Abu Abdurrahman

Arsip untuk Agustus, 2008

Pendapat Imam Syafi’i tentang Tauhid

In Aqidah Imam Syafi'i on Agustus 16, 2008 at 2:12 pm

1. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i mengatakan: “Barangsiapa bersumpah dengan menyebut salah satu asma’ Allah, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat. Dan barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, misalnya “demi Ka’bah”, “demi ayahku”, dan sebagainya, kemudian melanggar sumpah itu, maka ia tidak wajib membayar kaffarat.

Begitu pula apabila ia bersumpah dengan mengatakan “demi umurku”, ia tidak wajib membayar kaffarat. Namun, bersumpah dengan menyebut selain Allah adalah haram, dan dilarang berdasarkan hadits Nabi: “Sesungguhnya Allah melarang kamu untuk bersumpah dengan menyebut nenek moyang kamu. Siapa yang hendak bersumpah, maka bersumpahlah dengan menyebut asma’ Allah, atau lebih baik diam saja (Shahih al-Bukhary, Kitab al-Aiman wa an-Nadzair, II/530).

2. Imam Ibn al-Qayyim menuturkan dalam kitabnya Ijtima’ al-Juyusy, sebuah riwayat dari Imam Syafi’i, bahwa beliau berkata: “Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, Shahib-shahib (murid-murid) saya, begitu pula para ahli hadits yang saya lihat dan saya ambil ilmu mereka, seperti Sufyan, Malik, dan lain-lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas ‘Arsy dilangit, dan dekat dengan makhluk-Nya, terserah kehendak Allah, dan Allah itu turun ke langit terdekat kapan Allah berkehendak.

3. Imam adz-Dzahabi meriwayatkan dari al-Muzani, katanya, “Apabila ada orang yang dapat mengeluarkan unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid yang ada didalam hati saya, maka orang itu adalah Imam Syafi’i.”

Saya pernah dengar di masjid Cairo dengan beliau, ketika saya mendepat didepan beliau, dalam hati saya terdapat unek-unek yang berkaitan dengan masalah tauhid. Kata hatiku, saya tahu bahwa seseorang tidak akan mengetahui ilmu yang ada pada diri Anda, maka apa sebenarnya yang ada pada diri Andar?

Tiba-tiba beliau marah, lalu bertanya: “Tahukah kamu, dimana kamu sekarang?” Saya menjawab: “Ya”. Beliau berkata : “Ini adalah tempat dimana Allah menenggelamkan Fir’aun. Apakah kamu tahu bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa salam pernah menyuruh bertanya masalah yang ada dalam hatimu itu?”. “Tidak”, jawab saya. “Apakah para sahabat pernah membicarakan hal itu?”. “Tidak”, jawab saya. “Berapakah jumlah bintang dilangit?”, tanya beliau lagi. “Tidak tahu”, jawab saya. “Apakah kamu tahu jenis bintang-bintang itu, kapan terbitnya, kapan terbenamnya, dari bahan apa bintang-bintang itu diciptakan?”, tanya beliau. “Tudaj tahu” jawab saya. “Itu masalah makhluk yang kamu lihat dengan mata kepalamu, ternyata kamu tidak tahu. Mana mungkni kamu mau membicarakan tentang ilmu Pencipta makhluk itu”, kata beliau mengakhiri.

Kemudian beliau menanyakan kepada saya tentang masalah wudhu’, ternyata jawaban saya salah. Beliau lalu mengembangkan masalah itu menjadi empat masalah, ternyata jawaban saya juga tidak ada yang benar. Akhirnya beliau berkata: “Masalah yang kamu perlukan tiap hari lima kali saja tidak kamu pelajari. Tetapi kamu justru berupaya untuk mengetahui ilmu Allah. Ketika hal itu berbisik dalam hatimu. Kembali saja kepada firman Allah :

“Dan tuhanmu adalah Tuhan yang satu. Tidak ada tuhan (yang Haq) selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berjalan dilautan dengan membawa barang-barang bermanfaat bagi manusia, dan air hujan yang diturunkan Allah dari langit dimana kemudian dengan air itu Allah hidupkan bumi setelah ia mati (gersang) dan Allah menyebarkan diatas bumi semua binatang melata, dan pengisaran angin dan awan yang direndahkan antara langit dan bumi, semuanya itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 163-164)

“Karenanya”, lanjut Iman Syafi’i, “Jadikanlah makhluk itu sebagai bukti atas kekuasaan Allah, dan janganlah kamu memaksa-maksa diri untuk mengetahui hal-hal yang tidak dapat dicapai oleh akalmu.

