Abu Abdurrahman

Arsip untuk November, 2007

Inna illahi wa innaa ilaihi raji’un

In Berita Duka on November 26, 2007 at 3:08 pm

Pada hari ini, Senin 16 Zulq0′dah 1428 H, bertepatan dengan tanggal 26 November 2007 telah meninggal dunia, guru kami yang tercinta, al-Ustadz Armen Halim Naro dari Riau – Pekanbaru.

Sungguh berita ini telah menyesakkan dada kami, seorang ustadz yang selalu tersenyum, tidak pernah ada kemarahan di muka beliau, selalu bersemangat siang dan malam menyebarkan ilmu, akhirnya meninggalkan kita semua.

Sesungguhnya Allôh tidaklah mencabut ilmu itu dengan cara mencabutnya dari hamba-hamba-Nya secara sekaligus, namun Allôh mencabut ilmu dari dengan cara mewafatkan orang-orang yang berilmu.” (HR al-Bukhârî)

Apalah yang harus saya tuliskan disini, bukanlah saya murid beliau, bukanlah saya sahabat akrab beliau, saya hanya segelintir orang-orang yang sering mendengarkan kajian Riyadhus Shalihin beliau setiap malam jumat di Mesjid Akramunnas, Pekanbaru..

Kalau antum tanya tentang sifat beliau. Itulah beliau yang selalu tersenyum, tidak pernah bermuka masam kepada lawan bicara, tidak pernah saya melihat beliau marah. sungguh terhimpun banyak kebaikan pada diri beliau Rahimahullah

Tanyalah tentang semangat beliau, siang malam menyebar ilmu, tidak pernah absen kalaupun tidak sakit yang memaksa beliau untuk tetap dirumah. Pernah suatu ketika beliau agak tidak enak badan, kajian itu kemudian digantikan oleh Ustad Ali, tapi beliau tetap datang ke pengajian, dan duduk bersama kami.

Tidak pernah saya melihat begitu banyaknya manusia yang datang melayat beliau, sampai-sampai rumah beliau menjadi sempit dengan berdesakannya orang-orang untuk melihat beliau dan mencium kening beliau untuk terakhir kalinya.

Sudah kering rasanya air mata , sudah kelu rasanya lidah, itulah kematian yang tidak seorangpun bisa lari darinya..


Kami telah menentukan kematian diantara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan (QS Al-Waqi’ah :60)

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa beliau, Ya Allah, rahmatilah beliau, lapangkanlah kubur beliau, jadikanlah beliau bersama Hamba-hambaMu yang shalih, dan tempatkanlah beliau di SurgaMu. Amin …

Pekanbaru, pukul 10 malam

Abdillah,

Perbedaan Bentuk Penciptaan Dan Kedudukan Malaikat

In Malaikat on November 18, 2007 at 11:42 pm

Para malaikat tidaklah sama, baik berkenaan dengan bentuk penciptaannya maupun kedudukannya. Sebagaian malaikat ada yang bersayap dua dan sebagian lagi ada yang bersayap tiga. Jibril sendiri mempunyai 600 sayap. Dihadapan Allah, mereka juga mempunyai kedudukan yang berbeda-beda.

Tidak seorangpun diantara kami (malaikat) melainkan baginya kedudukan tertentu (Ash-Shafat: 164)

Berkenaan dengan Jibril, Allah berfirman :


Sesungguhnya (Alquran) itu adalah firman Allah (yang dibawa) utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan disisi yang mempunyai Arasy yang tinggi derajat (At-Takwir: 19-20)

Maksudnya Jibril ini mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia disisi Allah.

Para malaikat yang paling utama adalah yang hadir dalam perang Badar. Dalam Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Rafa’ah bin Rafi’ bahwa Jibril datang menemui Nabid an bertanya,

“Apa pandanganmu terhadap orang-orang yang turut serta dalam perang Badar?” Beliau menjawab , ‘orang-orang terbaik dari kami’. Jibril kemudian berkata: ‘Demikian pula, menurutku, para malaikat yang ikut hadir dalam perang Badar adalah para malaikat pilihan.’ “


Bukan Laki-Laki Bukan Pula Perempuan

Diantara sebab kesesatan manusia ketika berbicara mengenai dunia gaib adalah bahwa sebagian orang yang berupaya menimbang dunia gaib ini dengan timbangan-timbangan manusia yang bersifat keduniaan. Maka sampai ada yang menulis artikel disebuah harian dengan penuh kejeranan bahwa Jibril datang kepada Nabi setelah meminta jawaban dari Allah untuk disampaikan kepada Nabi. Ia mengatakan: Bagaimana ia tiba dalam waktu sekejap itu, yang sungguh diluar perhitungan akal. Cahaya saja membutuhkan jutaan tahun cahaya untuk sampai kepada bintang-bintang dilangit?! Orang ‘miskin’ sama sekali tidak mengerti. Permasalahannya adalah seperti seekor lalat yang ingin mengukur kecepatan pesawat terbang dengan ukurannya sendiri. Jika saja ia mau berfikir, tentu ia akan tahu bahwa alam malaikat mempunyai neraca sendiri yang berbeda sama sekali dengan neraca kita.

Dalam persoalan ini, kaum musyrikin Arab telah tersesat, karena beranggapan malaikat itu adalah wanita. Pendapat yang sangat jauh dari yang sebenarnya ini dicampur dengan khurafat yang lebih besar lagi, dimana mereka menganggap bahwa malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah.

Alquran telah membantah dua hal ini, Alquran menjelaskan bahwa pandangan mereka itu sama sekali tidak bersandar kepada dalil yang benar. Perkataan ini sangatlah kacau. Yang lebih aneh lagi, mereka menisbatkan anak-anak perempuan kepada Allah, namun mereka sendiri tidak suka kepada anak-anak perempuan. Manakala ada salah seorang diantara mereka yang dikaruniai anak perempuan, maka muka mereka menjadi kecut dan tak berkenan hati, bahkan marah-marah. Terkadang mereka bersembunyi dari pergaulan masyarakat, karena mereasa malu atas kabar kelahiran anaknya yang berkelamin perempuan. Perasaan ini terus berkembang, sampai pada puncaknya mereka tega mengubur hidup-hidup bayi perempuan mereka. Perhatikanlah baik-baik ayat berikut, yang menjelaskan khurafat dan sekaligus membantah ahli khurafat itu.

Maka tanyakanlah (hai Muhammad) kepada mereka, “Apakah (patut) bagi Tuhan engkau anak-anak perempuan sedang untuk mereka anak laki-laki. Atau apakah Kami menciptakan malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikannya?” Ketahuilah, sesungguhnya mereka dari kedustaannya mengatakan, “Allah mempunyai anak.” Dan sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Apakah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Mengapa kamu? Bagaimana kamu memutuskan itu? tidakkah kamu mendapat peringatan? atau adakah bagimu bukti yang nyata?  (As-Shafat: 149-156)

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan perkataan mereka ini sebagai saksi, dimana Allah akan memintai pertanggungjawaban mereka. Diantara dosa terbesar adalah mengatakan terhadap Allah tanda dasar pengetahuan.

Dan mereka menjadikan mereka (menganggap) malaikat-malaikat itu perempuan, yang mereka (malaikat) itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kesaksian mereka akan ditulis dan mereka akan ditanya (Az-Zukhruf: 19)

(Insyaallah bersambung…)

In Malaikat on November 17, 2007 at 11:48 am

Allah menciptakan mereka dalam paras yang tampan lagi mulia. Allah berfirman mengenai Jibril,

yang mengajarinya (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai mirah, lalu dia menjelma dengan sempurna (An-Najm: 5-6)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dzu mirah (mempunyai mirah) adalah mempunyai paras yang tampan. Sedangkan Qatadah mengatakan, “Berperawakan tinggi dan tampan.” Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa dzu mirah adalah mempunyai kekuatan (hebat). Kedua pendapat ini tidaklah saling bertentangan, karena disamping kuat, Jibril juga berwajah tampan.

