Abu Abdurrahman

Arsip untuk Mei 8th, 2007

Bencana Lidah

In nasehat on Mei 8, 2007 at 12:31 pm

Bencana lidah amat banyak ragamnya, bisa terasa manis dihati dan banyak pemicunya, yang berasal dari tabiat. Tidak ada cara yang bisa menyelamatkan dari bencana ini kecuali diam. Diam bisa menghimpun hasrat dan mengkonsentrasikan pikiran. Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang dagunya (lidah) dan apa yang ada diantara dua kakinya (kemaluan), maka aku menjamin baginya surga.” (diriwayatkan oleh Al-Bukhary, At-Tirmidzy, dan Ahmad)

Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada sesuatu yang membuat seseorang lebih lama mendekam didalam penjara selain dari lidahnya.”

Adapun bencana-bencana perkataan adalah:

Pertama

Perkataan yang tidak dibutuhkan. Ketahuilah bahwa siapa yang mengetahui waktunya, yang merupakan modal pokoknya, tidak akan membelanjakannya kecuali untuk hal-hal berfaidah. Pengetahuan seperti ini mengharuskannya untuk menahan lidahnya dari perkataan yang tidak dibutuhkan. Sebab siapa yang meninggalkan dzikir kepada Allah dan sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya tidak diperlukan, maka dia seperti orang yang mampu mengambil mutiara, tetapi justru dia mengambil sekepal tanah sebagai gantinya.

Kedua

Melibatkan diri dalam kebatilan, yaitu ikut dalam pembicaraan tentang kedurhakaan, seperti ikut serta ditempat kumpul untuk minum khamr dan tempat berhimpunya orang-orang fasik. Macam-macam kebatilan ini banyak. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamm beliau bersabda:

Sesungguhnya seorang hamba itu benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang menjerumuskannya kedalam neraka, yang jaraknya lebih dari jarak antara timur dan barat” (Diriwayatkan Al-Bukhary, Muslim, dan Ahmad)

Yang mirip dengan itu adalah perdebatan dan adu mulut, banyak menyerang orang lain untuk membuka kesalahan dan keburukan-keburukannya. Yang mendorong seseorang berbuat seperti itu adalah merasa dirinya hebat.

Dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Orang yang paling dibenci Allah ialah orang yang keras lagi suka bertengkar.” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).

Maksud bertengkar disini ialah bertengkar secara batil atau tanpa dilandasi pengetahuan. Sedangkan orang yang mempunya hak untuk bertengkar, maka sebaiknya ia berusaha untuk menghindari pertengkaran. Sebab pertengkaran bisa membuat dada terasa panas, amarah mendidih, dan menimbulkan kedengkian dan bisa melanggar kehormatan.

Ketiga

Banyak bicara memaksakan diri dengan kata-kata bersajak. Dari Abu Tsa’labah, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang yang paling kubenci dan yang paling jauh jaraknya diantara kalian dan aku pada Hari Kiamat ialah orang yang akhlaknya buruk diantara kalian, banyak bicara dan banyak berkata-kata”

Memaksakan perkataan dengan kalimat bersajak dan dibuat-buat, tidak terhitung dalam perkataan juru pidato. Pemberian peringatan tentang perlu kata-kata yang banyak dan penggunaan kata-kata yang aneh. Sebab yang dimaksudkan dari peringatan itu adalah usaha menggugah hati dan bagaimana agar kata-kata itu bisa merasuk ke hati.

Keempat

Bicara keji, suka mencela dan mengumpat. Semua ini tercela dan dilarang, karena merupakan sumber keburukan dan kehinaan. Dalam hadits disebutkan,

“Jauhilah perkataan keji, karena Allah tidak menyukai perkataan keji dan mengata-ngatai dengan perkataan keji” (Diriwayatkan Ibnu Hibban, Ahmad dan Al-Bukhary dalam Adabul-Mufrad)

Kelima

Bercanda. Adapun bercanda yang ringan-ringan diperbolehkan dan tidak dilarang selagi benar dan jujur. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga suka bercanda dan tidak mengatakan kecuali yang benar. Beliau pernah bersabda kepada seorang laki-laki, “Wahai orang yang berkuping dua.” Beliau juga pernah bersabda kepada laki-laki lain, “Aku akan membawamu diatas punggung anak onta”. Beliau pernah bersabda kepada seorang wanita tua yang meminta agar beliau mendoakan dirinya masuk surga,”Sesungguhnya tidak ada yang masuk surga dalam keadaan tua renta.”Kemudian beliau membaca ayat,

“Dan, Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya” (Al-Waqi-ah: 36-37)

Dalam canda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ini telah disepakati tiga hal:

1. Tidak berbicara kecuali yang benar

2. Sering dilakukan terhadap wanita dan anak-anak serta orang laki-laki lemah yang membutuhkan bimbingan

3. Dilakukan jarang-jarang.

Keenam

Mengejek dan mengolok-olok, Maksud mengejek disini ialah menghina dan mengolok-olok, menyebut aib dan kekurangan seseorang agar ditertawai. Hal ini bisa dilakukan dengan menuturkannya lewat kata-kata atau menggambarkannya lewat perbuatan atau cukup dengan isyarat dan kedipan mata. Semua ini dilarang dalam syari’at, dan larangan ini telah disebutkan didalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Ketujuh

Membocorkan rahasia, melanggar janji, berdusta dalam perkataan dan sumpah. Semua ini dilarang, kecuali yang memang ada keringanan untuk berdusta, seperti dusta dihadapan istri untuk menyenangkannya dan untuk siasat perang.

Kedelapan

Ghibah (menggunjing). al-Quran’an telah menyebutkan larangan ghibah ini dan menyerupakan pelakunya dengan pemakan bangkai. Dalam hadits disebutkan,

“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian adalah haram atas diri kalian” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim) .

Dalam hadits lain disebutkan,

“Jauhilah Ghibah, karena ghibah itu lebih keras daripada zina. Sesungguhnya seseorang telah berzina dan minum (khamr), kemudian bertaubat dan Allah pun mengampuni dosanya. Sedangkan orang yang melakukan ghibah tidak akan diampuni oleh Allah, hingga orang yang dighibahnya mengampuninya.”

Makna ghibah disini ialah, engkau menyebut-nyebut orang lain yang tidak ada disisimu dengan suatu perkataan yang membuatnya tidak suka jika mendengarnya, baik menyangkut kekurangan pada badannya, seperti penglihatan yang kabur, buta sebelah matanya, kepalanya botak dan lain-lain. atau yang menyangkut nasabnya seperti perkataan “Ayahnya berasal dari rakyat jelata, ayahnya orang india, orang fasik”, atau yang menyangkut pakaiannya seperti perkataan “Pakaiannya longgar, lengan bajunya terlalu lebar”, dan lain-lain

Dalil yang menguatkan hal ini, yaitu saat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya tentang ghibah, maka Beliau menjawab, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukainya”

Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana pendapat engkau jika pada diri saudarakau itu memang ada yang seperti kataku wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Jika pada diri saudaramu itu ada yang seperti katamu, berarti engkau telah menghibahnya, dan jika dirinya tidak ada yang seperti katamu, berarti engkau telah mendustakannya” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzy)

Ketahuilah bahwa orang yang mendengarkan ghibah juga terlibat dalam perkara ghibah ini, dan dia tidak terlepas dari dosa seperti dosa orang yang mengghibah, kecuali jika dia mengingkari dengan lidahnya, atau minimal dengan hatinya. Jika memungkinkan memotong ghibah itu dengan mengalihkan ke pembicaraan masalah lain, maka hendaklah dia melakukannya.

Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,


“Barangsiapa ada orang Mukmin yang dihinakan di sisinya dan dia sanggup membelanya (namun tidak melakukannya), maka Allah Azza wa Jalla menghinakannya dihadapan banyak orang” (Diriwayatkan Ahmad)

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

“Barangsiapa membela seorang mukmin dari orang munafik yang menggunjingnya, Maka Allah mengutus seorang malaikat yang menjaga dagingnya dari sengatan Neraka Jahannam pada hari Kiamat” (Diriwayatkan Abu Daud, Ahmad, Al-Baghawy, dan Ibnul Mubarak)

[sumber: Mukhtashar Minhajul Qashidin, karangan Abu Qudama]

In Tauhid on Mei 8, 2007 at 11:55 am

Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta

Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah Nabi Khidir (masih hidup) sebagai penjaga di sungai-sungai dan lembah-lembah ; dan apakah ia mampu menolong orang-orang yang tersesat jalan jika memanggilnya ?

Jawaban.
Yang benar menurut para ulama adalah bahwa Nabi Khidir telah wafat sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana tersebut dalam firmanNya Subhanahu wa Ta’ala.

Artinya : Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal ? [Al-Anbiya : 34]

Dan diperkirakan Nabi Khidir masih hidup sampai bertemu dengan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun sesudah itu, maka ada hadits yang menunjukkan bahwa dia meninggal setelah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dengan jarak waktu yang telah ditentukan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang hal ini dengan bersabda.

Artinya : Tidaklah kalian melihat pada malam kalian ini, bahwa sesungguhnya siapa yang umurnya (berkepala) seratus tahun tidak (tersisa) pada hari ini di atas permukaan bumi seorang pun[1]

Atas dasar ini, maka keadaan Nabi Khidir adalah sebagai orang mati yang tidak dapat mendengar panggilan siapa yang memanggilnya, dan tidak mampu menjawab siapa yang menyerunya, dan tidak mampu menunjukkan jalan kepada siapa yang tersesat jalan ketika meminta petunjuknya.

Adapun perkiraan bahwa ia masih hidup sampai saat ini, maka ini adalah masalah ghaib. Keadaannya seperti masalah-masalah ghaib yang lainnya ; tidak boleh kita berdo’a kepadanya dan meminta kebaikan kepadanya dalam keadaan susah maupun senang.

Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan sahabat-shabatnya.

[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da'imah Fatwa I/170 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 08/I/ 1424H]
_________
Foote Note
[1]. Bukhari I/37, 141, 149. Muslim dengan Syarah Nawawi XVI/89, Abu Dawud IV/516, Tirmidzi IV/520

Definisi Sihir : Sihir Menurut Bahasa, Sihir Menurut Syari’at

In sihir on Mei 8, 2007 at 11:53 am

Oleh

Wahid bin Abdissalam Baali

Disalin dari Almanhaj.or.id

[A]. Sihir Menurut Bahasa.

Al-Laits mengatakan, Sihir adalah suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada syaitan dengan bantuannya.Al-Azhari mengemukakan, Dasar pokok sihir adalah memalingkan sesuatu dari hakikat yang sebenarnya kepada yang lainnya [1]. Ibnu Manzur berkata : Seakan-akan tukang sihir memperlihatkan kebathilan dalam wujud kebenaran dan menggambarkan sesuatu tidak seperti hakikat yang sebenarnya. Dengan demikian, dia telah menyihir sesuatu dari hakikat yang sebenarnya atau memalingkannya.[2]

Syamir meriwayatkan dari Ibnu ‘Aisyah, dia mengatakan : Orang Arab menyebut sihir itu dengan kata as-Sihr karena ia menghilangkan kesehatan menjadi sakit. [3]

Ibnu Faris[4] mengemukakan, Sihir berarti menampakkan kebathilan dalam wujud kebenaran. [5] Di dalam kitab Al Mu’jamul Wasiith disebutkan : Sihir adalah sesuatu yang dilakukan secara lembut dan sangat terselubung.[6] Sedangkan didalam kitab Muhiithul Muhiith disebutkan, Sihir adalah tindakan memperlihatkan sesuatu dengan penampilan yang paling bagus, sehingga bisa menipu manusia.[7]

[B]. Sihir Dalam Istilah Syari’at.

Fakhruddin ar-Razi mengemukakan, Menurut istilah Syari’at, sihir hanya khusus berkenaan dengan segala sesuatu yang sebabnya tidak terlihat dan digambarkan tidak seperti hakikat yang sebenarnya, serta berlangsung melalui tipu daya.[8]

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan, Sihir adalah ikatan-ikatan, jampi-jampi, perkataan yang dilontarkan secara lisan maupun tulisan, atau melakukan sesuatu yang mempengaruhi badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa berinteraksi langsung dengannya. Sihir ini mempunyai hakikat, diantaranya ada yang bisa mematikan, membuat sakit, membuat seorang suami tidak dapat mencampuri istrinya atau memisahkan pasangan suami istri, atau membuat salah satu pihak membenci lainnya atau membuat kedua belah pihak saling mencintainya.[9]

Ibnul Qayyim mengungkapkan, Sihir adalah gabungan dari berbagai pengaruh ruh-ruh jahat, serta interaksi berbagai kekuatan alam dengannya.[10]

Kesimpulan.

Sihir adalah kesepakatan antara tukang sihir dan syaitan dengan ketentuan bahwa tukang sihir akan melakukan berbagai keharaman atau kesyirikan dengan imbalan pemberian pertolongan syaitan kepadanya dan ketaatan untuk melakukan apa saja yang dimintanya.

[C]. Beberapa Sarana Tukang Sihir Untuk Mendekati Syaitan.

Diantara tukang sihir itu ada yang menempelkan mushhaf dikedua kakinya, kemudian ia memasuki WC. Ada yang menulis ayat-ayat al-Qur’an dengan kotoran. Ada juga yang menulis ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan darah haid. Juga ada yang menulis ayat-ayat al-Qur’an di kedua telapak kakinya. Ada juga yang menulis Surat al-Faatihah terbalik. Juga ada yang mengerjakan sholat tanpa berwudhu’. Ada yang tetap dalam keadaan junub terus-menerus. Serta ada yang menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada syaitan dengan dengan tidak menyebut nama Allah pada saat menyembelih, lalu membuang sembelihan itu ke suatu tempat yang telah ditentukan syaitan.[11] Dan ada juga yang berbicara dengan binatang-binatang dan bersujud kepadanya. Serta ada juga yang menulis mantra dengan lafazh-lafazh yang mengandung berbagai makna kekufuran.

Dari sini, tampak jelas oleh kita bahwa jin itu tidak akan membantu dan tidak juga mengabdi kepada seorang penyihir kecuali dengan memberikan imbalan. Setiap kali seorang penyihir meningkatkan kekufuran, maka syaitan akan lebih taat kepadanya dan lebih cepat melaksanakan perintahnya. Dan jika tukan sihir tidak sungguh-sungguh melaksanakan berbagai hal yang bersifat kufur yang diperintahkan syaitan, maka syaitan akan menolak mengabdi kepadanya serta menentang perintahnya. Dengan demikian, tukang sihir dan syaitan merupakan teman setia yang bertemu dalam rangka perbuatan kemaksitan kepada Allah.

Jika anda perhatikan wajah tukang sihir, maka dengan jelas anda akan melihat kebenaran apa yang telah saya sampaikan, dimana anda akan mendapatkan gelapnya kekufuran yang memenuhi wajahnya, seakan-akan ia merupakan awan hitam yang pekat.

Jika anda mengenali tukang sihir dari dekat, maka anda akan mendapatkannya hidup dalam kesengsaraan jiwa bersama istri dan anak-anaknya, bahkan dengan dirinya sendri sekalipun. Dia tidak bisa tidur nyenyak dan terus merasa gelisah, bahkan dia akan senantiasa merasa cemas dalam tidur. Selain itu seringkali syaitan-syaitan itu akan menyakiti anak-anaknya atau istrinya serta menimbulkan perpecahan dan perselisihan di antara mereka. Mahabesar Allah Yang Mahaagung yang telah berfirman:

Artinya : Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit [Thaahaa : 124]

[Disalin dari kitab Ash-Shaarimul Battaar Fit Tashaddi Lis Saharatil Asyraar edisi Indonesia Sihir & Guna-Guna Serta Tata Cara Mengobatinya Menurut Al-Qur'an Dan Sunnah, Penulis Wahid bin Abdissalam Baali, Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i]

_________

Foote Note

[1] Tahziibul Lughah (IV/290)

[2] Lisaanul ‘Arab (IV/290).

[3] Ibid

[4]Beliau berkata dalam Maaqayisul Lughah (507), suatu kaum berkata:Sihir adalah mengeluarkan kebathilan dalam bentuk yang haq, dan dikatakan, sihir adalah tipuan. Mereka berdalil dengan perkataan seseorang: Sesungguhnya jika anda menanyakan keberadaan kami, maka kami bagaikan burung dari golongan manusia yang tersihir. Seolah-olah yang dimaksud adalah orang yang tertipu.

[5] Al-Mishbaahul Muniir (267), penerbit al-Maktabah al-Ilmiyyah, Beirut.

[6] Al-Mu’jamul Wasiith (I/419), Darul Fikr.

[7] Muhiithul Muhiith (399), Beirut

[8] Al-Mishbaahul Muniir (268), Beirut

[9] Al-Mughni, (X/104).

[10] Zaadul Ma’aad, (IV/126)

[11] Baca kembali kitab : Wiqaayatul Insaan, (hal. 45).

Pendapat Imam Malik Tentang Tauhid

In Aqidah Imam Malik on Mei 8, 2007 at 11:45 am

1. al-Harawi meriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa Imam Malik pernah ditanya tentang Ilmu Tauhid. Jawab beliau: “Sangat tidak mungkin bila ada orang yang menduga bahwa Nabi mengajari umatnya tentang cara-cara bersuci tetapi tidak mengajari masalah tauhid. Tauhid adalah apa yang disabdakan nabi :”Saya diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan La ilaha illallah (tidak ada ilah selain Allah)”

Maka sesuatu yang dapat menyelamatkan harta dan nyawa (Darah) maka hal itu adalah tauhid yang sebenarnya.

2. Imam ad-Daruquthnu meriwayatkan dari al-Wahid bin Muslim, katanya “Saya bertanya kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, dan al-Laits bin Sa’ad tentang hadits-hadits mengenai sifat-sifat Allah. Mereka menjawab: “Jalankanlah (baca dan pahami) seperti apa adanya.”