4. Imam Ibn Abdil Bar meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A’la, katanya, Saya mendengar Imam Syafi’i berkata: “Apabila kamu mendengar ada orang berkata bahwa nama itu berlainan dengan apa yang diberi nama, atau sesuatu itu berbeda dengan sesuatu itu, maka saksikanlah bahwa orang itu adalah kafir zindiq”

5. Dalam kitab ar-Risalah, Imam Syafi’i berkata: ” Segala puji bagi Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana Dia mensifati diri-Nya, dan diatas yang disifati makhlukNya.”

6. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Syiar A’lam an-Nubala’ menuturkan dari Imam Syafi’i, kata beliau: “Kita menetapkan sifat-sifat Allah ini sebagaimana disebutkan didalam al-Quran dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa salam, dan kita meniadakan tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk-Nya), sebagaimana Allah juga meniadakan tasybih itu dalam firmanNya:

“Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia.” (as-Syura: 11)

7. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, “Saya mendengar Imam Syafi’i berkata tentang firman Allah:

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu (hari kiamat) benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” (al-Muthaffifin :15)

“Ayat ini memberitahukan kita bahwa pada hari kiamat nanti ada orang-orang yang tidak terhalang, mereka dapat melihat Allah dengan jelas.”

8. Imam al-Lalaka’i menuturkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, “Saya datang kerumah Imam Syafi’i, ketika itu datang sebuah pertanyaan kepada beliau, “Apa pendapat Anda tentang firman Allah dalam surat al-Muthaffifin ayat 15, yang artinya, “Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu terhalang dari (melihat) Tuhannya?”

Imam Syafi’i menjawab: “Apabila orang-orang itu tidak dapat melihat Allah karena dimurkai Allah, maka ini merupakan dalil bahwa orang-orang yang diridhai Allah akan dapat melihat-Nya.”

Ar-Rabi’ lalu bertanya: “Wahai Abu Abdillah, apakah anda berpendapat seperti itu?. “Ya, saya berpendapat seperti itu, dan itu saya yakini kepada Allah”, begitu jawab Iman Syafi’i.

9. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan, katanya, Dihadapan Imam Syafi’i ada orang menyebut-nyebut nama Ibrahim bin Isma’il bin Ulayah. Kemudian Imam Syafi’i berkata: “Saya berbeda pendapat dengan dia dalam segala hal. Begitu pula dalam kalimat “La ilaha illallah” Saya tidak sependapat seperti pendapatnya. Saya mengatakan Allah berfirman kepada Nabi Musa secara langsung tanpa penghalang. Sedangkan dia mengatakan, bahwa ketika Allah berfirman kepada Nabi Musa, Allah menciptakan ucapan-ucapan yan kemudian dapat didengar oleh Nabi Musa secara tidak langsung (ada penghalang).”

10 Imam al-Lalaka’i meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i mengatakan: “Barangsiapa yang mengatakan bahwa al-Quran itu makhluk, maka dia telah menjadi kafir.

11. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Muhammad az-Zubairi, katanya, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i, “benarkah al-Quran itu khaliq (pencipta)?”. Jawab beliau: “Tidak Benar.”. “Apakah al-Quran itu makhluk?”, tanyanya lagi. “Tidak”, jawab Imam Syafi’i. “Apakah al-Quran itu bukan makhluk?”, tanyanya berikutnya. “Ya, begitu”, jawab Imam Syafi’i.

Orang tadi bertanya lagi: “Mana buktinya bahwa al-Quran itu bukan makhluk?”. Imam Syafi’i kemudian mengangkat kepalanya, dan berkata: “Maukah kamu mengakui bahwa al-Quran itu Kalam Allah?”. “Ya, mau”, kata orang tadi. Imam syafi’i kemudian berkata: “Kamu telah didahului ayat:

“Dan jika diantara orang-orang musryik itu meminta perlindungan kepada kamu, maka lindungilah ia, supaya ia sempat mendengar Kalam Allah.” (at-Taubah: 6)

dan ayat:

“Dan Allah telah berbicara dengan Musa secara langsung.” (an-Nisa’: 164)

Imam Syafi’i kemudian berkata lagi kepada orang tersebut: “Maukah kamu mengakui bahwa Allah itu ada dan demikian pula KalamNya? atau Allah itu ada, sedangkan KalamNya belum ada?”. Allah ada, begitu pula Kalamnya.”

Mendengar jawaban itu Imam Syafi’i tersenyum, lalu berkata: “Wahai orang-orang kuffah, kamu akan membawakan sesuatu yang agung kepadaku, apabila kamu mengakui bahwa Allah itu ada semenjak zaman azali, begitu pula KalamNya. Lalu darimana kamu pernah punya pendapat bahwa Kalam itu Allah atau bukan Allah?”. Mendengar penegasan Imam Syafi’i, orang tadi terdiam, kemudian keluar.

12. Dalam kitab Juz al-I’tiqad, yang disebut-sebut sebagai karya Imam Syafi’i, dari riwayat Abu Thalib al-’Isyari, ada sebuah keterangan sebagai berikut:

“Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah, dan hal-hal yang perlu diimani, jawab beliau: “Allah Tabaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa salam, yang siapapun dari umatnya tidak boleh menyimpang dari ketentuan seperti itu setelah memperoleh keterangan (hujjah). Apabila ia menyimpang dari ketentuan setelah ia memperoleh hujjah tersebut, maka kafirlah dia. Namun apabila ia menyimpang dari ketentuan sebelum ia memperoleh hujjah, maka hal itu tidap apa-apa baginya. Ia dimaafkan karena ketidaktahuannya itu. Sebab untuk mengetahui sifat-sifat Allah itu tidak mungkin dilakukan dengan akal dan pikiran, tetapi hanya berdasarkan keterangan-keterangan dari Allah. Bahwa Allah itu mendengar, Allah mempunyai dua tangan:

“Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (al-Maidah: 64)

Dan bahwa Allah itu mempunyai tangan kanan

Dan langit itu dilipat tangan kanan Allah” (az-Zumar: 67)

Dan Allah juga punya wajah:

“Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah Allah” (al-Qashash: 88 )

“Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (ar-RahmanL 27)

Allah juga mempunyai telapak kaki, ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa salam :

“Sehingga Allah meletakkan telapak kaki-Nya di Jahannam” (Shahih Bukhari, Kitab at-Tafsir, VII/594. Shahih Muslim, kitab al-Jannah, IV/2187)

Allah tertawa terhadap hamba-Nya yang mukmin, sesuai dengan sabda Rasululllah kepada orang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah, bahwa “kelah akan bertemu dengan Allah, dan Allah tertawa kepadanya” (Shahih Bukhari, kitab al-Jihad, VI/39. Shahih Muslim, kitab al-Imarat, III(1504)

Allah turun setiap malam ke langit yang terdekat dengan bumi, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam tentang hal itu. Mata Allah tidak pecak sebelah, sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam yang menyebutkan, bahwa “Dajjal itu pecak sebelah matanya. Sedangkan Allah tidak pecak sebelah mata-Nya”. (Shahih Bukhari, kitab al-Fitan, XIII/91. Shahih Muslim kitab al-Fitan, IV/2248 )

Orang-orang mukmin kelak akan melihat Allah pada hari kiamat dengan mata kepala mereka, seperti halnya mereka melihat bulan purnama. Allah juga punya jari jemari, berdasarkan hadit Nabi Shallallahu alaihi wa salam:

Tidak ada satu buah hati kecuali ia berada diantara jari-jari Allah ar-Rahman” (Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, IV/182. Sunan Ibn Majah, I/72, Mustadrak al-hakim, I/525. al-Ajiri, asy-syari’ah, hal. 317. Ibn Mnada, ar-Radd)

Pengertian sifat-sifat seperti ini, dimana Allah telah mensifati diri-Nya sendiri dan Nabi Shallallahu alaihi wa salam juga mensifatiNya, tidak dapat diketahui hakikatnya oleh akal dan pikiran. Orang yang tidak mendengar keterangan tentang hal itu tidak dapat disebut kafir. Apabila ia telah mendenga keterangan sendiri secara langsung, maka ia wajib meyakininya seperti halnya kita harus menetapkan sifat-sifat itu tanpa tasybih (menyerupakan) Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana juga Allah tidak menyerupakan makhluk apapun dengan diri-Nya, Allah berfirman:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (asy-Syura: 11)

(sumber : Aqidah Imam Empat karangan Syaikh Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais. Diterjemahkan oleh Ali Musa Ya’qub, MA)

Larangan Imam Malik Terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Agama

In Aqidah Imam Malik on Agustus 14, 2008 at 2:47 pm

1. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Mush’ab bin Abdullah az-Zubairi, katanya, Imam Malik pernah berkata: “Saya tidak menyukai Ilmu Kalam dalam masalah agama, warga negeri ini juga tetap tidak menyukainya, dan melarangnya, seperti membicarakan pendapat Jahm bin Shafwan, masalah qadar dan sebagainya. Mereka tidak menyukai Kalam kecuali didalamnya terkandung amal. Adapun Kalam didalam agama, bagi saya lebih baik diam saja, karena hal-hal diatas.

2. Imam Abu Nu’aim juga meriwayatkan dari Abdullah bin Nafi’, katanya, Saya mendengar Imam Malik berkata: “Seandainya ada orang yang melakukan dosar besar seluruhnya kecuali menjadi musyrik, kemudian dia melepaskan diri dari bid’ah-bid’ah Kalam ini, dia akan masuk surga.

3. Imam al-Harawi meriwayatkan dari Ishaq bin Isa, katanya, Imam Malik berkata: “Barangsiapa yang mencari agama lewat Ilmu Kalam ia akan menjadi kafir zindiq, siapa mencari harta lewat Kimia, ia akan bangkrut, dan siapa yang mencari bahasa-bahasa langka dalam Hadits (Gharib al-Hadits) ia akan bohong.”

4. Imam al-Khatib al-Baghdadai meriwayatkan dari Ishaq bin Isa, katanya, Saya mendengar Imam Malik berkata: “Berdebat dalam agama itu aim (Cacat).” Beliau juga berkata: “Setiap ada orang datang kepada kita ingin berdebat. Apakah ia bermaksud agar kita ini menolak apa yang telah dibawa oleh malaikat Jibril kepada Nabi Shallallahu alaihi wa salam?”

5. Imam al-Harawi meriwayatkan dari Abdur Rahman bin Mahdi, katanya, saya masuk kerumah Imam Malik, dan disitu ada seorang yang sedang ditanya oleh Imam Malik: “Barangkali kamu murid dari ‘Amr bin ‘Ubaid. Mudahan-mudahan Allah melaknat ‘Amr bin ‘ubaid, karena dialah orang yang membuat Bid’ah Ilmu Kalam. Seandainya Kalam itu merupakan ilmu, tentulah para Sahabat dan Tabi’in sudah membicarakannya, sebagaimana mereka juga berbicara masalah hukum (fiqh) dan syari’ah.”

6. Imam al-Harawi meriwayatkan dari Aisyah bin Abdul Aziz, katanya, Saya mendengar Imam Malik berkata: “Hindarilah bid’ah”. Kemudian ada orang bertanya: “Apakah bid’ah itu wahai Abu Abdillah?”. Imam Malik menjawab: “Penganut bid’ah itu adalah orang-orang yang membicarakan masalah nama-nama Allah, ilmu Allah, dan qudrah Allah. Mereka tidak mau bersikap diam (tidak memperdebatkannya) hal-hal yang justru para Sahabat dan Tabi’in tidak membicarakannya.

7. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Imam Syafi’i, katanya Imam Malik bin Anas, apabila kedatangan orang yang dalam agama mengikuti seleranya saja, beliau berkata: “Tentang diri saya sendiri, saya sudah mendapatkan kejelasan tentang agama dari Tuhanku. Sementara Anda masih ragu-ragu. Pergilah saja kepada orang lain yang juga masih ragu-ragu, dan debatlah dia.”

8. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Muhammad bin Ahmad al-Mishri al-Maliki, dimana ia berkata dalam Bab al-Ijarat dalam kitab al-Khilaf, Imam Malik berkata: “Tidak boleh menyebarkan kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang yang dalam beragama hanya mengikuti selera, bid’ah dan klenik; dan kitab-kitab itu adalah kitab-kitab penganut Kalam seperti kelompok Mu’tazilah dan sebagainya.

Dan itulah sekilas tentang sikap Imam Malik bin Anas dan pendapat-pendapat beliau tentang masalah Tauhid, Sahabat, Iman, Ilmu Kalam, dan lain-lain.

(Sumber: Aqidah Imam empat, karangan Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub, MA)

Pendapat Imam Malik Tentang Sahabat

In Aqidah Imam Malik on Agustus 14, 2008 at 2:31 pm

1. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah al-Anbari, katanya: “Imam Malik bin Anas menyatakan, “Siapa yang merendahkan derajat seorang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa salam atau ia merasa tidak senang, maka ia tidak punya hak untuk dilindungi oleh umat Islam.” Kemudian beliau membaca ayat :<p style=”text-align:justify;”>“Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: “wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau menjadikan kebencian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (al-Hasyr: 10)

Imam malik kemudian berkata: “Barangsiapa marah kepada salah seorang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa salam maka ia telah terkena ayat ini.”

2. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari salah seorang putera az-Zubair, katanya, “Kami berada ditempat Malik. Kemudian orang-orang menyebut-nyebut seseorang yang merendahkan martabat sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa salam, lalu Imam Malik membaca ayat:

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangat tegas sikapnya terhadap orang-orang kafir, namun diantara mereka saling menyayangi. Kamu lihat mereka itu ruku’ dan sujud, mencari kemurahan dan keridhaan dari Allah. Tanda-tanda mereka (terpancar) diwajah-wajah mereka dari bekas sujud. Itulah sifat-sifat mereka didalam Kitab Taurat. Sedangkan perumpamaan mereka didalam Kitab Injil adalah ibarat sebuah biji yang mengeluarkan tunasnya, lalu tunas itu memperkokoh tanaman itu, lalu menjadi kuat dan besarlah di dan tegak lurus diatas pokoknya. Tanaman itu membuat para penanamnya senang dan kagum, karena Allah ingin membuat orang-orang kafir itu marah dengan (melihat kekuatan) orang-orang mukmin itu.” (al-Fath: 29)

Imam Malik kemudian berkata: “Barangsiapa marah kepada salah seorang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa salam, maka ia telah terkena ayat ini.

3. Qadhi ‘Iyad meriwayatkan dari Asyhab bin ‘Abdul ‘Aziz, katanya, “Kami berada ditempat Imam Malik, tiba-tiba ada seorang golongan Alawiyin datang kepada beliau, sementara orang-orang yang ada disitu sedang mengikuti malis pengajian Imam Malik. Orang tadi, sambil berdiri, bertanya kepada beliau: “Wahai Abu Abdillah”, panggilan akrab untuk beliau. Imam Malik kemudian mendekatinya, padahal beliau itu tidak pernah menyambut lebih dari anggukkan kepala, apabila dipanggil orang. Kemudian orang tadi berkata: “Saya ingin membuat Anda menjadi hujjah (bukti kebenaran) antara saya dengan Allah, sebab apabila saya menghadap Allah nanti, saya akan ditanya Allah, dan saya akan menjawab: “Malik telah mengatakan hal itu.”

Imam Malik lalu berkata: “Baikm, silahkan apa yang hendak Anda tanyakan!” Orang tadi berkata: “Siapakah yang paling mulia sesudah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam?” Beliau menjawab: “Abu Bakar.” Orang Alawiyin tadi bertanya lagi: “Lalu siapa?” Dijawab: “Umar”. “Kemudian siapa lagi”, tanya orang tadi. Imam Malik menjawab: “Kemudian Khalifah yang terbunuh secara dizhalimi, yaitu Utsman. “Orang tadi lalu berkata: “Demi Allah, saya tidak akan duduk disampingmu selamanya”. “Ya, silahkan, Anda bebas”, jawab Imam Malik.

(Sumber : Aqidah Imam Empat karangan DR. Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub. MA)

Pendapat Imam Malik Tentang Iman

In Aqidah Imam Malik on Agustus 14, 2008 at 2:13 pm

1. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ‘Abd ar-Razzaq bin Hammad, katanya: “Saya mendengar Ibn Juraij, Sufyan bin ‘Uyainah dan Malik bin Anas, mengatakan: “Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”

2. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Abdullah bin Nafi’, katanya, “Imam Malik bin Anas pernah berkata: “Iman itu adalah ucapan dan perbuatan.”

3. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Asyhab bin ‘Abdul ‘Aziz, katanya, Imam Malik berkata: “Ketika Umat Islam shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas bulan, mereka kemudian diperintahkan untuk menghadap ke Masjidil Haram pada waktu shalat. Kemudian turun ayat:

“Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kamu” (al-Baqarah : 143)

Maksud “iman” dalam ayat itu adalah “shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis.” Kata Imam Malik lagi: “Menurut paham golongan Murji’ah, sahalat itu tidak termasuk Iman.

(Sumber : Aqidah Imam Empat karangan DR. Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub. MA)

Pendapat Imam Malik Tentang Qadar

In Aqidah Imam Malik on Agustus 14, 2008 at 2:08 pm

1. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Ibn Wahb, katanya: “Saya mendengar Imam Malik berkata kepada seseorang, “Kemarin kamu bertanya kepada saya tentang qadar, bukankah begitu?”. “Ya”, jawab orang itu. Imam Malik Berkata: Sesungguhnya Allah berfirman:

“Sekiranya Kami menghendaki, Kami akan memberikan petunjuk kepada semua orang. Tetapi telah tetaplah keputusan-Ku, bahwa Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia semuanya” (as-Sajadah : 13)

Maka tidak boleh tidak, ketetapan Allah lah yang berlaku.

2. Qadhi ‘Iyadh berkata: “Imam Malik pernah ditanya tentang kelompok Qadariyah, siapakah mereka itu? Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu tidak menciptakan maksiat. “Beliau ditanya pula tentang Qadariah. Jawab beliau: “Mereka adalah orang-orang yang berpendapat bahwa manusia itu mempunyai kemampuan. Apabila mereka mau, mereka dapat menjadi orang-orang taat atau menjadi orang-orang durhaka.

3. Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ad al-Jabbar, katanya, “Saya mendengar Imam Malik bin Anas berkata: “Pendapat saya tentang kelompok Qadariyah adalah, mereka itu disuruh bertaubat. Apabila tidak mau, mereka harus dihukum mati.

4. Imam Ibn ‘Abdil Bar berkata: “Imam Malik pernah berkata: “Saya tidak melihat seorangpun dari orang-orang yang berbicara masalah qadar dan ia tidak bertaubat.

5. Imam Ibn Abi ‘Ashim meriwayatkan dari Marwan bin Muhammad at-Tatari, katanya: “Saya mendengar Imam Malik bin Anas ditanya tentang menikah dengan seorang penganut paham Qadariyah. Kata beliau seraya membaca ayat al-Qur’an:

“Seorang hamba saya yang beriman lebih baik daripada seorang musryik” (al-Baqarah : 221)

6. Qadhi ‘Iyadh menuturkan, bahwa Imam Malik menyatakan: “Kesaksian penganut paham Qadariyah yang menyebarkan pahamnya yang bid’ah itu tidak dapat dibenarkan. Begitu pula penganut golongan Khawarij dan pengahum Paham Rafidhah (Syiah).

7. Qadhi ‘Iyadh juga menuturkan, bahwa Imam Malik pernah ditanya tentang penganut paham Qadariyah, apakah kita tolak pendapat-pendapatnya? Jawab beliau: “Ya, bila ia mengetahui hal itu. “Dalam suatu riwayat Malik berkata: “Tidak boleh shalat menjadi makmum dibelakang penganut paham Qadariyah, dan Hadits yang ia riwayatkan harus ditolak. Apabila kamu menemukan mereka disuatu tempat persembunyiannya, keluarkanlah mereka.

(Sumber : Aqidah Imam Empat karangan DR. Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub. MA)

Larangan Imam Abu Hanifah terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Masalah Agama

In Aqidah Imam Abu Hanifah on Agustus 14, 2008 at 11:34 am

1. Imam Abu Hanifah berkata: “Di kota Bashrah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu (Selera) sangat banyak. Saya datang di Bashrah lebih dari dua puluh kali. Terkadang saya tinggal di Bashrah lebih dari satu tahun, terkadang satu tahun, dan terkadang kurang dari satu tahun. Hal itu karena saya mengira bahwa Ilmu Kalam adalah ilmu yang paling mulia.

2. Beliau menuturkan, “Saya pernah mendalami Ilmu Kalam, sampai saya tergolong manusia langka dalam Ilmu Kalam. Suatu saat saya tinggal didekat pengajian Hammad bin Abu Sulaiman. Lalu ada seorang wanita datang kepadaku, ia berkata: “Ada seorang lelaki mempunyai seorang isteri wanita sahaya. Lelaki itu ingin menalaknya dengan talak yang sesuai sunnah. Berapakah dia harus menalaknya?”

Pada saat itu saya tidak tahu apa yang harus saya jawab. Saya hanya menyarankan agar ia datang ke Hammad untuk menanyakan hal itu, kemudian kembali lagi ke saya, dan apa jawaban Hammad. Ternyata Hammad menjawab: “Lelaki itu dapat menalaknya ketika isterinya dalam keadaan suci dari haid dan juga tidak dilakukan hubungan jima’, dengan satu kali talak saja. Kemudian isterinya dibiarkan sampai haid dua kali. Apabila isteri itu sudah suci lagi, maka ia halal untuk dinikahi.

Begitulah, wanita itu kemudian datang kepada saya dan memberitahukan jawaban Hammad tadi. Akhirnya saya berkesimpulan: “Saya tidak perlu lagi mempelajari Ilmu Kalam. Saya ambil sandalku dan pergi berguru kepada Hammad.

3. Beliau berkata lagi, “Semoga Allah melaknat Amr bin Ubaid, karena telah merintis jalan untuk orang-orang yang mempelajari Ilmu Kalam, padahal ilmu ini tidak ada gunanya bagi mereka.”

Beliau juga pernah ditanya seseorang, “Apakah pendapat anda tentang masalah baru yang dibicarakan orang-orang dalam Ilmu Kalam, yaitu masalah sifat-sifat dan jism?” Beliau menjawab,”Itu adalah ucapan-ucapan para ahli filsafat. Kamu harus mengikuti hadits Nabi Shallallahu alaihi wa salam dan metode para ulama salaf. Jauhilah setiap hal yang baru, karena hal itu adalah bid’ah.

4. Putera Imam Abu Hanifah, yang namanya Hammad, menuturkan: “Pada suatu hari ayah datang kerumahku. Waktu itu dirumah ada orang-orang yang sedang menekuni Ilmu Kalam, dan kita sedang berdiskusi tentang suatu masalah. Tentu saja suara kami keras, sehingga tampaknya ayah terganggu. Kemudian saya menemui beliau, “Hai Hammad, siapa saja orang-orang itu?”, tanya beliau. Saya menjawab dengan menyebutkan nama mereka satu-persatu. “Apa yang sedang kalian bicarakan?”, tanya beliau lagi. Saya menjawab: “Ada suatu masalah ini dan itu”. Kemudian beliau berkata, “Hai Hammad, tinggalkanlah Ilmu Kalam.”

Kata Hammad selanjutnya: “Padahal setahu saya, ayah tidak pernah berubah pendapat, tidak pernah pula menyuruh sesuatu kemudian melarangnya.” Hammad kemudian berkata kepada beliau: “Wahai ayahanda, bukankah ayahanda pernah menyuruhku untuk mempelajari Ilmu Kalam?”. “Ya, memang pernah”, jawab beliau. “Tetapi itu dahulu, sekarang saya melarangmu, jangan mempelajari Ilmu Kalam,” tambah beliau.

“Kenapa, wahai ayahanda?” tanya Hammad lagi. Beliau menjawab, “Wahai anakku, mereka berdebat dalam Ilmu Kalam, pada mulanya adalah bersatu pendapat dan agama mereka satu. Namun syaitan menggangu mereka sehingga mereka bermusuhan dan berbeda pendapat.

5. Kepada Abu Yusuf, Imam Abu Hanifah berkata: “Jangan sekali-kali kamu berbicara dengan orang-orang awam dalam masalah Ushuluddin dengan mengambil pendapat Ilmu Kalam, karena mereka akan mengikuti kamu dan akan merepotkan kamu.

Inilah rangkuman dari pendapat-pendapat Imam Abu Hanifah rahimahullah, tentang aqidah beliau dalam masalah Ushuluddin dan sikap beliau terhadap Ilmu Kalam dan ahli-ahli Ilmu Kalam.

(Sumber : Aqidah Imam Empat karangan Dr. Muhammad bin Abdurrahman AL-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub, MA)

Pendapat Imam Abu Hanifah Tentang Sahabat

In Aqidah Imam Abu Hanifah on Agustus 14, 2008 at 11:14 am

1. Imam Abu Hanifah berkata: “Kita tidak boleh menyebutkan seseorangpun dari sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa salam kecuali dengan sebutan baik.

2. Kata beliau juga, “Kita juga tidak boleh berlepas diri dari salah satu sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa salam, dan tidak boleh mencintai yang satu dan mengesampingkan yang lain.

3. Beliau juga berkata: “Keberadaan salah seorang sahabat bersama Nabi Shallallahu alaihi wa salam sesaat saja, hal itu lebih bagus daripada amal jkita sepanjang umur, meskipun umur itu panjang.

4. Kata beliau lagi, “Kita menetapkan bahwa diantara umat Islam ini, orang yang paling mulia sesudah Nabi Shallallahu alaihi wa salam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian Umar, kemudian Utsman, dan kemudian Ali radhiyallahu ‘anhum.

5. Beliau juga berkata: “Manusia yang paling meulia setelah Nabi Shallallahu alaihi wa salam adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, dan kemudian Ali. Selanjutnya kita tidak boleh membicarakan tentang para sahabat kecuali yang baik-baik saja.

(Sumber : Aqidah Imam Empat karangan Dr. Muhammad bin Abdurrahman AL-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub, MA)

Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Pengertian Iman

In Aqidah Imam Abu Hanifah on Agustus 14, 2008 at 11:09 am

1. Beliau berkata: “Iman itu iqrar (pengakuan) dan tashdiq (Pembenaran).”

2. Kata beliau lagi: “Iman itu adalah iqrar dan tashdiq dengan hati. Iqrar saka belum disebut Iman.

Keterangan ini dinukil oleh ath-Thahawi dari Imam Abu Hanifah dan dua orang muridnya.

3. Beliau juga berkata: “Iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang”

Menurut saya (Penulis kitab Aqidah Imam Empat ini), pendapat Imam Abu Hanifah bahwa “Iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang” dan bahwa yang disebut iman adalah tashdiq dalam hati dan iqrar dalam lisan, sementara perbuatan (amal) tidak termasuk dalam pengertian iman”, adalah masalah yang membedakan antara beliau dengan imam-imam Islam yang lain seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ishaq, Imam al-Bukhari, dan lain-lain. Yang benar adalah pendapat para Imam itu. Sementara pendapat Abu Hanifah adalah tidak benar. Namun demikian beliau tetap mendapatkan pahala, baik hasil ijtihad beliau itu benar ataupun salah.

Kemudian ada keterangan dari Imam Ibn ‘Abdul Bar dan Ibn Abi ‘Izz, bahwa Imam Abu Hanifah mencaput pendapatnya itu. Wallahu a’lam.

(Sumber : Aqidah Imam Empat karangan Dr. Muhammad bin Abdurrahman AL-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub, MA)

Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Qadar

In Aqidah Imam Abu Hanifah on Agustus 14, 2008 at 10:59 am

1. Seseorang datang kepada Imam Abu Hanifah dan mendebat beliau tentang masalah qadar. Kata beliau: “Tahukah Anda, bahwa orang yang melihat masalah matahari dengan matanya, semakin lama ia melihat, ia makin bingung. (Qalaid ‘Uqud a;-Aqyan, lembar 77-A).