Sudah menjadi pemahaman umum di kalangan manusia bahwa malaikat itu mempunyai rupa yang indah dan tampan, sedangkan setan mempunyai rupa yang buruk. Oleh karena itu, sudah menjadi kebiasaan orang pula menyerupakan ketampanan seseorang dengan malaikat. Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh para wanita yang menyaksikan ketampanan Nabi Yusuf Ash-Shidiq.

Maka tatkala perempuan itu mendengar ejekan mereka, dia mengundang mereka dan disediakannya tempat duduk, kemudian diberinya sebuah pisau kepada mereka masing-masing, lalu dia berkata (kepada Yusuf), “keluarlah menampakkan diri kepada mereka,” Maka tatkala mereka melihatnya, mereka kagum kepadanya dan melukai jari tangannya, seraya berkata, “Maha sempurna Allah, ini bukan manusia. Ini tidak lain hanya malaikat yang mulia” (Yusuf: 31)


Adakah Bentuk Dan Paras Malaikat Sama Dengan Manusia?

Imam Muslim dalam Sahihnya, demikian juga Tirmidzi dalam Sunannya, meriwayatkan hadits dari Jabir r.a. bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda,

Diperlihatkanlah kepadaku para Nabi. Ternyata Nabi Musa itu seperti orang pada umumnya, namun cukup garang. Aku juga melihat Isa putra Maryam. orang yang pernah aku lihat paling mirip dengannya adalah Urwah bin Mas’ud. Aku juga melihat Ibrahim, dan orang yang paling mirip dengannya adalah saya sendiri. Aku melihat Jibril, dan orang yang aku lihat paling mirip dengannya adalah Dihyah.

Apakah kemiripan antara Jibril dan Dihyah Al-kalbi ini adalah dalam paras Jibril yang sesungguhnya ataukah ketika Jibril menjelma dalam bentuk manusia? Pendapat yang lebih kuat adalah yang terakhir. Ini berdasarkan riwayat yang akan kita kemukakan nanti bahwa Jibril seringkali menjelma dalam bentuk manusia berparas mirip Dihyah.

(Insyaallah Bersambung…)

Agungnya Penciptaan Malaikat

In Malaikat on November 15, 2007 at 2:12 pm

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman berkenaan dengan para malaikat penjaga neraka:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari neraka yang (kayu)bakarnya manusia dan batu; yang menjaganya malaikat yang kasar, yang keras, mereka tidak mendurhakai Allah (terhadap) apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (At-Tahrim: 6)

Disini kami hanya menampilkan hadits-hadits yang berbicara mengenai dua malaikat saja.

a. Keagungan penciptaan Jibril.

Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa ia berkata, “Rasulullah shallalahu alaihi wassalam pernah melihat Jibril dalam bentuknya (yang sesungguhnya). Ia mempunyai 600 sayap;  masing-masing sayap menutup cakrawala. Dan setiap sayapnya keluar berwarna-warni mutiara dan yaqut (batu mulia). “Ibnu Katsir mengatakan bahwa isnad hadits ini jayid (bagus).

Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan hadits dengan isnad shahih bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam berkata mengenai Jibril,

“aku melihatnya turun dari langit dan besarnya penciptaan Jibril menutupi ruang antara langit dan bumi”

Ketika menerangkan tentang Jibril ini, Allah berfirman

“Sesungguhnya (Al-Quran) itu adalah firman Allah yang (dibawa) utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan di sisi yang mempunyai Arsy yang tinggi derajat, dipatuhi lagi dipercaya (At-Takwir: 19-21)

Yang dimaksud dengan “utusan mulia” disini adalah Jibril, sedangkan “Pemilik Singasana” adalah Rabul’izzah (Allah).

b. Keagungan Malaikat Penyangga Arasy

Abu Daud meriwatkan dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam bersabda,

Aku telah mendapat izin dari Allah untuk menceritakan tentang salah satu malaikat penyangga Arsy kepada para sahabatku dan semua manusia, yaitu bahwa jarak antara cuping telinga dengan pundaknya saja membutuhkan perjalanan 700 tahun”

Ibnu Abi Hatim mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perjalanan disini adalah perjalanan terbangnya burung. Muhaqqiq kitab Misykat Al-Mashabih mengatakan bahwa isnad hadits ini shahih.

Tabrani dalam Mu’jam Al-awsath meriwayatkan dengan isnand shahih dari Anas r.a bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam bersabda, “Aku telah diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat penyangga Arasy kepada pada sahabatku dan semua manusia yaitu bahwa kedua kakinya dibumi, sdangkan diatas tanduknya adalah ‘Arasy, antara kedua cuping telinganya dengan pundaknya bila ditempuh dengan terbangnya burung adalah 700 tahun”. Malaikat berkata, “Mahasuci Engkau yang telah menjadikanku seperti ini”

Malaikat Memiliki Sayap

Malaikat memiliki sayap, sebagaimana yang telah diterangkan oleh Allah sendiri. Diantara mereka ada yang punya dua sayap, ada yang tiga atau empat, dan ada yang punya lebih banyak lagi.

Allah berfirman,

Segala puji bagi Allah Pencipta Langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap, dua-dua, tiga-tiga, dan empat-empat. Allah menambah apa yang dia kehendaki tentang ciptaanNya. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu. (Fathir: 1)

Maksudnya adalah bahwa Allah menjadikan mereka memiliki sayap, ada yang bersayap dua, tiga, empat dan ada yang lebih banyak lagi. Didepan telah kita kemukakan hadits Nabi yang menceritakan bahwa Jibril mempunyai 600 sayap.

(Insyallah bersambung… )

Sifat dan Kemampuan Malaikat

In Malaikat on November 15, 2007 at 6:07 am

Sifat Penciptaan Malaikat Dan Sesuatu Yang Terkait Dengannya

Materi Penciptaan

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah bin Abu Bakar r.a. dari ayahnya sendiri, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memberitahukan kepada kita bahwa materi yang digunalan oleh Allah untuk menciptakan malaikat adalah nur (cahaya)

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda;

Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah digambarkan pada kalian (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam tidak menjelaskan kepada kita jenis cahaya yang digunakan untuk menciptakan malaikat. Oleh karena itu kita tidak bisa menyelami lebih jauh lagi persoalan ini secara detail. Hal itu termasuk persoalan gaib, dan tidak ada hadits lain yang memberikan penjelasan yang lebih banyak lagi dari hadits ini.

Berkenaan dengan riwayat dari Ikrimah bahwa ia mengatakan, “Malaikat itu diciptakan dari cahaya kemuliaan, sedangkan Iblis diciptakan dari api kemuliaan”, dan juga riwayat dari Abdullah bin Amr bahwa ia berkata, “Allah menciptakan malaikat dari cahaya (yang keluar dari) dua hasta dan dada, “maka keduanya tidak bisa dijadikan pegangan”. Taruhlah riwayat ini memang shahih dari para ulama terkemuka, namun mereka bukanlah manusia yang ma’shum (terjaga dari kesalahan). Boleh jadi mereka mengambilnya dari israiliyat (cerita-cerita yang bersumber dari bani israil)

Kapan Malaikat Diciptakan?

