Malaikat – Tidak Makan Dan Tidak Pula Minum

Malaikat tidak membutuhkan makanan dan minuman manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada kita bahwa para malaikat datang menemui Ibrahim dalam bentuk seorang manusia. Ibrahim menghidangkan makanan kepada mereka, namun tangan mereka tidak mau menyentuhnya. Ibrahim merasa takut, namun ketika tahu siapa sebenarnya mereka, maka Ibrahim tidak lagi merasa takut dan heran.

Sudahkah datang kepadamu berita tamu Ibrahim yang dimuliakan? Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka berkata, “Salam”. Ibrahim berkata, “Salam”. Mereka kaum yang belum dikenal. Ibrahim pergi kepada keluarganya, kemudian datang (dengan hidangan) anak sapi gemuk, lalu dihidangkan kepada mereka (sambil) berkata, “Kenapa tidak kamu makan?” Maka Ibrahim merasa ketakutan dari mereka (karena tidak mau makan). Mereka berkata, “Janganlah engkau takut”. Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (akan lahirnya) seorang anak laki-laki yang berilmu (Ishaq) [Adz-Dzariyat: 24-28)

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

Maka tatkala Ibrahim melihat tangan mereka tidak menjamahnya, dia memandang aneh mereka dan merasa takut kepada mereka. Utusan itu berkata, “Janganlah engkau takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth” [Hud: 70)

Tidak Jenuh Dan Tidak Pula Letih

Para malaikat selalu beribadah kepada Allah, melakukan ketaatan kepada-Nya serta melaksanakan perintah-perintah-Nya tanpa lelah dan merasa bosan, tidak seperti halnya manusia. Dalam mensifati malaikat ini, Allah berfirman,

Mereka bertasbih siang dan malam tanpa henti [Al-Anbiya: 20).

Yang dimaksud  dengan kata la yafturun (tidak henti) dalam ayat ini adalah la yadh’afun (tidak merasa lelah).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman,

Maka mereka (malaikat) di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di waktu malam dan siang dan mereka tidaklah merasa jemu [Fushilat: 38)

Arti kata la yas’amun adalah la yamalun (tidak merasa bosan). Demikianlah orang-orang arab mengartikan kata tersebut.

Tempat Tinggal Malaikat.

Tempat tinggal pada malaikat adalah di langit.

Allah berfirman,

Semua langit hampir pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah) dan malaikat-malaikat bertasbih memuji Tuhannya [Asy-Syura: 5).

Allah menyatakan bahwa mereka berada di sisi-Nya.

Maka jika mereka berlaku sombong, maka mereka (malaikat) yang ada di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-nya di waktu malam dan siang dan mereka tidaklah merasa jemu [Fushilat: 38].

Mereka turun ke bumi atas perintah Allah untuk melaksanakan tugas dan mandat yang diembankan kepada mereka.

Dan tiadalah (Jibril) turun melainkan dengan perintah Tuhanmu [Maryam: 64].

Mereka lebih banyak turun dalam kesempatan khusus, seperti lailatulqadar.

Lailatulqadar itu lebih baik dari seribu bulan, malaikat dan Ruh (Jibril) turun padanya dengan izin Tuhannya membawa segala perintah [Al-Qadar 3-4).

Advertisements

Perbedaan Bentuk Penciptaan Dan Kedudukan Malaikat

Para malaikat tidaklah sama, baik berkenaan dengan bentuk penciptaannya maupun kedudukannya. Sebagaian malaikat ada yang bersayap dua dan sebagian lagi ada yang bersayap tiga. Jibril sendiri mempunyai 600 sayap. Dihadapan Allah, mereka juga mempunyai kedudukan yang berbeda-beda.

Tidak seorangpun diantara kami (malaikat) melainkan baginya kedudukan tertentu (Ash-Shafat: 164)

Berkenaan dengan Jibril, Allah berfirman :


Sesungguhnya (Alquran) itu adalah firman Allah (yang dibawa) utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan disisi yang mempunyai Arasy yang tinggi derajat (At-Takwir: 19-20)

Maksudnya Jibril ini mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia disisi Allah.

Para malaikat yang paling utama adalah yang hadir dalam perang Badar. Dalam Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Rafa’ah bin Rafi’ bahwa Jibril datang menemui Nabid an bertanya,

“Apa pandanganmu terhadap orang-orang yang turut serta dalam perang Badar?” Beliau menjawab , ‘orang-orang terbaik dari kami’. Jibril kemudian berkata: ‘Demikian pula, menurutku, para malaikat yang ikut hadir dalam perang Badar adalah para malaikat pilihan.’ “


Bukan Laki-Laki Bukan Pula Perempuan

Diantara sebab kesesatan manusia ketika berbicara mengenai dunia gaib adalah bahwa sebagian orang yang berupaya menimbang dunia gaib ini dengan timbangan-timbangan manusia yang bersifat keduniaan. Maka sampai ada yang menulis artikel disebuah harian dengan penuh kejeranan bahwa Jibril datang kepada Nabi setelah meminta jawaban dari Allah untuk disampaikan kepada Nabi. Ia mengatakan: Bagaimana ia tiba dalam waktu sekejap itu, yang sungguh diluar perhitungan akal. Cahaya saja membutuhkan jutaan tahun cahaya untuk sampai kepada bintang-bintang dilangit?! Orang ‘miskin’ sama sekali tidak mengerti. Permasalahannya adalah seperti seekor lalat yang ingin mengukur kecepatan pesawat terbang dengan ukurannya sendiri. Jika saja ia mau berfikir, tentu ia akan tahu bahwa alam malaikat mempunyai neraca sendiri yang berbeda sama sekali dengan neraca kita.

