Abu Abdurrahman

Arsip untuk November 15th, 2007

Agungnya Penciptaan Malaikat

In Malaikat on November 15, 2007 at 2:12 pm

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman berkenaan dengan para malaikat penjaga neraka:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari neraka yang (kayu)bakarnya manusia dan batu; yang menjaganya malaikat yang kasar, yang keras, mereka tidak mendurhakai Allah (terhadap) apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (At-Tahrim: 6)

Disini kami hanya menampilkan hadits-hadits yang berbicara mengenai dua malaikat saja.

a. Keagungan penciptaan Jibril.

Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa ia berkata, “Rasulullah shallalahu alaihi wassalam pernah melihat Jibril dalam bentuknya (yang sesungguhnya). Ia mempunyai 600 sayap;  masing-masing sayap menutup cakrawala. Dan setiap sayapnya keluar berwarna-warni mutiara dan yaqut (batu mulia). “Ibnu Katsir mengatakan bahwa isnad hadits ini jayid (bagus).

Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan hadits dengan isnad shahih bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam berkata mengenai Jibril,

“aku melihatnya turun dari langit dan besarnya penciptaan Jibril menutupi ruang antara langit dan bumi”

Ketika menerangkan tentang Jibril ini, Allah berfirman

“Sesungguhnya (Al-Quran) itu adalah firman Allah yang (dibawa) utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan di sisi yang mempunyai Arsy yang tinggi derajat, dipatuhi lagi dipercaya (At-Takwir: 19-21)

Yang dimaksud dengan “utusan mulia” disini adalah Jibril, sedangkan “Pemilik Singasana” adalah Rabul’izzah (Allah).

b. Keagungan Malaikat Penyangga Arasy

Abu Daud meriwatkan dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam bersabda,

Aku telah mendapat izin dari Allah untuk menceritakan tentang salah satu malaikat penyangga Arsy kepada para sahabatku dan semua manusia, yaitu bahwa jarak antara cuping telinga dengan pundaknya saja membutuhkan perjalanan 700 tahun”

Ibnu Abi Hatim mengatakan bahwa yang dimaksud dengan perjalanan disini adalah perjalanan terbangnya burung. Muhaqqiq kitab Misykat Al-Mashabih mengatakan bahwa isnad hadits ini shahih.

Tabrani dalam Mu’jam Al-awsath meriwayatkan dengan isnand shahih dari Anas r.a bahwa Rasulullah shallalahu alaihi wassalam bersabda, “Aku telah diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat penyangga Arasy kepada pada sahabatku dan semua manusia yaitu bahwa kedua kakinya dibumi, sdangkan diatas tanduknya adalah ‘Arasy, antara kedua cuping telinganya dengan pundaknya bila ditempuh dengan terbangnya burung adalah 700 tahun”. Malaikat berkata, “Mahasuci Engkau yang telah menjadikanku seperti ini”

Malaikat Memiliki Sayap

Malaikat memiliki sayap, sebagaimana yang telah diterangkan oleh Allah sendiri. Diantara mereka ada yang punya dua sayap, ada yang tiga atau empat, dan ada yang punya lebih banyak lagi.

Allah berfirman,

Segala puji bagi Allah Pencipta Langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap, dua-dua, tiga-tiga, dan empat-empat. Allah menambah apa yang dia kehendaki tentang ciptaanNya. Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu. (Fathir: 1)

Maksudnya adalah bahwa Allah menjadikan mereka memiliki sayap, ada yang bersayap dua, tiga, empat dan ada yang lebih banyak lagi. Didepan telah kita kemukakan hadits Nabi yang menceritakan bahwa Jibril mempunyai 600 sayap.

(Insyallah bersambung… )

Sifat dan Kemampuan Malaikat

In Malaikat on November 15, 2007 at 6:07 am

Sifat Penciptaan Malaikat Dan Sesuatu Yang Terkait Dengannya

Materi Penciptaan

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah bin Abu Bakar r.a. dari ayahnya sendiri, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memberitahukan kepada kita bahwa materi yang digunalan oleh Allah untuk menciptakan malaikat adalah nur (cahaya)

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda;

Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah digambarkan pada kalian (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu alaihi wassalam tidak menjelaskan kepada kita jenis cahaya yang digunakan untuk menciptakan malaikat. Oleh karena itu kita tidak bisa menyelami lebih jauh lagi persoalan ini secara detail. Hal itu termasuk persoalan gaib, dan tidak ada hadits lain yang memberikan penjelasan yang lebih banyak lagi dari hadits ini.

