Larangan Iman Syafi’i Terhadap Ilmu Kalam dan Berdebat dalam Agama

1. Imam al-Harawi meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, katanya, Saya mendengar Imam Syafi’i berkata: “Seandainya ada orang yang berwasiat kepada orang lain untuk mengambil kitab-kitabnya yang berisi ilmu-ilmu keIslaman, sementara diantara kitab-kitab itu ada kitab-kitab Kalam, maka kitab-kitab Kalam ini tidak masuk dalam wasiat, karena Kalam ini tidak termasuk ilmu-ilmu keIslaman.

2. Imam al-Harawi meriwayatkan dari al-Hasan az-Za’farani, katanya, Saya mendengar Imam Syafi’i berkata: “Saya tidak pernah berdiskusi dengan seorangpun dalam masalah Kalam kecuali hanya satu kali saja. Dan itu kemudian saya membaca istighfar, minta ampun dari Allah.

3. Imam al-Harawi meriwayatkan dari ar-Rabi bin Sulaiman, katanya, Imam Syafi’i pernah berkata: “Seandainya saya mau, saya akan membawa kitab yang besar untuk berdiskusi dengan lawan pendapatku. Tetapi untuk berdiskusi tentang masalah Kalam, saya tidak suka dikait-kaitkan dengan Kalam.

4. Imam Ibn Battah meriwayatkan dari Abu Tsaur katanya, Imam Syafi’i pernah berkata kepadaku: “Saya tidak pernah melihat orang yang menyandang sedikitpun tentang Kalam kemudian ia menjadi orang yang beruntung.

5. Imam al-Harawi meriwayatkan dari Yunus al-Mishri, katanya Imam Syafi’i pernah berkata: “Seandainya Allah memberi cobaan kepada seseorang hingga ia melakukan larangan-larangan Allah selain syirik, hal itu masih lebih bagus daripada ia mendapat cobaan dengan terperosok kedalam Ilmu Kalam

(Sumber: Aqidah Imam empat, karangan Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub, MA)

Advertisements

Pendapat Imam Syafi’i Tentang Sahabat

1. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Allah telah memuji para Sahabat Nabi Shallallahu alahi wasalam didalam al-Qur’an, Taurat dan Injil. Dan Nabi Shallallahu alaihi wasalam sendiri telah memuji keluhuran mereka, sementara untuk yang lain tidak disebutkan. Maka semoga Allah merahmati mereka, dan menyambut mereka dengan memberikan kedudukan yang paling tinggi sebagai shiddiqin, syuhada’ dan shalihin.

Mereka telah menyampaikan sunnah Nabi Shallallahu alaihi wasalam kepada kita. Mereka juga telah menyaksikan turunnya wahyu kepada Nabi Shallallahu alaihi wasalam. Karenanya, mereka mengetahui apa yang dimaksud oleh Rasulullah, baik yang bersifat umum maupun khusus, kewajiban maupun anjuran. Mereka mengetahui apa yang kita ketahui dan apa yang tidak kita ketahui tentang Sunnah Nabi. Mereka diatas kita dalam segala hal, ilmu dan ijtihad, kehati-hatian dan pemikiran, dan hal-hal yang diambil hukumnya. Pendapat-pendapat mereka, menurut kita, juga lebih unggul daripada pendapat-pendapat kita sendiri.

2. Imam al-Baihaqi menuturkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman bahwa ia mendengar Imam Syafi’i memandang Abu bakar adalah paling utama diantara semua sahabat, kemudian Umar, Utsman, dan kemudian Ali.

3. Imam al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam, katanya ia mendengar Imam Syafi’i berkata: “Manusia yang paling mulia sesudah Nabi Shallallahu alaihi wasalam adalah Abu bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, dan kemudian Ali radhiyallahu ‘anhum.

4. Iman a-Harawi meriwayatkan dari Yusuf bin Yahya al-Buwaiti, katanya, Saya bertanya kepada Imam Syafi’i: “Apakah saya boleh shalat bermakmum dibelakang orang Rafidhi (Syi’ah)?” Beliau menjawab: “Jangan kamu shalat menjadi makmum orang rafidhi, qadari (penganut paham qadariyah), dan penganut paham murji’aj.” Saya bertanya lagi: “Apakah tanda-tanda mereka itu?” Beliau menjawab: “Orang yang berpendapat bahwa iman itu adalah ucapan saja, maka ia penganut paham Murji;ah. Orang yang berpendapat bahwa Abu Bakar dan Umar itu bukan imam umat Islam adalah penganut paham Rafidhah. Dan orang yang berpendapat bahwa manusia itu mempunyai kehendak mutlak dan dapat menentukan nasibnya sendiri, ia adalah penganut paham Qadariyah.

(Sumber: Aqidah Imam empat, karangan Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub, MA)

Pendapat Imam Syafi’i Tentang Iman

1. Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari ar-Rabi’, katanya, saya mendengar Imam Syafi’i berkata: “Iman itu adalah ucapan, perbuatan, dan keyakinan (I’tiqad) didalam hati. Tahukah kamu firman Allah:
Allah tidak menyia-nyiakan iman kamu” (Al-baqarah:143)

Maksud kata “imanakum” (iman kamu) adalah shalatmu ketika menghadap ke Baitul Maqdis. Allah menamakan Shalat itu Iman, dan shalat adalah ucapan, perbuatan dan i’tiqad.

2. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Muhammad az-Zubairi, katanya, ada seseorang bertanya kepada Imam Syafi’i, “Apakah amal yang paling utama?” Imam Syafi’i menjawab: “Yaitu sesuatu yang apabila hal itu tidak ada maka semua amal tidak akan diterima. “Apakah itu?”, tanya orang itu lagi. Dijawab oleh Imam Syafi’i: “Yaitu iman kepada Allah dimana tidak ada Illah (yang berhak disembah) selain Dia. Iman adalah amal yang paling tinggi derajatnya; paling mulia kedudukannya, dan paling bagus buah yang dipetik darinya.”

Orang itu bertanya lagi: “Bukankah iman itu ucapan dan perbuatan, atau ucapan tanpa perbuatan?” Imam Syafi’i menjawab: “Iman itu adalah perbuatan untuk Allah, dan ucapan itu merupakan sebagian dari amal tersebut.” Ia bertanya lagi: “Saya belum paham bagaimana itu, coba jelaskan lagi.”

Imam Syafi’i menjelaskan: “Iman itu memiliki tingkatan-tingkatan. Ada iman yang sangat sempurna, ada iman yang berkurang, dan ada iman yang jelas kekurangannya dan ada pula iman yang bertambah.” “Apakah iman itu ada yang tidak sempurna, berkurang dan bertambah?” Tanya orang itu. “Ya”, jawab Imam Syafi’i. “Apakah buktinya?”, tanyanya lagi. Imam Syafi’i menjawab: “Allah telah mewajibkan iman atas anggota-anggota badan manusia. Allah membagi iman itu untuk semua anggota badan. Tidak ada satupun anggota badan manusia kecuali telah diserahi iman secara berbeda-beda. Semua itu berdasarkan kewajiban yang ditetapkan Allah.

Hati misalnya, dimana manusia dapat berpikir dan memahami sesuatu, merupakan pemimpin badan manusia. Tidak ada gerak anggota badan kecuali berdasarkan pendapat dan perintah hati. Begitu pula kedua biji mata, dimana manusia melihat, daun telinga dimana manusia mendengar, kedua tangan yang dipakai untuk memukul, kedua kaki yang dipakai untuk memenuhi keinginan hatinya, lisan yang dipakai untuk berbicara dan kepala dimana terdapat wajah.

Allah mewajibkan kepada hati akan hal-hal yang tidak diwajibkan kepada lisan. Pendengaran diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan kepada mata. Kedua tangan juga mendapat kewajiban yang tidak sama dengan kaki. Begitu pula farji mendapat kewajiban yang tidak sama dengan wajah.

Adapun kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada hati adalah iman, maka beriqrar (mengakui), mengetahui, meyakini, ridha, menyerahkan diri, bahwa tidak ada Tuhan (yang Haq) selain Allah, Maha Esa Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak memiliki istri dan anak. Dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, serta mengakui semua yang datang dari Allah, baik Nabi maupun kitab. Semua itu merupakan hal-hal yang diwajibkan Allah kepada hati, dan hal itu adalah amal (pekerjaan) hati:

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (an-Nahl:106)

Maka keimanan seperti itulah yang diwajibkan oleh Allah kepada hati, dan merupakan pekerjaan hati; dan juga merupakan pangkal iman.

Allah juga mewajibkan kepada lisan, yaitu mengucapkan dan menyebutkan apa yang telah diiqrarkan dan diyakini dalam hati. Allah berfirman:

Ucapkanlah, “Kami beriman kepada Allah.” (al-Baqarah: 136)

Itulah ucapan-ucapan yang diwajibkan Allah kepada lisan, yaitu mengatakan apa yang ada didalam hati. Dan hal itu merupakan pekerjaan lisan, dan keimanan yang diwajibkan kepadanya.

Allah juga mewajibkan kepada telinga untuk tidak mendengarkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Allah berfirman:

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” (an-nisa’: 140)

Namun ada pengecualian, bila seseorang itu lupa sehingga duduk bersama orang-orang kafir itu. Allah berfiman:

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (An’am: 68)

Imam Syafi’i kemudian mengatakan: “Sekiranya iman itu ada satu, tidak ada yang tambah dan kurang, maka tidak ada kelebihan apa-apa bagi seseorang, dan semua manusia itu sama. Tetapi, dengan sempurnanya iman, orang mukmin akan masuk ke surga, dan dengan tambahnya iman pula orang-orang mukmin akan memperoleh keunggulan didalam surga. Sebailiknya bagi orang-orang yang imannya kurang, mereka akan masuk neraka.

Kemudian Allah mendahulukan orang beriman lebih dahulu. Manusia akan memperoleh haknya berdasarkan kedahuluannya dalam beriman. Setiap orang akan memperoleh haknya, tidak dikurangi sedikitpun. Yang datang belakangan tidak akan didahulukan; yang tidak muliah (karena rendahnya iman) tidak akan didahulukan daripada yang mulia (karena ketinggian iman). Itulah kelebihan orang-orang yang terdahulu dari ummat ini. Seandainya orang-orang yang beriman lebih dahulu itu tidak mempunyai kelebihan, niscaya akan sama nilainya dengan beriman belakangan dengan orang-orang yang beriman lebih dahulu.

(ditulis dengan ringkasan: (Sumber: Aqidah Imam empat, karangan Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-Khumais, diterjemahkan oleh Ali Mustafa Yaqub, MA)

Previous Older Entries