2. Beliau berkata: “Allah telah mengetahui segala sesuatu sejak masa azali, sebelum segala sesuatu itu terwujud. (al-Fiqh al-Akbar, hal 302-303).

3. Beliau juga berkata: “Allah juga mengetahui sesuatu yang tidak ada ketika hal itu tidak ada, dan Allah juga mengetahui bagaimana hal itu akan ada apabila Allah mewujudkannya. Allah juga mengetahui sesuatu yang ada ketika hal itu ada, dan Allah juga mengetahui bagaimana kehancuran sesuatu itu.

4. Imam Abu Hanifah berkata: “Taqdir Allah itu ada di Lauh Mahfuzh

5. Beliau juga berkata: “Kita menetapkan bahwa Allah telah memerintahkan kepada al-Qalam dan ia berkata: “Apa yang saya tulis Wahai Tuhanku?” Allah menjawab: “Tulislah apa yang ada dan terjadi sampai hari kiamat. “Hal ini berdasarkan firman Allah:

“Segala sesuatu yang mereka lakukan tertulis didalam al-Kitab. Dan segala yang kecil dan besar tertulis” (al-Qamar : 52-53_

6. Beliau juga berkata: “Di dunia dan akhirat tidaklah ada dan terjadi sesuatu kecuali berdasarkan kehendal Allah.

7. Kata Beliau lagi, “Allah menciptakan segala sesuatu tanpa bahan apa-apa.”

8. Beliau juga berkata: “Allah adalah Maha Pencipta sebelum Dia menciptakan.”

9. Beliau juga berkata: “Kita menetapkan, bahwa hamba bersama amal-amalnya. Penetapannya dan pengetahuannya adalah makhluk. Apabila yang berbuat saja makhluk, maka perbuatan-perbuatannya lebih tepat untuk disebut makhluk”.

10. Beliau berkata lagi: “Semua perbuatan hamba, baik bergerak atau diam, merupakan usahanya, dan Allah yang menciptakannya. Semua perbuatan itu berdasar kehendak, pengetahuan, penetapan dan qadar Allah.”

11. Beliau berkata: “Semua perbuatan hamba, baik bergerak maupun diam, adalah betul-betul upaya mereka, dan Allah menciptakannya. Semua perbuatan itu berdasarkan kehendak, ilmu, penetapan dan qadar Allah. Semua ketaatan adalah wajib berdasarkan perintah Allah, dan hal itu disukai, diridhai, diketahui, dikehendaki, ditetapkan dan ditaqdirkan oleh Allah. Sedang maksiat semuanya diketahui, ditetapkan, dan ditaqdirkan oleh Allah, tetapi Allah tidak menyukai dan tidak meridhai hal itu, bahkan Allah juga tidak memerintahkannya.

12. Beliau juga berkata: “Allah menciptakan makhluk berdasarkan fitrahnya, suci dari perbuatan terlarang. Kemudian Allah menyuruh mereka untuk berbuat kebajikan dan melarang untuk berbuat yang tercela. Maka, diantara mereka kemudian ada yang kafir dan melakukan perbuatan-perbuatan kekafiran dan mengingkari kebenaran. Ada juga diantara mereka yang beriman, baik melalui perbuatannya, iqrar lisannya, dan pembenaran hatinya., Dan hal itu merupakan taufiq dan pertolongan Allah kepadanya.

13. Beliau juga berkata: “Allah telah mengeluarkan anak-cucu Adam dari tulang punggunya dalam bentuk sel-sel. kemudian mereka diberi akal, lalu Allah menyuruh mereka untuk beriman dan melarang mereka dari kekafiran. Kemudian mereka mengakui ketuhaanan (Rububiyyah) Allah. Maka hal itu merupakan iman mereka. Kemudian mereka dilahirkan berdasarkan fitrah tersebut. Karenanya, sebenarnya ia telah mengubah dan mengganti fitrah itu. Sedangkan orang yang beriman dan penuh keyakinan hatinya, maka ia tetap dalam fitrah tersebut.

14. Beliau juga berkata: ” Allah-lah yang menetapkan segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun didunia dan akhirat kecuali atas kehendak, pengetahuan, dan qadha serta qadar Allah. Dan hal itu telah ditulis di Lauh Mahfuzh.

15. Beliau juga berkata: “Allah tidak memaksa seorangpun dari Makhluk-Nya untuk menjadi kafir atau mukmin. Tetapi Allah menciptakan mereka manjadi orang-orang. Sementara beriman atau menjadi kafir itu adalah perbuatan hamba. Allah mengetahui orang yang kafir pada saat ia kafir. Manakala setelah itu ia beriman, Allah juga mengetahuinya dan dia akan dicintai Allah. Dan ilmu Allah tidak berubah.