Berkenaan dengan riwayat dari Ikrimah bahwa ia mengatakan, “Malaikat itu diciptakan dari cahaya kemuliaan, sedangkan Iblis diciptakan dari api kemuliaan”, dan juga riwayat dari Abdullah bin Amr bahwa ia berkata, “Allah menciptakan malaikat dari cahaya (yang keluar dari) dua hasta dan dada, “maka keduanya tidak bisa dijadikan pegangan”. Taruhlah riwayat ini memang shahih dari para ulama terkemuka, namun mereka bukanlah manusia yang ma’shum (terjaga dari kesalahan). Boleh jadi mereka mengambilnya dari israiliyat (cerita-cerita yang bersumber dari bani israil)

Kapan Malaikat Diciptakan?

Kita tidak mengetahui kapan malaikat itu diciptakan, karena Allah tidak memberitahukan hal itu. Namun kita mengetahui bahwa mereka diciptakan lebih dahulu dari penciptaan Adam. Allah memberitahukan kepada kita bahwa Ia telah mengumumkan kepada para malaikat bahwa Ia akan menjadi seorang khalifah dimuka bumi.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,


Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah dimuka bumi” (Al baqarah: 30″

Yang dimaksud dengan khalifah disini adalah Adam a.s dan Allah menyuruh mereka agar bersujud kepadanya ketika Allah telah menciptakannya.

Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud(menghormat) (Al-Hijr: 29)

(Insyaallah bersambung…)

In nasehat on November 15, 2007 at 4:15 am

Percakapan ini terjadi antara Syaikh Albani rahimahullah dan seorang wanita dari algeria [didengar dari rekaman suaranya, kemungkinan besar komunikasi ini terjadi melalui telpon, atau ketika diadakannya ceramah oleh Syaikh.

[wanita] : Ya Syaikh! Saya mempunyai berita!

[Syaikh] : Saya berharap Allah merahmatimu dengan berita bagus.

[wanita] : Salah satu akhwat pernah bermimpi, dan saya akan memberitahukannya kepada engkau.

[Syaikh] : Saya berharap dia melihat sesuatu yang baik.

[Wanita] : Ya Syaikh! apakah jika seseorang ingin menceritakan mimpinya kemudian mengatakan “Saya harap kamu melihat sesuatu yang bagus dan berharap itu bagus” Apakah itu sesuai dengan sunnah?”

[Syaikh] : Tidak, ucapan ini tidak ada dalam sunnah, tapi tidak mengapa mengucapkannya

[Wanita]: Seorang teman bermimpi, dalam mimpi itu iya berada dalam sebuah ruangan, yang didalam ruangan itu ada jalan. Dan diatas jalan ini dia melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam [ia mengenalnya dari ciri-cirinya]. Dan dia melihatku berdiri didepan Rasulullah, dan melihat Rasulullah senyum kepadaku, dan aku pun senyum kepada Rasulullah . Kemudian aku memanggil memanggil teman tersebut, dan berkata kepadanya “mendekatlah kemari kepada kami”. Dia pun mendekat dan bertanya kepadaku, siapakah orang yang engkau lihat ini?”

Kemudian aku berkata; “Lihatlah kepada orang yang melihat kepadaku ini” , dia pun melihat Rasulullah.

Rasulullah kemudian tersenyum, dan meneruskan perjalanannya di atas jalan tersebut.

Kami kemudian berjalan bersama (aku dan teman yang menceritakan mimpi ini). Dan ketika kami sedang berjalan, kami melihat seorang Syaikh yang juga sedang berjalan pada jalan yang sama.

Kami pun mengucapkan “Assalamualaikum”

Syaikh tersebut kemudian menjawab “Waalaikumsalam Warrahmatullah wa barakatuh”

Kemudian Syaikh tersebut bertanya kepada kami “Apakah kalian melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam?

Kami menjawab “ya, kami melihat beliau”

Temanku kemudian bertanya kepadaku “Siapakah Syaikh ini?”

Akupun berkata kepadanya “Ini adalah Syaikh Albani”

[akhir dari mimpi]

Wanita yang bercerita itu kemudian berkata “Aku berdoa kepada Allah untuk menjadikan mimpi ini menjadi kabar baik untuk mu Ya Syaikh, dan aku ingin memberitahu , semoga ini menjadi berita baik – insya allah, bahwa engkau telah berjalan di atas jalan sunnah ya Syaikh. Insya allah ta’ala . “bagaimana pendapatmu Syaikh?”

Disini Syaikh tidak mengatakan apapun, air mata beliau terlihat mulai bercucuran dan beliau rahimahullah pun menangis. [tangisan ini sempat terekam selama 2 menit, sebelum kemudian beliau menyuruh orang-orang yang berada disekitar beliau untuk meninggalkan beliau sendiri]

[mohon maaf jika ada kesalahan terjemahan, diambil dari http://www.youtube.com/watch?v=01dxgcAm7_c ]