1. Perselisihan Ummatku adalah rahmat – Tidak ada asal-usulnya

Berkata Syaikh al-Albani rahimahullah: “Para ulama ahli hadits telah mengerahkan segala kemampuan mereka untuk menemukan sanad hadits ini, namun mereka tidak bisa menemukannya. Sampai-sampai Imam as-Suyuthi berkata: “Barangkali hadits ini diriwayatkan di sebagian kitab para ulama yang tidak sampai kepada kita.” Namun menurutku ucapan ini jauh dari kebenaran, karena mempunyai konsekuensi bahwa ada beberapa hadits yang hilang dari ummat ini, dan ini sama sekali tidak boleh diyakini oleh seorang muslim.”

Berkata Imam as-Subki rahimahullah: “Hadits ini tidak dikenal oleh para ulama, dan saya pun tidak menemukan sanadnya, baik sanad yang shahih, lemah maupun palsu.”

Ucapan ini disepakati oleh Syaikh Zakaria al-ashari dalam ta’liq Beliau atas kitab Tafsir Baidhawi.

Makna hadits inipun munkar menurut para ulama. Berkata Imam Ibnu Hazm rahimahullah dalam al-Ahkam fi Ushulil Ahkam 5/64 setelah beliau mengisyaratkan bahwa ucapan diatas itu bukan hadits: “Ucapan ini sangat rusak, karena seandainya perselisihan itu merupakan sebuah rahmat, niscaya persatuan itu merupakan adzab, dan ini tidak pernah dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak ada didunia ini melainkan persatuan dan perselisihan, juga tidak ada melainkan rahmat dan adzab.

Diantara dampak negatif dari hadits ini adalah bahwa sebagian kaum muslimin menyetujui adanya perselisihan sengit yang terjadi diantara empat madzhab fiqih, mereka tidak berusaha mengembalikan permasalahannya kepada al-Qur’an dan as-Sunnah ash-Shahihah sebagaimana yang diperintahkan oleh imam-imam mereka, bahkan mereka berpandangan bahwa madzhab para ulama itu semacam syariat yang berbeda-beda, mereka katakan hal ini padahal mereka mengetahui bahwa pertentangan yang terjadi antara mereka tidak mungkin disatukan kecuali dengan menolak sebagian pendapat yang bertentangan dengan dalil serta menerima yang sesuai dengan dalil. Namun mereka tidak melakukan hal itu, yang mana sebenarnya perbuatan mereka itu berkonsekuensi bahwa syariat Islam itu saling bertentangan, dan ini saja cukup sebagai sebuah dalil bahwa perselisihan ini bukan datang dari Allah, seandainya mereka mau merenungkan firman Allah Ta’ala:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Seandainya al-Qur’an itu datangnya dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapatkan banyak perselisihan” (QS An-Nisa’ : 82)

Ayat ini sangat tegas menunjukkan bahwa perselisihan itu bukan datang dari Allah, maka bagaimana mungkin menjadikannya sebagai sebuah syariat yang diikuti serta memasukkannya sebagai sebuah rahmat yang diturunkan oleh Allah?!

Kesimpulan: Bahwa perselisihan itu sesuatu yang tercela dalam syariat ini, maka wajib menghindarinya sebisa mungkin, karena itu bisa menjadi sebab lemahnya ummat ini. sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan taatlah kalian pada Allah dan Rasul-Nya serta janganlah kalian saling bermusuhan, lalu kalian akan menjadi lemah dan akan hilang kekuatan kalian, dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. (QA al-Anfal : 46)

Adapun Ridha serta menamakannya sebagai sebuah rahmat, maka hal ini jelas-jelas bertentangan dengan banyak ayat-ayat al-Qur’an yang sangat tegas mencelanya, juga hal ini tidak ada sandarannya kecuali hadits ini yang sama sekali tidak ada asal-usulnya dari Rasulullah.

Kalau ada yang bertanya: “Para sahabat pun berselisih, padahal mereka adalah manusia paling utama, apakah mereka juga tercela?”

Pertanyaan ini telah dijawab oleh Imam Ibnu Hazm dalam al-Ihkam 5/67, 68: “Jelas tidak, mereka sama sekali tidak tercela, karena masing-masing dari kalangan para sahabat ingin meniti jalan Allah dan sama-sama ingin mencari kebenaran, maka yang salah mendapatkan satu pahala karena niatnya yang shalih dalam mencari kebenaran serta dihilangkan dosa dari mereka karena mereka sama sekali tidak bermaksud berbuat salah. Adapun bagi yang benar maka dia mendapatkan dua pahala.

Demikian halnya setiap muslim sampai hari kiamat kalau berhadapan dengan sesuatu masalah agama yang tidak diketahuinya, Ancaman diatas hanya berlaku bagi orang yang tidak mau berpegang kepada tali Allah dan sunnah Rasulullah padahal dia mengetahuinya lalu hanya berpegang kepada perkataan si fulan dan si fulan, dan dia hanya taqlid kepadanya, mengajak orang untuk berta’ashub kepadanya serta sengaja menolak al-Qur’an dan as-Sunnah, jika nash itu sesuai dengan pendapatnya maka diambiln sedangkan bila tidak sesuai maka ditinggalkan. Merekalah orang-orang yang tercela.

Disisi lain ada sebagian orang yang sangat lemah keimanan dan agamanya, dia mengikuti setiap yang sesuai dengan hawa nafsunya, dia mengambil setiap keringanan yang disampaikan oleh para ulama, dia hanya ikut-ikutan saja tanpa melihat dasar al-Qur’an dan as-

Sunnah”

(sumber: hadits palsu dan lemah yang populer di Indonesia : ahmad sabiq bin abdul lathif abu yusuf)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: