1. Beliau berkata: “Iman itu iqrar (pengakuan) dan tashdiq (Pembenaran).”
2. Kata beliau lagi: “Iman itu adalah iqrar dan tashdiq dengan hati. Iqrar saka belum disebut Iman.
Keterangan ini dinukil oleh ath-Thahawi dari Imam Abu Hanifah dan dua orang muridnya.
3. Beliau juga berkata: “Iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang”
Menurut saya (Penulis kitab Aqidah Imam Empat ini), pendapat Imam Abu Hanifah bahwa “Iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang” dan bahwa yang disebut iman adalah tashdiq dalam hati dan iqrar dalam lisan, sementara perbuatan (amal) tidak termasuk dalam pengertian iman”, adalah masalah yang membedakan antara beliau dengan imam-imam Islam yang lain seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ishaq, Imam al-Bukhari, dan lain-lain. Yang benar adalah pendapat para Imam itu. Sementara pendapat Abu Hanifah adalah tidak benar. Namun demikian beliau tetap mendapatkan pahala, baik hasil ijtihad beliau itu benar ataupun salah.
Kemudian ada keterangan dari Imam Ibn ‘Abdul Bar dan Ibn Abi ‘Izz, bahwa Imam Abu Hanifah mencaput pendapatnya itu. Wallahu a’lam.
(Sumber : Aqidah Imam Empat karangan Dr. Muhammad bin Abdurrahman AL-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub, MA)