Dalam persoalan ini, kaum musyrikin Arab telah tersesat, karena beranggapan malaikat itu adalah wanita. Pendapat yang sangat jauh dari yang sebenarnya ini dicampur dengan khurafat yang lebih besar lagi, dimana mereka menganggap bahwa malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah.

Alquran telah membantah dua hal ini, Alquran menjelaskan bahwa pandangan mereka itu sama sekali tidak bersandar kepada dalil yang benar. Perkataan ini sangatlah kacau. Yang lebih aneh lagi, mereka menisbatkan anak-anak perempuan kepada Allah, namun mereka sendiri tidak suka kepada anak-anak perempuan. Manakala ada salah seorang diantara mereka yang dikaruniai anak perempuan, maka muka mereka menjadi kecut dan tak berkenan hati, bahkan marah-marah. Terkadang mereka bersembunyi dari pergaulan masyarakat, karena mereasa malu atas kabar kelahiran anaknya yang berkelamin perempuan. Perasaan ini terus berkembang, sampai pada puncaknya mereka tega mengubur hidup-hidup bayi perempuan mereka. Perhatikanlah baik-baik ayat berikut, yang menjelaskan khurafat dan sekaligus membantah ahli khurafat itu.

Maka tanyakanlah (hai Muhammad) kepada mereka, “Apakah (patut) bagi Tuhan engkau anak-anak perempuan sedang untuk mereka anak laki-laki. Atau apakah Kami menciptakan malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikannya?” Ketahuilah, sesungguhnya mereka dari kedustaannya mengatakan, “Allah mempunyai anak.” Dan sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Apakah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Mengapa kamu? Bagaimana kamu memutuskan itu? tidakkah kamu mendapat peringatan? atau adakah bagimu bukti yang nyata?  (As-Shafat: 149-156)

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan perkataan mereka ini sebagai saksi, dimana Allah akan memintai pertanggungjawaban mereka. Diantara dosa terbesar adalah mengatakan terhadap Allah tanda dasar pengetahuan.

Dan mereka menjadikan mereka (menganggap) malaikat-malaikat itu perempuan, yang mereka (malaikat) itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kesaksian mereka akan ditulis dan mereka akan ditanya (Az-Zukhruf: 19)

(Insyaallah bersambung…)

Allah menciptakan mereka dalam paras yang tampan lagi mulia. Allah berfirman mengenai Jibril,

yang mengajarinya (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai mirah, lalu dia menjelma dengan sempurna (An-Najm: 5-6)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dzu mirah (mempunyai mirah) adalah mempunyai paras yang tampan. Sedangkan Qatadah mengatakan, “Berperawakan tinggi dan tampan.” Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa dzu mirah adalah mempunyai kekuatan (hebat). Kedua pendapat ini tidaklah saling bertentangan, karena disamping kuat, Jibril juga berwajah tampan.

Sudah menjadi pemahaman umum di kalangan manusia bahwa malaikat itu mempunyai rupa yang indah dan tampan, sedangkan setan mempunyai rupa yang buruk. Oleh karena itu, sudah menjadi kebiasaan orang pula menyerupakan ketampanan seseorang dengan malaikat. Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh para wanita yang menyaksikan ketampanan Nabi Yusuf Ash-Shidiq.

Maka tatkala perempuan itu mendengar ejekan mereka, dia mengundang mereka dan disediakannya tempat duduk, kemudian diberinya sebuah pisau kepada mereka masing-masing, lalu dia berkata (kepada Yusuf), “keluarlah menampakkan diri kepada mereka,” Maka tatkala mereka melihatnya, mereka kagum kepadanya dan melukai jari tangannya, seraya berkata, “Maha sempurna Allah, ini bukan manusia. Ini tidak lain hanya malaikat yang mulia” (Yusuf: 31)


Adakah Bentuk Dan Paras Malaikat Sama Dengan Manusia?

Imam Muslim dalam Sahihnya, demikian juga Tirmidzi dalam Sunannya, meriwayatkan hadits dari Jabir r.a. bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda,

Diperlihatkanlah kepadaku para Nabi. Ternyata Nabi Musa itu seperti orang pada umumnya, namun cukup garang. Aku juga melihat Isa putra Maryam. orang yang pernah aku lihat paling mirip dengannya adalah Urwah bin Mas’ud. Aku juga melihat Ibrahim, dan orang yang paling mirip dengannya adalah saya sendiri. Aku melihat Jibril, dan orang yang aku lihat paling mirip dengannya adalah Dihyah.

Apakah kemiripan antara Jibril dan Dihyah Al-kalbi ini adalah dalam paras Jibril yang sesungguhnya ataukah ketika Jibril menjelma dalam bentuk manusia? Pendapat yang lebih kuat adalah yang terakhir. Ini berdasarkan riwayat yang akan kita kemukakan nanti bahwa Jibril seringkali menjelma dalam bentuk manusia berparas mirip Dihyah.

(Insyaallah Bersambung…)

Previous Older Entries