Kita tidak mengetahui kapan malaikat itu diciptakan, karena Allah tidak memberitahukan hal itu. Namun kita mengetahui bahwa mereka diciptakan lebih dahulu dari penciptaan Adam. Allah memberitahukan kepada kita bahwa Ia telah mengumumkan kepada para malaikat bahwa Ia akan menjadi seorang khalifah dimuka bumi.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,


Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah dimuka bumi” (Al baqarah: 30″

Yang dimaksud dengan khalifah disini adalah Adam a.s dan Allah menyuruh mereka agar bersujud kepadanya ketika Allah telah menciptakannya.

Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud(menghormat) (Al-Hijr: 29)

(Insyaallah bersambung…)

In nasehat on November 15, 2007 at 4:15 am

Percakapan ini terjadi antara Syaikh Albani rahimahullah dan seorang wanita dari algeria [didengar dari rekaman suaranya, kemungkinan besar komunikasi ini terjadi melalui telpon, atau ketika diadakannya ceramah oleh Syaikh.

[wanita] : Ya Syaikh! Saya mempunyai berita!

[Syaikh] : Saya berharap Allah merahmatimu dengan berita bagus.

[wanita] : Salah satu akhwat pernah bermimpi, dan saya akan memberitahukannya kepada engkau.

[Syaikh] : Saya berharap dia melihat sesuatu yang baik.

[Wanita] : Ya Syaikh! apakah jika seseorang ingin menceritakan mimpinya kemudian mengatakan “Saya harap kamu melihat sesuatu yang bagus dan berharap itu bagus” Apakah itu sesuai dengan sunnah?”

[Syaikh] : Tidak, ucapan ini tidak ada dalam sunnah, tapi tidak mengapa mengucapkannya

[Wanita]: Seorang teman bermimpi, dalam mimpi itu iya berada dalam sebuah ruangan, yang didalam ruangan itu ada jalan. Dan diatas jalan ini dia melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam [ia mengenalnya dari ciri-cirinya]. Dan dia melihatku berdiri didepan Rasulullah, dan melihat Rasulullah senyum kepadaku, dan aku pun senyum kepada Rasulullah . Kemudian aku memanggil memanggil teman tersebut, dan berkata kepadanya “mendekatlah kemari kepada kami”. Dia pun mendekat dan bertanya kepadaku, siapakah orang yang engkau lihat ini?”

Kemudian aku berkata; “Lihatlah kepada orang yang melihat kepadaku ini” , dia pun melihat Rasulullah.

Rasulullah kemudian tersenyum, dan meneruskan perjalanannya di atas jalan tersebut.

Kami kemudian berjalan bersama (aku dan teman yang menceritakan mimpi ini). Dan ketika kami sedang berjalan, kami melihat seorang Syaikh yang juga sedang berjalan pada jalan yang sama.

Kami pun mengucapkan “Assalamualaikum”

Syaikh tersebut kemudian menjawab “Waalaikumsalam Warrahmatullah wa barakatuh”

Kemudian Syaikh tersebut bertanya kepada kami “Apakah kalian melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam?

Kami menjawab “ya, kami melihat beliau”

Temanku kemudian bertanya kepadaku “Siapakah Syaikh ini?”

Akupun berkata kepadanya “Ini adalah Syaikh Albani”

[akhir dari mimpi]

Wanita yang bercerita itu kemudian berkata “Aku berdoa kepada Allah untuk menjadikan mimpi ini menjadi kabar baik untuk mu Ya Syaikh, dan aku ingin memberitahu , semoga ini menjadi berita baik – insya allah, bahwa engkau telah berjalan di atas jalan sunnah ya Syaikh. Insya allah ta’ala . “bagaimana pendapatmu Syaikh?”

Disini Syaikh tidak mengatakan apapun, air mata beliau terlihat mulai bercucuran dan beliau rahimahullah pun menangis. [tangisan ini sempat terekam selama 2 menit, sebelum kemudian beliau menyuruh orang-orang yang berada disekitar beliau untuk meninggalkan beliau sendiri]

[mohon maaf jika ada kesalahan terjemahan, diambil dari http://www.youtube.com/watch?v=01dxgcAm7_c ]