3. Imam Ibn ‘Abdil Bar juga menuturkan bahwa Imam Malik pernah ditanya: “Apakah Allah dapat dilihat pada hari kiamat?” Beliau menjawab: “Ya, dapat dilihat. Karena Allah berfirman:

“Wajah-wajah orang mukmin itu pada hari kiamat berseri-seri, kepada Tuhannya wajah-wajah itu melihat” (al-Qiamah, 22-23)

Dan Allah berfirman tentang golongan lain :

Tidak demikian. Mereka (orang-orang kafir) itu pada hari kiamat benar-benar terhalang hijab (tabir), tak dapat melihat Tuhan mereka” (al-muthaffifin : 15)

Qadhi ‘Iyadh juga menuturkan dalam kitab Tartib al-Madarik. II/42, dari Ibn Nafi’ dan Asyhab, keduanya berkata: “Wahai Abu Abdillah -panggilan akrab Imam Malik-, apakah benar orang-orang yang mukmin dapat melihat Allah?. “Ya, dengan kedua mata ini”, jawab Imam Malik. Kemudian salah seorang dari kedua orang itu berkata: “Ada sementara orang yang berkata bahwa Allah itu tidak dapat dilihat. Kata melihat dalam ayat itu maksudnya adalah menunggu pahala.

Imam Malik menjawab: “Tidak benar benar mereka”. Yang benar adalah Allah dapat dilihat. Apakah kamu tidak membaca firman Allah tentang Nabi Musa:

“Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku, agar dapat melihat-Mu” al-A’raf : 143)

Apakah kamu kira Nabi Musa itu memohon sesuatu yang mustahil dari Tuhannya? Allah kemudian menjawab:

“Kamu tidak akan dapat melihat aku” (al-A’raf : 143)

Maksudnya, Nabi Musa tidak dapat melihat Allah didunia, karena dunia ini tempat kehancuran, dan tidak mungkin sesuatu yang kekal dapat dilihat dengan sesuatu yang dapat hancur. Apabila manusia sudah sampai ke Akhirat (tempat yang kekal), maka mereka dapat melihat sesuatu yang kekal (Allah) dengan sesuatu yang dikekalkan (tubuh manusia di Akhirat).

4. Abu Nu’aim juga menuturkan dari Ja’far bin Abdillah, katanya: ” Kami berada dirumah Malik bin Anas. Kemudian ada orang datang dan bertanya kepadanya, “Wahai Abu Abdillah -panggilan akrab Imam Malik- Allah ar-Rahman bersemayam (istawa) di atas ‘Arsy. Bagaimana Allah bersemayam?”

Mendengar pertanyaan itu, Imam Malik marah. Beliau tidak pernah marah seperti itu. Kemudian beliau melihat tanah sambil memegang-megang kayu ditangannya, lalu beliau mengangkat kepala beliau dan melempar kayu tersebut, lalu berkata: “Cara Allah beristiwa’ tidaklah dapat dicerna oleh akal, sedangkan istiwa’ (bersemayam) itu sendiri dapat dimaklumi mananya. Sedangkan kita wajib mengimaninya, dan menanyakan hal itu adalah bid’ah. Dan saya kira kamulah pelaku bid’ah itu. Kemudian Imam Malik menyuruh orang itu agar dikeluarkan dari rumah beliau.

5. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Yahya bin ar-Rabi, katanya: “Saya berada dirumah Malik, kemudian ada seseorang datang dan bertanya, “Wahai Abu Abdillah -panggilan akrab Imam Malik- apa pendapat anda tentang orang yang menyatakan bahwa al-Quran itu makhluk?

Imam Malik menjawab: “Dia itu kafir zindiq, bunuhlah dia. “Orang tadi bertanya lagi, “Wahai Abu Abdillah, saya hanya sekedar menceritakan pendapat yang pernah saya dengar. “Imam Malik menjawab: “Saya tidak pernah mendengar pendapat itu dari siapapun. Saya hanya mendengar hal itu dari kamu.

6. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Nafi’; katanya: “Imam Malik bin Anas mengatakan, siapa yang berpendapat bahwa al-Qur’an itu makhluk dia harus dihukum cambuk dan di penjara sampai dia bertaubat.

7. Imam Abu Daud juga meriwayatkan dari Abdullah bin Nafi’, katanya: “Imam Malik berkata “Allah dilangit, dan ilmu (pengetahuan) Allah meliputi setiap tempat.