Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Tauhid (2)

Kedua

Pendapat Imam Abu Hanifah tentang penetapan sifat-sifat Allah dan bantahan terhadap golongan Jahmiyah.

1. Imam Abu Hanifah berkata: “Allah tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk. Murka dan Ridha Allah adalah dua dari sifat Allah yang tidak dapat diketahui keadaannya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allah murka dan ridha. Namun tidak dapat dikatakan bahwa muka Allah adalah siksa-Nya dan ridha Allah adalah pahalanya-Nya.

Kita mensifati Allah sebagaimana Allah mensifati diri-Nya sendiri. Allah adalah Esa, Dzat yang pada-Nya para hamba memohon, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada satupun yang menyamai-Nya. Allah juga hidup, berkuasa, melihat dan mengetahui. “Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka yang menyatakan janji setia kepada Rasul. Tangan Allah tidak seperti tangan makhluk-Nya. Wajah Allah tidk seperti wajah-wajah makhluk-Nya.

2. Imam Abu Hanifah berkata: “Allah juga memiliki tangan, wajah, dan diri seperti disebutkan sendiri oleh Allah dalam al-Qur’an. Maka apa yang disebutkan oleh Allah tentang tangan, wajah dan diri menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat yang tidak boleh direka-reka bentuknya. Dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu artinya kekuasannya-Nya atau Nikmat-Nya, karena hal itu berarti meniadakah sifat-sifat Allah, sebagaimana pendapat yang dipegang ahli qadar dan golongan Mu’tazilah

3. Imam Abu Hanifah juga berkata: “Tidaklah pantas bagi seseorang untuk berbicara tentang Dzat Allah. Tetapi hendaknya iya mensifati Allah dengan sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah sendiri. Ia tidak boleh berbicara tentang Allah dengan pendapatnya sendiri. Maha Suci Allah Rabbu Alamin.

4. Ketika ditanya tentang turunnya Allah, Imam Abu Hanifah menjawab: “Allah itu turun tanpa cara-cara seperti halnya turunnya makhluk.

5. Beliau juga berkata: “Dalam berdo’a kepada Allah, kita memanjatkan doa ke atas, bukan kebawah, karena bawah tidak mengandung sifat Rububiyah dan Uluhiyah sedikitpun.

6. Beliau juga berkata: “Allah itu murka dan ridha. Namun tidak dapat disebutkan bahwa Murka itu siksa-Nya, dan ridha Allah itu pahala-Nya.

7. Beliau juga berkata: “Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya, dan makhluk-Nya juga tidak serupa dengan Allah. Allah itu tetap akan selalu memiliki nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

8. Beliau juga berkata: “Sifat-sifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat makhluk. Allah itu mengetahui tetapi tidak seperti mengetahuinya makhluk. Allah itu mampu (berkuasa) tetapi tidak seperti berkuasanya makhluk. Allah itu melihat tetapi tidak seperti melihatnya makhluk. Allah itu mendengar tetapi tidak seperti mendengarnya makhluk. Dan Allah itu berbicara tetapi tidak seperti berbicaranya makhluk.

9. Beliau juga berkata: “Allah itu tidak boleh disifati dengan sifat-sifat makhluk.

10. Beliau berkata: “Siapa yang mensifati Allah dengan sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir.

11. Beliau juga berkata: “Allah memiliki sifat-sifat dzatiyah dan fi’liyah. Sifat dzatiyah Allah adalah hayah (hidup), qudrah (mampu), ‘ilm (mengetahui), sama’ (mendengar), bashar(melihat), dan iradah (kehendak). Sedangkan sifat-sifat fi’liyah Allah adalah menciptakan, memberi rezki, membuat, dan lain-lain yang berkaitan dengan sifat-sifat perbuatan. Allah tetap dan selalu memiliki asma’-asma’ dan sifat-sifat-Nya.

12. Beliau juga berkata: “Allah tetap melakukan (berbuat) sesuatu. Dan melakukan (berbuat) itu merupakan sifat azali. Yang melakukan (berbuat) adalah Allah, yang dilakukan (objeknya) adalah makhluk dan perbuatan Allah bukanlah makhluk.

13. Beliau juga berkata: “Siapa yang berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku itu dimana, dilangit atau dibumi”, maka orang tersebut telah menjadi kafir. Demikian pula orang yang berkata: “Tuhanku itu diatas ‘arsy. Tetapi saya tidak tau ‘arsy itu dilangit atau dibumi.

14. Ketika ada seorang wanita yang bertanya kepada beliau: Dimana Tuhan Anda yang Anda sembah itu?. Beliau menjawab: “Allah ada dilangit, tidak dibumi”. Kemudian ada seorang bertanya: “Tahukan Anda bahwa Allah berfirman “Allah itu bersama kamu (Surat al hadid : 44)?”

Beliau menjawab: “Ungkapan itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang, “Saya akan selalu bersama-mu”, padahal kamu jauh darinya.

15. Beliau juga berkata: : bahwa Allah itu mempunyai sifat kalam (berfirman) sebelum Allah berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam

16. Kata beliau: “Allah berfirman dengan kalam-Nya, dan kalam adalah sifat azali.

17.Beliau berkata: “al-Qur’an itu kalam Allah tertulis didalam Mushhaf dan tersimpan (terjaga) didalam hati, terbaca oleh lisan, dan diturunkan kepada Nabi Muhammad

18. Kata beliau lagi, “Alqur’an itu bukan makhluk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: