam dari berbagai hal yang telah disebutkan berkenaan dengan seni sihir karena terlalu halus untuk dilihat oleh padangan mata, sebab menurut bahasa, sihir berarti sesuatu yang halus dan sebabnya sangat tersembunyi” [4] [Disalin dari kitab Ash-Shaarimul Battaar Fit Tashaddi Lis Saharatil Asyraar edisi Indonesia Sihir & Guna-Guna Serta Tata Cara Mengobatinya Menurut Al-Qur'an Dan Sunnah, Penulis Wahid bin Abdissalam Baali, Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i] _________ Foote Note. [1]. Tetapi, praktek ini mengandung kekufuran, kemusrikan dan kerugian yang benar-benar nyata [2]. Tafsiir ar-Raazi. (II/231). [3]. Tafsiir Ibnu Katsir (I/147). [4]. Ibid.